
BAB 3
Setiap siswa yang mengenal Adrian sebagai anak lelaki cupu memang belum mengetahui perubahan yang terjadi pada lelaki itu. Namun, Adrian tidak perlu memperkenalkan dirinya sebagai orang baru yang sekarang menjadi seorang berandal, terlebih telah mengalahkan Rico, Putra dan Ikshan. Namun, hal baru itu dapat diketahui dengan mudah oleh siswa lain dari penampilan Adrian yang biasanya terlihat cupu, kini tak peduli dengan kerapian. Bahkan, ia akhir-akhir ini sangat jarang menyendiri di kelas dan membaca novel seperti apa yang setiap hari ia lakukan. Ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan Rico, Putra dan Ikshan sebagai satu komplot berandalan berpengaruh di SMP Nusa Bangsa.
Sepulang sekolah, Adrian melangkah pelan sambil memasukkan kedua tangan di saku celana. Sesekali kakinya menendang beberapa batu yang ia temukan tergeletak di jalan. Dengan tidak sengaja salah satu batu kerikil mengenai punggung salah seorang siswa yang tampak tidak berasal dari SMP Nusa Bangsa. Adrian bahkan menyadari akibat perbuatannya itu hingga menghentikan langkah. Ia tatap lamat lelaki yang bertubuh cukup tinggi dengan mata sipit. Mereka beradu pandang. Tak lama kemudian, lelaki itu menghampiri Adrian, membawa sebuah perasaan kesal yang jelas terlihat dari kerutan di dahi.
“Lo yang nimpuk gue pakai batu?” tanya lelaki itu datar.
Memang, tinggi tubuhnya jauh melebihi Adrian sehingga membuat Adrian harus mendongak untuk menatap wajah sang lelaki.
“Woi! Gue nanya ke elo! Buruan jawab! Jangan cuma diem!” bentaknya karena Adrian terlihat seperti mengacuhkan pertanyaan yang lelaki itu lontarkan.
__ADS_1
“Emang gue. Lalu?” cetus Adrian begitu santai, matanya masih lamat menatap sang lelaki.
Sambil meraih kerah seragam Adrian, lelaki itu berujar, “Berani lo sama gue?!” Diacungkannya tinju di depan wajah Adrian.
Akan tetapi, Adrian tidak tampak ketakutan meski dengan ancaman bahwa sang lelaki akan menghantam wajahnya menggunakan kepalan besar itu.
“Sama sekali gue nggak takut. Mau apa lo?”
Kesal karena tidak bisa mengenai wajah Adrian, lelaki bertubuh tinggi kembali mengayunkan tinju dengan memutar badan sebab Adrian yang berada di belakangnya. Masih tak dapat menggapai satu pun anggota tubuh Adrian.
Entah dari mana Adrian belajar, tetapi ia bergerak menghindar seperti seseorang yang profesional dalam bela diri. Bahkan kuda-kuda yang digunakan oleh Adrian terkesan begitu kokoh sehingga begitu sulit untuk dijatuhkan.
__ADS_1
“Anak sekolah mana lo?!” tanya lelaki bertubuh tinggi sambil terengah-engah. Ia turunkan tinjunya dan mencoba berdiri dengan tegak, menatap Adrian seakan meneliti wajah bahkan mengingat lekuk wajah Adrian.
“SMP Nusa Bangsa,” jawab Adrian singkat.
“Gue bakal inget muka lo! Tunggu dan gue akan balik ngasih elo pelajaran.”
Setelah meludah sambil menunjuk Adrian dengan tangan kiri, lelaki bertubuh tinggi itu pergi meninggalkan Adrian yang hanya menampakkan wajah datar. Tak sedikit pun rasa takut menghantui pikirannya, malah ia pun menyeringai sambil melihat sang lelaki menghilang dari pandangannya.
................
Setelah melangkah cukup jauh, lelaki bertubuh tinggi yang diketahui namanya adalah Viky, ia terhenti di depan gerbang Sekolah Menengah Pertama Nusantara. Terdapat sekelompok remaja sedang berkumpul. Setelah salah seorang siswa yang tampak berasal dari SMP Nusantara itu menyadari kehadiran Viky, ia semringah dan terlihat menunggu Viky berbicara.
__ADS_1