Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 7


__ADS_3

Saat Rico berada di kamar mandi untuk mencuci wajah yang terlihat kotor dan dipenuhi bekas darah dari lukanya, ia dihampiri oleh Putra dan Ikshan yang tampak berwajah kecewa.


Rico menolehkan pandangan ke arah Putra dan Ikshan, mereka pun bersitatap.


“Nggak nyangka gue kalau elo itu orang lemah!”ucap Putra


Seketika Rico terpancing amarah karena perkataan Putra yang begitu tiba-tiba menghakiminya.


“Maksud lo apaan, Putra!” balasnya dengan nada yang tinggi.


“Maksud gue, elo lemah! Lo nyerah gitu aja sama si cupu itu. Percuma gue dan Ikshan ngikutin elo selama ini.”


“Seandainya elo yang ada di posisi gue, lo bakal ngelakuin apa, hah?! Seenggaknya gue udah berusaha, dari pada kalian berdua yang bisanya cuma lari nggak ada perlawanan seperti seorang pecundang,” jelas Rico sambil mengarahkan tatapan tajamnya pada Putra dan Ikshan.

__ADS_1


“Udahlah. Sekali lemah, ya, tetap lemah. Gue kecewa sama lo yang sekarang jadi bawahan si cupu itu. Apa kata dunia—“ujar Ikshan


“BANGSAT! Diem lo!” Rico membenturkan tinjunya pada wajah Ikshan dengan keras. Darah segar pun menetes dari lubang hidung lelaki itu.


“Gue udah dengar pembicaraan kalian.”


Tanpa disadari oleh ketiganya, Adrian hadir dari pintu masuk toilet. Ia maju perlahan, mendekat pada ketiga lelaki yang tengah dibalut emosi.


“Gue juga nggak nyangka seseorang yang lemah seperti elo menjilat ludahnya sendiri dengan berkata lemah pada orang lain. Lo nggak sadar diri? Lo nggak ingat beberapa waktu lalu siapa yang lari ketakutan dari gue?” Adrian pun menatap Putra dan Ikshan, ia terus mendekat hingga jarak mereka berada kini hanya sejengkal. Ditatapnya Putra dan Ikshan oleh Yuda dari kaki hingga berhenti di wajah.


Suasana di sekitar semakin memanas, hening beberapa saat. Ikshan beberapa kali menelan saliva, memang ia melihat ada sesuatu yang lain di wajah Adrian. Bahkan, saat ini pun penampilan Adrian sudah jauh terbalik. Dari Adrian yang cupu dan selalu berpakaian rapi, sekarang menjadi Adrian yang semrawut, rambutnya yang biasa disisir ke samping kanan pun sekarang sudah tidak dipedulikan, ia biarkan tergerai acak-acakan.


Setelah melewati hening yang menikam, Adrian putuskan meraih jari telunjuk Putra, lalu ia pelintir sehingga terdengar bunyi kreeek serta jerit sakit dari mulut Putra.

__ADS_1


Adrian tidak peduli dengan jeritan Putra , malah ia semakin keras memelintir tangan lelaki itu, lalu menariknya ke depan dan melayangkan tinju untuk menghantam wajah Putra.


Menahan sakit, Putra membungkuk sembari memegangi pipi pada bagian yang sakit, sementara tangan kanan yang jari telunjuknya telah dipatahkan oleh Adrian, tak dapat ia gerakkan dengan fleksibel.


“Selama beberapa tahun, gue bukannya takut sama kalian semua. Gue hanya menjaga sikap. Tapi, nyatanya kelemahan gue kalian manfaatkan untuk mendapat keuntungan pribadi. Mulai sekarang, camkan, kalian harus jadi bawahan gue!” Adrian berwajah serius. Tangan lelaki itu terangkat, mulai meraih rambut Putra dan menjambak, serta memaksanya terangkat untuk menghadap dirinya.


“Mulai sekarang, elo jadi anak buah gue. Kalau elo nggak mau, silahkan. Tapi, elo akan mengalami sesuatu yang buruk dalam hidup lo.”


Sambil mengarahkan wajah dengan perasaan tidak percaya pada perubahan Adrian, Putra mengangguk pelan. Ia akhirnya dapat ditaklukkan oleh seseorang yang selalu ia jadikan bahan penghakiman. Selama bertahun-tahun ia bermain sebagai yang ditakuti, sekarang ia telah turun pangkat sebagai orang yang lebih lemah dari Adrian. Semua menjadi berkebalikan.


Meskipun bertanya pada diri mereka sendiri tentang perubahan drastis Adrian, hati mereka tidak bisa menjawabnya. Ini tetap saja adalah sesuatu yang tidak bisa dipercaya. Adrian yang merupakan lelaki cupu dan selalu di-bully, telah menjelma menjadi seorang lelaki bengis, siap menindas siapa pun yang berani merendahkan dirinya.


“Gue akan jadi raja berandal yang ditakuti semua orang,” tekad Adrian sambil menyeringai.

__ADS_1


...----------------...


BERSAMBUNG


__ADS_2