Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 22


__ADS_3

BAB 8


Usai pengumuman, Adrian dibawa ke ruang Kepala Sekolah. Ia duduk di sofa, menanti Pak Kepala Sekolah selesai dengan obrolannya di telepon. Entah, Adrian tidak tahu apa tujuan Kepala Sekolah itu membawa dirinya ke ruangan ber-AC itu.


Lelaki paruh baya itu selesai dengan obrolannya di telepon, lalu angkat bicara, “Adrian.”


Adrian menatap pria paruh baya dan mengangguk sebagai respons.


“Pencapaian kamu dengan nilai paling tinggi ini, kamu akan bisa masuk ke sekolah-sekolah elit di kota, bahkan akan mendapatkan beasiswa. Bagaimana menurut kamu, Nak?”


“Saya menolak, Pak.”


Lantas Pak Kepala Sekolah mengerutkan dahi dan mencondongkan wajahnya. “Kenapa kamu menolak? Ini kesempatan langka, Nak. Kamu bisa bersekolah tanpa biaya, masuk sekolah menengah paling bagus dan elit di kota.”

__ADS_1


“Saya tetap menolak, Pak. Saya sudah berencana masuk ke SMA Bakti Siswa.”


“Apa?!” Pak Kepala Sekolah mendadak terperangah mendengar ungkapan Adrian. Napas pria itu seolah tertahan setelah Adrian menyebutkan sekolah tujuannya. “Kamu mau masuk sekolah kumuh, paling buruk itu? Apa kamu sudah gila, Adrian?”


“Nggak juga, Pak. Saya masih waras. Justru itu saya akan sekolah di sana.”


Pria itu tak tahu lagi harus bicara apa. Ia begitu kecewa dengan pendirian Adrian yang menurutnya merupakan keputusan terburuk. Memang benar. Mana ada siswa normal akan menolak ditawari untuk masuk ke sekolah paling elit di kota, apalagi tidak akan keluar biaya sepeser pun. Akan tetapi, benar juga bahwa Adrian siswa yang normal, atau mungkin setengah normal. Setidaknya itulah pikiran yang bergelimang di kepala pria paruh baya.


“Kamu serius mau masuk sekolah kumuh itu?”


Menggores sebuah kekecewaan di hati pria berjabatan Kepala Sekolah itu, Adrian melangkah keluar, tidak mengubah apa yang telah ia tetapkan.


Adrian mengumpulkan para anggota yang akan ikut dengannya untuk masuk ke SMA Bakti Siswa, termasuk juga Rian yang berasal dari SMP Nusantara dan beberapa anggota. Beberapa jam menunggu, yang terkumpul hanya 100 orang lebih, lalu sisanya tak tahu ke mana. Adrian pun mengambil kesimpulan bahwa yang lainnya batal untuk mengikuti dirinya bersekolah di SMA paling kumuh di kota ini. Meski begitu, Adrian telah memikirkan kemungkinan itu. Tidak semua akan setuju mengikuti jejaknya, ia sadar akan hal itu.

__ADS_1


“Mereka para pecundang emang nggak tahu balas budi!” Adrian menghantam keras tembok kusam rumah kosong tempatnya berkumpul saat ini. Lelaki itu sepertinya sangat kesal dengan beberapa pengkhianat.


Anggota yang lain hanya menunduk sambil menyaksikan ketua mereka dilanda amarah yang berkecamuk.


“Gue punya ide. Kita cari mereka dan beri pelajaran. Gimana?” Rico memberikan saran.


Sekali lagi, Adrian menghantam tembok dengan tenaga yang besar, lalu berteriak, “Kita cari mereka!” Ia pun keluar dari bangunan kosong itu, diikuti oleh para anggota.


Tempat pencarian pertama, yaitu di sekitar SMP Nusa Bangsa. Di sana, mereka menemukan beberapa orang yang pernah tergabung sebagai anggota. Saat melihat Adrian dan para anggota lain, mereka membelalakkan mata, tetapi sebisa mungkin mencoba tenang, lalu berjalan menghampiri.


“Lo. Kenapa masih di sini? Lo gue tungguin berjam-jam, dan lo malah asik di sini lihat-lihat cewek?! Kenapa? Lo udah nggak mau jadi anggota?” cecar Adrian pada lima orang di hadapan.


“S-sorry. Gue ... kayaknya nggak bisa ikut masuk ke SMA yang lo minta. Soalnya—“

__ADS_1


“Banyak bacot!”


__ADS_2