Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 32


__ADS_3

Adrian berlari dari jarak lima meter, lalu melompat dengan mengarahkan terjangan ke dada Wira. Lelaki bertubuh tinggi dengan anting berwarna emas di telinga itu kelimpungan melihat gerakan Adrian. Hasilnya, ia tidak tahu harus menangkis atau menghindar. Terjangan Adrian pun tepat mengenai dada Wira, membuatnya roboh ke belakang sementara Adrian menindih tubuh tingginya.


Wira merasa sesak setelah menerima serangan itu. Ia menjadi sangat sulit bernapas.


“Mampus lo sekarang!”


Adrian tidak punya belas kasihan. Dengan kondisi lawannya yang sudah tidak memungkinkan untuk bangkit dan melawan itu, ia menjejali satu pukulan yang sangat keras pada rahang Wira. Lelaki bertubuh tinggi itu pun terkapar pingsan. Tugas Adrian telah selesai, seringainya semakin menjadi.


Adrian bangkit membelakangi tubuh Wira yang terkapar. Ia menyaksikan para anggotanya masih berkutat dengan pertarungan.


“BERHENTI!” teriaknya sehingga membuat semua yang masih sibuk saling menyerang pun terhenti dan mengarahkan tatapan ke arah Adrian. “Bos kalian sudah gue kalahkan! Nggak ada alasan lagi kalian bertarung. Lihat, beberapa teman kalian juga udah nggak bisa berdiri.”


Kelompok lawan menyaksikan beberapa teman dan bosnya yang ternyata benar tidak bisa melanjutkan pertarungan lagi.


Adrian mengambil sebuah kursi utuh yang ditumpuk di ruangan ini, mepet dengan dinding, lalu duduk.


“Kalau kalian merasa bisa menang melawan anggota lain, lanjutkan perkelahian kalian! Tapi, kalau merasa nggak mampu, nyerahlah dan tunduk sama gue.”

__ADS_1


Suasana menjadi hening. Semua yang melihat ke arah Adrian, lantas menundukkan wajahnya, lalu menatap teman-teman mereka yang masih bertahan untuk menyepakati pilihan yang seharusnya diambil.


Di depan sana, Rian menyeringai sambil menatap Victor. “Nyerah atau lo kalah?” tanya Rian.


Rico, Putra dan Ikhsan juga sama, mereka menatap lawan yang belum berhasil mereka jatuhkan, lalu bertanya, “Nyerah atau lanjut?”


Adrian menaikkan paha kanan di atas paha kiri. Ia mencoba santai dengan napas yang tenang.


“NYERAH ATAU KALAH?!” tanyanya dengan teriakan yang menggema di seluruh koridor bangunan.


Rian semakin menyeringai melihat tindakan Victor, lalu tertawa bergelak setelahnya.


Melihat Victor mengambil tindakan pasrah, semua anggota mengikuti, kemudian duduk di lantai.


Lagi-lagi Adrian mampu menguasai kelompok berandal yang juga merupakan salah satu paling ditakuti di SMA Bakti Siswa ini.


Suasana yang membalut seluruh ruangan menjadi begitu canggung hingga beberapa menit terakhir.

__ADS_1


 


Cukup lama Wira gentayangan di alam bawah sadar. Perlahan-lahan ia membuka mata. Yang ia dapati, perkelahian telah usai. Dalam hati , ia jadi bertanya-tanya kenapa para bawahannya yang duduk di lantai sambil menunduk?


Wira memaksa tubuhnya bangkit dan berdiri. Memang, kepala masih ia rasakan pening. Ia sempoyongan ketika mencoba melangkah, tetapi kemudian terhenti saat melihat Adrian sedang duduk seperti seorang raja yang disembah oleh anggotanya sendiri.


Wira cukup membelalak melihat momen itu dan memutuskan melemparkan tanya kepada semuanya. “Ada apa ini?”


Dengan wajah kebingungan Wira bergantian melihat Adrian dan para anggotanya yang duduk membisu.


“Lo bisa lihat sendiri, kan, Goblok!” sahut Rian.


“Gue nggak tanya lo!”


“Bawahan elo udah nggak sanggup. Bosnya aja kalah, gimana sama mereka? Udahlah, lo juga ikut nyerah aja,” cetus Rico yang berdiri di samping Adrian sambil bersedekap tangan.


Mendengar perkataan Rico, Wira kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling, menyaksikan betapa wajah-wajah lesu para anggotanya. Tak berselang lama, ia kembali menghadap ke Adrian setelah sejenak ikut tertunduk. Lelaki tinggi itu mengembuskan napas pasrah, lalu berkata, “Oke. Gue nyerah.” Wira akhirnya bertekuk lutut di hadapan Adrian dan semua anggota.

__ADS_1


__ADS_2