Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 17


__ADS_3

“Gue punya tawaran bagus sebelum lo memutuskan kalah dari gue.”


Aris menunggu Rian melanjutkan.


“Kalau elo mau gabung dengan anggota gue untuk membentuk sebuah kelompok besar, lo nggak akan malu terlihat lemah di hadapan anak-anak buah lo. Gimana?”


Aris tertawa lagi, kali ini lebih bergelak dari sebelumnya sampai-sampai air mata muncul di sudut mata besarnya.


“Gimana? Lo lebih memilih malu di hadapan anak-anak buah lo atau—“


“Gue menolak!”


Hening. Baik Rian maupun Yosi tak lagi bersuara dalam beberapa detik terakhir. Mata mereka kembali beradu pandang.


“Satu lawan satu,” kata Rian buka suara sambil memasang kuda-kuda. “Kalian bertiga mundur. Kalau terjadi apa-apa sama gue, baru kalian bertindak.”


Segera Rico, Putra dan Ikhsan melangkah mundur, memberikan ruang untuk perkelahian Rian dengan Aris.

__ADS_1


Tak berselang lama, keduanya berlari saling mencengkeram. Rian melompat dan coba meninju kepala Aris, ia berhasil meskipun tidak membuat lelaki berambut pirang itu roboh. Aris tak mau kalah. Ia melayangkan tendangan bertubi-tubi, tetapi dapat ditangkis oleh Rian.


Pertarungan ini sebenarnya dikatakan seimbang dari segi fisik karena Rian dan Aris sama-sama bertubuh besar. Namun, entah untuk masalah pengalaman dan kemampuan bertarung. Meski begitu, sejak beberapa menit perkelahian berlangsung, Aris belum juga dapat menyerang balik. Yang ada, Rian selalu bisa menangkis tinju dan tendangan, bahkan menghindar dari terjangan lawannya itu.


Rian meraih kerah seragam Aris dengan kedua tangan, kemudian membantingnya menuju bak sampah besar yang terbuat dari besi. Tubuh lelaki berambut pirang yang membentur bak sampah menghasilkan suara kedebum yang cukup keras. Ia merasa pusing karena kepalanya terbentur. Ketika Aris mencoba bangkit, Rian telah lebih dulu menerkamnya sehingga kemudian melancarkan terjangan yang cukup bertenaga.


Terjangan Rian tepat mengenai dada Aris. Kembali lelaki berambut pirang terempas di bak sampah. Tubuhnya roboh dengan posisi tengkurap di atas sampah berbau menyengat.


Menyaksikan perkelahian yang tidak seimbang dari faktor kemampuan, para bawahan Aris membelalak. Perasaan tidak menyangka hadir dalam benak mereka mengetahui Rian merupakan bocah SMP, sedangkan mereka remaja SMA.


“Gue tahu kalian semua nggak nyangka kalau gue bisa ngalahin bos kalian. Tapi, ada orang yang lebih kuat dari gue. Jangan sampai orang itu yang datang ke sini dan memaksa kalian untuk nerima tawaran gue,” cetus Rian sambil menginjak kepala Aris yang telah dipenuhi oleh keringat dan darah.


“Gue Rian si Auman Singa. Dulu, gue ketua berandal di SMP Nusantara. Tapi, posisi itu sudah direbut oleh orang yang lebih kuat dari gue. Lo paham, kan, akibatnya nolak tawaran gue? Gue beri lo waktu untuk berpikir. Mau gabung atau nggak?”


Sambil membakar sebatang rokok, Rian tak mau menurunkan kakinya dari kepala Aris.


“Kalau orang yang gue maksud turun tangan, lo, kalian semua, akan dibakar hidup-hidup di sini.”

__ADS_1


“Gue mau gabung,” cetus salah seorang anggota berkepala plontos sambil mengangkat tangan ragu-ragu.


“Gue juga.”


“Gue juga gabung.”


“Gue.”


“Gue mau gabung.”


Akhirnya, tak lagi ada bawahan Aris yang tidak mengangkat tangan. Semua telah memutuskan bergabung karena mendengar penjelasan Rian tentang orang yang lebih mengerikan dan kejam darinya. Namun, Aris belum juga buka suara. Ia masih terengah-engah menahan lelah dan sakit di sekujur tubuh. Akan tetapi, tak lama ia berusaha mengatakan sesuatu.


“G-gue ... j-juga ... mau—"


“Oke, cukup.” Rian menurunkan kakinya dari kepala Aris. Ia melangkah menuju tempat Rico, Putra dan Ikhsan sedang berdiri dengan wajah bangga.


“Besok. Gue tunggu kedatangan kalian di depan gerbang SMP Bina Bangsa.”

__ADS_1


Rian melangkah pergi diikuti oleh Rico, Putra dan Ikhsan.


__ADS_2