
“Sini duit lo!” Putra mengambil tindakan, merogoh kantong seragam putih Adrian, tetapi tak ia temukan sepeserpun uang disana.
“Duit lo mana, Bangsat!” Putra meraih kerah seragam Adrian, lalu melintirnya, memaksa lelaki itu bangkit dari duduk.
Meskipun telah diperlakukan dengan sangat kasar, Adrian malah semakin menyeringai dan tertawa-tawa kecil sambil membuang muka kesamping kanan. Tak lagi degup jantungnya berontak seperti hari-hai sebelumnya ia disiksa dengan amat kejam.
“Putra, bawa dia ke gudang!” titah Rico sambil berjalan, menyibak keramaian para siswa yang berkumpul didepan pintu kelas.
“Ikut lo, Cupu!” tangan kanan Putra memegang leher Adrian, lalu tangan kirinya membelenggu kedua tangan sang lelaki.
Sebenarnya, Putra heran dengan tingkah Adrian yang tidak biasa. Musuh bebuyutannya itu tidak melawan ataupun berontak. Ia tidak merasakan adanya perlawanan akan terjadi dari sisi Adrian.
__ADS_1
“Minggir kalian semua!” bentak Rico pada para siswa yang menyaksikan aksinya.
“mampus lo!”
“Rico, gue dukung lo! Tampol yang kenceng!”
Tak satu pun yang membela Adrian, bahkan setiap mata yang terpanah pada dirinya hanya memberikan kesan jijik dan aneh. Adrian sudah biasa dengan hal seperti itu, tak lagi ia pikirkan. Dulu, ia memang sampai-sampai membuat kepalanya terasa akan meledak. Akan tetapi, sekarang sedetik pun ia tidak peduli dengan pandangan para siswa lain kepadanya.
Setelah sampai digudang penyimpanan, tepat disamping toilet pria, Putra mendorong Adrian hingga tubuh lelaki itu terhempas di atas lantai yang berdebu. Ikshan berjalan untuk menutup pintu dan menjaga pintu, sedangkan Putra berdiri di belakangnya, sementara membiarkan Rico melakukan aksi.
“Berdiri lo!” titah lelaki berambut panjang hingga menutupi telinga itu dengan nada tegas sambil menatap dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Adrian tak menampakkan wajah takut sedikit pun, malah ia berdiri sesuai dengan perintah Rico, lalu menatap sang berandal sekolah, masih tergores senyum miring di bibirnya.
“Jadi, sekarang elo udah mulai berani sama gue? Lo mau gue perlakukan dengan .....“
“Gue udah nggak perduli. Dan ..... ya, gue nggak takut sama lo atau pun anak-anak buah elo.” jelas Adrian dengan datar. Kali ini, ia begitu tenang, menghembus dan menghela nafasnya dengan pelan.
Bahkan kini gaya bicaranya telah jauh berubah dari sebelumnya ia menggunaan panggilan `aku` menjadi `gue`. Hal itu membuat Rico tak habis pikir dengan musuhnya itu. Baru saja bebrapa minggu yang lalu Adrian ketakutan setengah mati kepadanya, tapi sekarang malah tak terlihat ketakutan-ketakutan itu diwajah lelaki tersebut. Sempat Rico berpikir bahwa Adrian kerasukan makhluk halus, tetapi sayangnya itu tak mungkin terjadi karena dirinya pun tidak percaya dengan hal semacam itu.
“Terus elo sekarang seakan-akan bisa mengalahkan gue?!” bentak Rico sambil meremas kerah seragam lelaki dihadapannya hingga klecek.
Adrian tidak gentar, tatapannya masih sama. Sambil menghembuskan nafas tenang, ia mengangkat tangan dan meletakkanya diatas tangan Rico yang sedang meremas kerah seragamnya, seolah itu adalah tanda untuk meminta Rico melepaskan cengkramannya.
__ADS_1
Rico yang menatap tangan Adrian menyentuh tangannya lantas semakin bertambah emosi sehingga dengan spontanitas melepaskan hantaman, mengarahkan kepalan tangan kiri ke arah wajah Adrian. Namun, dengan lugas Adrian melepaskan tangan Rico dari kerah bajunya sehingga ia pun bisa menunduk dengan cepat untuk menghindari pukulan keras lelaki itu.