Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 14


__ADS_3

“Hanya untuk kali ini. Lain kali, kalian bayar sendiri,” lanjut Adrian sembari duduk di kursi, tepat di depan meja bar. Ia acungkan tangan untuk mendapatkan perhatian dari bartender yang tengah sibuk meracik minuman.


“Lo mau minum apa?” tanya Adrian kepada Rian yang duduk pada meja di belakangnya.


Rian hanya melengos sambil memperlihatkan wajah kesal kepada Adrian. Tentu saja, si Auman Singa belum bisa menerima Adrian bergabung bersama kelompoknya, bahkan menjadi ketua yang harus ia patuhi perintahnya.


“Kenapa lo?” Adrian meneliti raut wajah Rian sembari menaikkan sebelah alis.


Auman Singa jelas tidak merespons dengan kata-kata, hanya tersenyum kecut dan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


“Vodka,” ucap Adrian kepada bartender sambil membentuk jarinya seperti simbol peace.


Tidak lama menunggu, minuman yang dipesan Adrian telah tersedia di hadapan, ia bawa menuju meja tempat Rian sedang duduk sambil memainkan ponsel.


“Nih, minuman buat lo.” Sambil duduk, Adrian meletakkan segelas Vodka di depan Rian dan segelas lagi ia letakkan di hadapanya. “Kenapa lo? Masih nggak terima kalau gue sekarang yang jadi ketua lo?”


Adrian menenggak Vodka dengan penuh penghayatan. Lalu meletakkannya kembali.


“Bukan urusan lo,” jawab Rian ketus.

__ADS_1


“Sekarang semua jadi urusan gue. Gue adalah ketua di kelompok ini. Saat gue bertanya, artinya elo harus bisa menjawab.” Kembali Adrian menenggak Vodka hingga tandas. Ia mengeluarkan benda itu lagi dari saku celana. “Atau ... lo mau benda ini menancap di bagian tubuh lo mana pun gue mau?”


Tangan Rian terangkat bersamaan dengan gelas yang ia pegang dan meneguk minuman miliknya. “Oke. Gue masih nggak bisa nerima keberadaan elo.”


“Kenapa? Lihat wajah mereka yang ceria. Itu artinya mereka sudah menerima keberadaan gue sebagai ketua yang baru.” Tangan Adrian mengibas, mengitari seluruh ruangan bar, menunjukkan kepada Rian wajah-wajah ceria anggota lainnya.


Setelah menghabiskan minuman yang tersisa, Rian mengarahkan sebuah tatapan tajam. Ia letakkan gelas dengan penuh penekanan. “Oke, gue akan berusaha nerima elo.”


Usai melontarkan kalimat itu, pembicaraan mereka berlanjut pada bermacam-macam pembahasan lainnya. Cukup lama, bahkan keduanya telah beberapa kali memesan minuman lagi.


“Gue punya saran. Bagaimana kalau kita mencari markas dan membentuk sebuah perkumpulan?” Rian angkat suara.


“Malak?” usul Rian.


“Jangan bodoh. Duit dari malak nggak akan bisa membiayai seluruh anggota.” Adrian mengembuskan napas panjang. Seketika ia tampak seperti mendapatkan suatu ide. “Gue punya ide.”


Rian mengangkat alisnya dan menunggu Adrian memberikan ide yang ia dapat. Namun, Adrian lantas menolehkan pandangan, matanya tampak mencari-cari di antara para anggota. Mata Adrian terhenti pada dua sosok lelaki, Rico, Putra dan Ikshan. Sambil mengacungkan tangannya, ia memanggil, “Rico! Putra! Ikshani!”


Ketiga lelaki itu segera menoleh ke arah Adrian, lantas berjalan menghampiri.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Rico.


“Rian punya usul agar kita membentuk sebuah perkumpulan sekaligus markas, tapi kita nggak punya cukup duit untuk itu.”


“Lalu?” Putra menimpali.


“Gue perintahkan kalian berdua untuk masuk ke jajaran SMA dan mengendalikan semua berandal yang ada.” Adrian menyeringai sambil menatap Rico, Putra dan Ikshan. “Gimana?” tanyanya memastikan.


“Oke. Gue nggak keberatan. Gimana sama kalian, Put, shan?”


"Kalau gue juga oke."


“Gue juga oke.”


“Sepakat.” Adrian kini kembali menghadap Rian di hadapan. “ian, gue percayakan perekrutan sama lo. Misi ini harus sukses besar. Kalau sampai lo nggak bisa, gue bakal menghukum lo.”


Rian mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk-anggukkan kepala. “Oke. Gue akan bertanggung jawab.”


Rencana tersebut akhirnya matang dan akan segera dilaksanakan oleh Rian. Meskipun awalnya ia merasa tidak bisa menerima Adrian di dalam kelompok, tetapi sedikit demi sedikit ia merasa bahwa Adrian orang yang istimewa dan mempunyai kemampuan yang tidak diragukan lagi.

__ADS_1


__ADS_2