
BAB 7
Saat Adrian tengah serius mengerjakan soal Matematika di sebuah buku latihan, ada beberapa murid perempuan memperhatikannya dari kaca jendela kelas. Meskipun Adrian menyadari hal itu, tetapi ia tidak peduli dan terus fokus mengerjakan latihan. Sesekali para perempuan itu tersenyum karena melihat ketampanan Adrian. Menurut mereka, Adrian yang sekarang adalah paket lengkap, tampan dan pintar. Pasti masa depan lelaki itu sangat cerah.
“Gue, kok, nyesel dulu sering ngejekin si cupu, ya. Eh, maksud gue ngejekin si Adrian,” cetus salah satu perempuan yang rambutnya diikat kepang dua. Ia bahkan tidak hentinya tersenyum, sampai-sampai membayangkan dirinya berduaan dengan Adrian dan melakukan sesuatu yang romantis.
“Gue, mah, nggak pernah ngejekin si Adrian,” timpal perempuan dengan pita berwarna merah.
“Nggak pernah gimana?” si perempuan dengan rambut kepang dua menatap sinis. “Bukannya dulu elo yang keselnya nggak ketulungan sama si Adrian?”
“Alah, ngarang lo. Gue, kan, cewek baik hati. Jadi, mana mungkinlah gue menjelek-jelekkan si Adrian.”
“Eh, kalian berdua diem, ah. Berisik tahu! Gue lagi fokus! Jangan ganggu!” cetus perempuan dengan gaya rambut pony tail.
__ADS_1
“Yeee! Pas diajakin katanya nggak minat, sekarang malah elonya yang kesengsem.”
Karena suara berisik dari perempuan-perempuan itu, konsentrasi Adrian jadi buyar. Sang lelaki menutup buku tulisnya, lalu bangkit dan berjalan untuk menghampiri para perempuan yang bertengger di kaca jendela kelas.
“Kalian sedang apa?” tanya Adrian dengan wajah datar.
“Eh, Adrian. Nggak ngapa-ngapain, Adri. Ini ... biasa, lagi bersihin kaca. Iya, kan, temen-temen?” Tentu saja, perempuan dengan rambut kepang itu hanya beralasan.
Diam-diam, para perempuan tadi mengikuti Adrian dari belakang. Lelaki tersebut menyadari hal itu, tetapi ia biarkan saja, lantas mengubah arah tujuan. Adrian menuju kamar mandi laki-laki. Meski begitu, para perempuan itu masih saja mengikuti langkahnya.
Setelah sampai di kamar mandi, Adrian membalik tubuhnya dan menatap mereka satu per satu. Tak ada ekspresi apa pun di wajah Adrian Mahesa Putra. Ia seolah es di kutub utara yang sulit mencair meskipun terik kerap kali menerpa. Namun, tatapan dan ekspresinya itu membuat jantung ketiga perempuan itu berdegup kencang.
“Kalian mau nemenin gue? Mau ikut masuk ke kamar mandi?” tanya Adrian.
__ADS_1
“Emangnya boleh?” ucap sang perempuan berambut kepang dengan nada kecentilan.
“Boleh kalau lo mau.”
“K-kalau gitu—“
“Hus! Ngaco lo, ya?! Itu kamar mandi cowok, Pea!” potong perempuan dengan pita merah.
Adrian hanya mengangkat satu sudut bibirnya, lalu membalik badan dan masuk ke kamar mandi. Sementara ketiga perempuan mematung, masih terheran-heran dengan pesona Adrian, yang bahkan dapat mencuci otak mereka dalam sekejap mata.
Memang patut diherankan. Setelah beberapa bulan terakhir, Adrian menjadi murid lelaki yang paling menyita perhatian semua orang. Tidak hanya di kalangan perempuan, tetapi di kalangan murid lelaki, hingga para guru. Namun, di antara murid lelaki, kebanyakan sudah tahu tentang Adrian yang telah berubah 360 derajat, dan kini satu per satu menjadi bawahan mantan lelaki cupu itu.
Setelah dari kamar mandi, Adrian menuju kantin dan bertemu dengan para bawahannya. Hanya mendengar langkah Adrian saja, para murid lelaki yang tergabung dalam kelompoknya dengan segera mengambil tempat duduk. Guru saja tidak dihormati sebegitu besarnya. Namun, tidak tepat jika mengatakan mereka menghormati Adrian. Mereka lebih cenderung takut akannya.
__ADS_1