Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 18


__ADS_3

SMA Bakti Siswa merupakan sekolah menengah paling buruk di kota mereka. Tidak hanya dari segi norma dan adab para siswanya, tetapi juga dari segi fisik bangunan yang tidak sehat. Jelas sekali terlihat dari sampah yang berserakan di depan gerbang besi berkarat sekolah tersebut. Apalagi ruang-ruang kelasnya tak satu pun bersih dari cat dan coretan ngawur.


Para siswa di SMA tersebut pun tidak pernah datang tepat waktu. Dari yang seharusnya masuk pada pukul 07.00, para siswa dengan santai datang pada pukul 09.00. Hal ini pun membuat para guru mengeluh. Kondisi yang terjadi di sekolah ini disebabkan karena terpengaruhnya siswa-siswa lain pada siswa yang memang terkenal dengan kenakalannya. Akhirnya, para siswa yang telah terpengaruh oleh julukan “sekolah paling buruk” itu membuat setiap dari mereka bermalas-malasan, tidak menghargai para guru, pun tidak pernah menjaga kebersihan lingkungan sekolah mereka.


Para siswa datang seenak hati. Bahkan ketika hadir di sekolah saja, itu tidak murni mereka bertujuan untuk belajar. Pada saat pelajaran berlangsung, masih banyak siswa yang asik ngobrol atau jajan di kantin. Para guru juga menjadi acuh dengan keadaan itu sehingga lambat laun membiasakan mereka larut dalam kemalasan dan perasaan tidak ingin belajar.


“Kalian semua sudah pernah dengar tentang SMA Bakti Siswa, kan?” tanya Adrian kepada semua bawahan-bawahannya.


“Ya. Sekolah menengah yang terkenal paling buruk di kota ini. Sebuah sekolah di mana para siswa bebas untuk mengikuti pelajaran atau nggak, bahkan bebas untuk masuk atau bolos,” sambut Rian.

__ADS_1


“Ya, satu lagi kelebihan dari sekolah itu. Sebagian besar berandal di kota ini berasal dari sekolah itu. Sekolah yang menampung paling banyak berandal sekaligus sekolah yang terkenal paling kumuh,” lanjut Adrian menjelaskan.


“Lalu, ada apa sama sekolah itu?” Putra angkat bertanya.


“Ujian kelulusan udah deket. Gue mau kalian semua masuk ke sekolah itu. Gue bertujuan untuk memperluas jaringan kita, sekaligus kita bisa menjadikan sekolah kumuh itu sebagai markas.”


“Lulus aja gue nggak yakin,” timpal Rico.


“Lo, kan, tahu kerjaan gue di sekolah ngapain doang.”

__ADS_1


“Oke, denger. Gue akan kasih contekan ke kalian semua yang satu sekolah dengan gue. Sementara kalian yang beda sekolah, akan gue berikan kunci jawaban untuk setiap paket soal. Itu masalah gampang.”


“Wih, asyik!” seru anggota lain.


...----------------...


Mereka berkeliling di kota bersama beberapa anggota lain, Rian mendapatkan beberapa musuh yang tidak mengizinkannya melewati jalan. Entah berandal dari sekolah mana, yang pasti mereka terlihat lebih beringas daripada berandal-berandal yang pernah Rian temui. Semua berandal yang menghalangi jalan Rian berkumpul membentuk barisan. Tak satu pun dari mereka yang tidak membawa senjata. Ada yang membawa kayu, rantai, gear motor, ada juga yang membawa pisau.


Hal tersebut cukup membuat Rian terkesiap. Tak satu pun dari anggota yang bersamanya membawa senjata. Oleh karenanya, ia meminta satu orang maju dengan mengacungkan tangannya.

__ADS_1


Ia berbisik pada lelaki yang mengenakan ikat kepala berwarna hitam—teman seanggota, “Informasikan ke yang lain. Kalau cecunguk-cecunguk di depan nyerang, lo dan yang lain segera bersiap ambil batu atau apa pun untuk dijadikan sejata. Ngerti?!”


“Oke. Ngerti, Bos.”


__ADS_2