Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 24


__ADS_3

“Jangan banyak bacot!” Adrian menajamkan tatapan. “Semuanya, SERAANGGG!”


Perkelahian berlangsung panas, sementara ini masih imbang antara kelompok Adrian dan kelompok lawan. Namun, Adrian sendiri berhadapan langsung dengan ketua dari komplotan tidak kenal itu.


Meskipun kalah dari segi ukuran tubuh, tetapi Adrian adalah berandal yang lebih mengutamakan kelincahan. Kecepatan dan ketepatan adalah kunci utama dalam gaya bertarung lelaki itu.


Beberapa kali Adrian memang mampu terkena oleh pukulan sang lelaki dengan rompi jeans. Akan tetapi, seiring waktu berjalan dan perkelahian semakin memanas, kemampuan Adrian malah semakin meningkat. Ia menangkis berbagai tinju dan tendangan, lalu menggunakan kecepatan untuk berpindah tempat ke bagian-bagian terbuka lawannya. Lengah sedikit saja, Adrian bisa-bisa memenangkan perkelahian.


Oleh karena itu, ketika keringat telah bersimbah di tubuh, napas semakin menderu, serta tenaga yang berkurang, saatnya Adrian beraksi memanfaatkan kelengahan yang membalut lawannya.


Ketua geng lawan coba mengarahkan tendangan pada bagian kepala Adrian, tetapi tentu saja Adrian dengan kilat menangkis, meraih kaki panjang itu, lalu menariknya hingga terhuyung dan roboh dengan posisi tengkurap. Kesempatan emas sehingga Adrian meloncat naik ke atas punggung sang lawan. Jerit pekik disuarakan, Adrian tidak memberikan belas kasihan. Dia meraih rambut keriting lawannya, lalu dijambak. Dibenturkannya pada aspal yang panas, sedangkan sang lawan telah menjerit kesakitan.

__ADS_1


Terlalu fokus, Adrian tidak berwaspada di daerah punggung sehingga anggota lawan mampu membuatnya tersingkir dari tubuh lelaki berambut keriting dengan sebuah tendangan.


Walau demikian, hal itu tidak membuat perubahan yang besar. Adrian membalik tubuhnya dengan cepat. Ketika itu ia menemukan sebuah tinju akan mendarat ke wajahnya. Namun, dengan spontanitas yang begitu hebat, Adrian mampu menghindar dengan menarik kepalanya ke samping kanan.


Kemudian, lelaki dingin itu meraih pakaian lawannya barusan, dan dengan sekuat tenaga membantingnya, menggelepar memekik jerit.


Dari satu musuh ke musuh lainnya, Adrian kembali dipertemukan dengan ketua geng lawan. Tampak lelaki berambut keriting itu telah mendapatkan staminanya lagi. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak memberikan pengaruh yang besar. Akhirnya Adrian putuskan mengeluarkan sebuah benda dari saku celana. Setelah membuang sarung dari benda itu, segera ia membuat beberapa sayatan di tangan sang lawan.


“Elo lebih banci yang takut dengan senjata tajam.” Adrian tampak senang, seringai kembali terpancar di wajahnya.


Meskipun menyadari tangannya tidak memungkinkan untuk digunakan lagi dalam pertarungan, lelaki berambut keriting memaksa kehendak. Ia angkat lagi tangan, mengepal dan diacungkan di depan dada layaknya petinju.

__ADS_1


Sementara itu, Adrian memegang pisau dengan bagian tajam mengarah ke belakang, Gaya bertarung menggunakan pisau. Ia sepertinya bersungguh-sungguh akan membuat lebih banyak sayatan di tubuh lawannya. Kembali Adrian berfokus, awas terhadap segala gerakan lawan.


Akan tetapi, ketika ia bergegas melesat, sebuah teriakan yang memberitahukan bahwa aparat kepolisian hadir di tengah pertarungan sengit, Adrian terkesiap dan memeriksa sekitar. Benar, sekompi polisi datang untuk meringkus mereka.


“LARI!” komando Adrian kepada para anggotanya, lantas berlari demi menyelamatkan diri dari kejaran aparat kepolisian.


Sebuah tangan dirasakan oleh Adrian menarik kerah seragamnya dari belakang. Ia tahu tangan itu milik aparat. Adrian cukup dibuat kelimpungan.


“BERHENTI!” teriak sang polisi.


...----------------...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2