
BAB 6
Tujuan Rian bersama anggota adalah SMA Pratama Star Elite School yang merupakan sekolah menengah kalangan elit di kota. Meski terbilang elit, tetapi hal tersebut justru melahirkan para berandal dari kalangan elit juga. SMA tersebut dikenal dengan kelompok berandal nya yang bahkan pernah terlibat dengan aksi kriminal, berurusan dengan polisi beberapa kali. Meski begitu, hal tersebut tidak membuat SMA Pratama Star Elite School menjadi sekolah yang nilainya di bawah rata-rata. Karena fasilitas dan bangunan megah juga merupakan alasan mengapa SMA Pratama Star Elite School dikatakan sekolah menengah elit.
Sepulang sekolah, Rian telah menunggu di depan gerbang SMA Pratama Star Elite School. Lelaki itu dengan santai menyesap rokoknya sambil menatap pintu keluar.
“Woi! Ngapain lo bocah-bocah SMP berdiri di depan sekolah SMA?” tanya seorang lelaki yang mengenakan seragam SMA, putih dan abu. Sementara itu, tak satu pun kancing seragamnya terpasang, sehingga yang kelihatan hanya dalaman berwarna cokelat.
“ian. Woi.” Rico mendekati Rian karena lelaki tersebut tampaknya terlalu fokus menatap gerbang. Rico menepuk bahu Rian sehingga membuatnya kesal.
“Apaan?”
“Itu.” Rico memutar bola mata untuk menunjukkan kepada Rian lelaki yang sedang berdiri di sebelah kanannya.
__ADS_1
“Ah? Lo siapa?” Rian bertanya sambil berhadapan dengan sang lelaki.
“Lo yang siapa, Bocah! Lo lihatin sekolah gue. Ada masalah?”
“Oh, jadi elo sekolah di situ?” Rian manggut-manggut sambil mengembuskan asap rokok untuk terakhir kali, lantas ia buang puntung, lalu diinjaknya.
“Kenapa? Ada masalah?”
“Mana lagi teman-teman lo?” Rian mengabaikan pertanyaan sang lelaki.
“Lo jawab dulu pertanyaan gue. Teman-teman lo yang lain mana?”
Lelaki itu menyeringai. Sambil membalikkan badan, ia berucap, “Gue nggak punya waktu sama bocah.”
__ADS_1
Ketika akan mengangkat langkah, Rian segera menepuk pundak sang lelaki sehingga membuatnya tak jadi enyah. Hening setelah itu, Rico, Putra dan Ikshan yang berdiri di belakang Rian seperti bodyguard harap-harap cemas. Keduanya merasa lelaki dengan seragam putih dan abu itu bukan orang sembarangan. Akan tetapi, mereka menyingkirkan kekhawatiran dengan percaya pada Rian akan bisa mengatasi semuanya. Adrian pun telah memberikan tanggung jawab besar itu kepada Rian, jadi tidak mungkin Adrian mengambil keputusan tanpa pertimbangan.
“Lo berani nyentuh gue?”
Sang lelaki dengan lugas mengambil tangan Rian, lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan si Auman Singa. Ketika lelaki dengan rambut jambul tersebut akan mencoba menarik tangan Rian, ia tak jauh lebih cepat bahkan tenaganya tidak ada apa-apanya dibanding Rian. Sang lelaki ditarik lebih dulu oleh Rian, membuat tubuhnya condong ke depan, lantas Rian melayangkan kaki dan mengenai perut lelaki tersebut.
Dipeganginya perut oleh sang lelaki sambil menunduk. Napasnya mulai berat, tetapi Rian tidak bermaksud melanjutkan perkelahian tersebut karena ia sudah bisa menyimpulkan dirinya tidak akan kalah dengan sang lelaki.
“Mana teman-teman lo yang lain? Lo terlalu lemah buat gue.”
“Sialan lo.”
“Gue tunggu. Lo pasti akan ngadu ke teman-teman lo atau bahkan ketua lo. Gue akan tunggu.”
__ADS_1
Dikeluarkannya sebungkus rokok putih oleh Rian, lantas diambilnya satu dan ia bakar. Asap mengepul, terurai angin yang bertiup cukup kencang.
Lelaki tadi masih memegangi perut, tetapi kini menatap Rian dengan penuh kebencian. Ia tidak menyangka akan kalah dengan seorang bocah SMP. Sebenarnya SMP atau SMA tidak jadi masalah, sebab bagaimanapun juga, tubuh Rian lebih besar dibandingkan dengan lelaki dari SMA Pratama Star Elite School itu. Jelas juga tinju dan tenaga Rian lebih unggul.