
Dengan cara mengendap-endap, Wira memasuki markas Adrian agar tidak dilihat oleh anggotanya yang lain, atau bahkan Victor dan orang dari kelompok Naga Hitam. Dengan sangat hati-hati ia menengok ke seluruh penjuru koridor. Setelah yakin tidak ada yang mengikuti, ia masuk menemui Adrian.
“Gue ke sini mau ngomong sesuatu yang penting ke elo,” kata Wira sambil duduk pada kursi, berhadapan dengan Adrian.
Adrian mengangguk untuk mempersilakan lelaki bertubuh tinggi itu mulai menyampaikan sesuatu.
“Seperti yang pernah gue bilang ke elo, kelompok gue itu ditopang oleh dua kelompok paling kuat di sekolah ini. Dan sekarang, dua kelompok itu sudah mulai mencurigai gue berkomplot dengan elo. Gue ingin memastikan, jika mereka membuat pergerakan untuk menyerang, apakah lo bisa mengalahkan mereka dengan telak?”jelas Wira.
Adrian tertawa bergelak mendengar penjelasan Wira. Baginya, perkataan Wira masih mengandung kalimat-kalimat meremehkan. Meskipun secara tidak langsung, tetapi lelaki tinggi itu telah merasa duluan bahwa Adrian dan anggotanya tidak akan mampu mengalahkan dua kelompok besar itu.
“Untuk mengatakan gue mampu mengalahkan mereka aja udah percuma. Ujung-ujungnya elo bakalan tetap nggak percaya dengan kemampuan gue. Tapi, nggak apa-apa. Bukan cara gue meyakinkan seseorang dengan omongan. Gue lebih suka membuktikan secara langsung.”
“Kalau lo bisa mengalahkan mereka, elo akan diuntungkan. Dua kelompok besar akan sangat berpengaruh bagi nama kelompok elo sehingga elo bisa melangkah untuk menaklukkan kelompok-kelompok besar lainnya.”
“Dari awal itulah tujuan gue. Jadi, elo nggak perlu mengajari gue soal teknik untuk memperluas wilayah kekuasaan.”
“Tapi, meskipun elo bisa mengalahkan bos mereka, belum tentu elo bisa mengendalikan anggota mereka. Anggota di dalam kelompok itu nggak akan patuh dengan orang baru.”
“Intinya?”
“Gue hanya meminta perlindungan dari elo. Lo nggak tahu gimana kejamnya dua kelompok itu.”
“Takut?”
Wira tidak merespons. Ia mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
__ADS_1
“Seorang penakut nggak pantas ada di dalam kelompok gue. Kalau elo masih tetap takut, gue akan mampusin lo. Kita lihat siapa yang lebih kejam. Gue atau mereka.”
Tiga anggota inti sedang berkeliling di lingkungan sekolah. Tampaknya mereka sangat senang melihat para perempuan yang tidak kalah cantik dengan murid di sekolah lain.
“Murid perempuan di sekolah sampah ternyata cantik-cantik, Bro,” ucap Rico sambil kedua matanya mengitari sekeliling yang dipenuhi oleh para perempuan sehabis berolahraga.
Baju training ketat yang dikenakan oleh para perempuan itu pun menjadi daya tarik bagi kaum adam untuk tidak berpaling dari lekuk tubuh mereka. Ditambah keringat yang mengucur di sekitar leher, membuat para lelaki menelan saliva. Jelas saja, itu juga berlaku bagi tiga anggota inti itu.
Segerombol murid perempuan melewati Rian, Rico dan Putra. Wangi tubuh para perempuan itu pun menghadirkan sebuah pikiran di dalam benak ketiganya. Mereka saling pandang satu sama lain, tampaknya mempunyai rencana jahat.
Setelah cukup jauh para perempuan itu berjalan, ketiganya mengikuti. Mereka yakin para perempuan itu sedang menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaian yang sudah basah oleh keringat. Akan tetapi, ketika membelok ke bangunan menuju kamar mandi, ketiganya melihat beberapa orang sedang menghadang para perempuan itu. Rian dan dua lainnya merasa didahului.
Tidak, bukan itu sebenarnya yang harus mereka pikirkan. Rian melangkah lebih dulu, lalu diikuti oleh Rico dan Putra di belakang.
Rian terhenti beberapa meter dari beberapa lelaki yang mengenakan celana model Inakaya Denim dan tengah mengganggu para perempuan hingga ketakutan.
“Lepasin!” Sang perempuan memekik, mencoba melepaskan cengkeraman tangan lelaki itu. Akan tetapi, tentu saja tenaganya tidak cukup untuk membuat tangan itu menyingkir.
Melihat perlakuan itu, Rian semakin merasa kesal. Entah, perasaan apa itu yang hadir di benaknya. Yang pasti, ia tidak suka melihat perempuan itu diganggu oleh para lelaki yang rata-rata berambut gondrong.
“Woi, lepasin dia!” Rian bersuara. Sementara Rico dan Putra mengernyitkan dahi.
“Hah?! Siapa lo?” tanya lelaki yang mencengkeram tangan sang perempuan.
“Lepasin dia,” ulang Rian.
__ADS_1
“Gue tanya, lo siapa?”
“Dari penampilannya, sih, dia anak baru, nih,” cetus lelaki lainnya.
“Oh, anak baru. Anak baru sok amat. Merasa kuat lo mau nolongin si eneng ini?”
Ketika si lelaki mencoba lebih dekat pada Rian, Rico dan Putra maju beberapa langkah.
“Mau ngapain lo?” tanya Rico dengan wajah menantang.
Setelah perempuan itu dilepaskan tangannya, ia dan beberapa temannya langsung enyah, menjauh dari kerumunan para lelaki berandal itu.
Ternyata, tidak hanya beberapa orang, tetapi puluhan lelaki keluar dari persembunyiannya dan mengepung tiga anggota inti itu.
Ketiganya tiba-tiba merasa kelu. Diedarkan matanya untuk tetap mengawasi lainnya yang datang dari segala arah.
“Sialan. Kita dijebak,” tukas Rian kemudian. “Lari, Goblok!” lanjutnya seraya menepuk bahu kedua kawannya itu.
Memang, Rian berhasil lolos dari kelompok itu meskipun dengan sedikit perkelahian. Akan tetapi, Rico dan Putra ia lihat telah babak belur dan diringkus entah ke mana. Rian membelalak sebelum akhirnya melanjutkan pelariannya. Deru napasnya semakin cepat. Ia harus melaporkan hal ini sesegera mungkin pada Adrian dan anggota yang lain.
Rian akhirnya mengerti bahwa ia dipancing menuju sarang kelompok itu sehingga dapat melancarkan aksi mereka.
“Sialan!”
__ADS_1
...----------------...
BERSAMBUNG