
BAB 13
Seorang perempuan bertubuh tinggi dengan rambut panjang dicat setengah pirang, mengenakan jaket kulit hitam setelah seragam, tengah duduk di sebuah ruangan bersama lelaki berkalung. Di sebuah kursi, perempuan bernama Vera itu menaikkan paha kanan menindih paha kiri. Ia didampingi oleh para anggota berandal yang beberapa waktu lalu menculik Rico dan Putra.
Dengan seringai yang tergurat di wajahnya, Vera menatap lamat ke arah dua anggota inti kelompok Adrian yang tangannya sedang dibelenggu oleh sebuah tali. Rico dan Putra bersila di lantai. Wajahnya dipenuhi oleh luka lebam akibat puluhan pukulan yang menggerayangi mereka.
“Jadi, kalian yang selama ini dibicarakan oleh murid-murid lain?” Vera angkat bicara sambil sesekali tersenyum meremehkan.
“Mau apa emangnya lo?! Kalau sampai bos kami tahu, kalian akan dibantai di sini!” kelakar Rico dengan emosi yang meluap-luap. Ia benar-benar tidak terima dengan perlakuan kelompok itu. Terlebih lagi, ia telah diremehkan oleh seorang perempuan.
Sambil tertawa bergelak, Vera kembali berucap, “Gue tantang bos lo!”
Vera lalu bangkit dan menuju ke depan Rico dan Putra. Ia menjongkok untuk menyejajarkan posisi, lalu tangannya terulur meraih dagu Rico dan Putra. Namun, kedua lelaki itu menolak dengan cara menoleh ke sembarang arah.
__ADS_1
Putra yang sedari tadi diam, akhirnya angkat komentar, “Cewek seharusnya belajar yang benar! Bukan jadi jalang kayak lo!”
Cukup emosi dengan apa yang dilontarkan oleh Putra, Vera dengan lugas mencekik leher lelaki itu sehingga membuatnya begitu sulit bernapas.
“S-si ... alan! L-lepasin gue, Jalang!” Putra berontak karena merasa tenggorokannya tiba-tiba kering.
“Sekali lagi lo sebut gue jalang, gue pecahin kepala lo!” Dengan kasar Vera melepaskan cengkeramannya pada leher Putra.
Lelaki itu terbatuk-batuk hingga ludahnya berceceran di sekitar.
Belum selesai Rico dengan kalimat sarkasnya, Vera dengan amat keras menghantam perut lelaki itu. Cairan bening keluar dari mulut. Ia tertunduk dan mencoba mengambil napas secara perlahan.
Vera berdiri membelakangi Rico dan Putra. Ia menatap salah seorang anggota. “Kirim pesan ke bos mereka!” perintah sang perempuan.
__ADS_1
Setelah mengangguk pelan, lelaki yang diberi perintah itu langsung mengangkat langkah untuk menemui Adrian.
...----------------...
Rian berlari tergesa-gesa dengan napas terengah. Ia harus cepat menemukan Adrian untuk melaporkan kejadian beberapa waktu lalu tentang kelompok lawan yang berhasil menculik Rico dan Putra.
“Dri! Adrian! Bos!” teriaknya setelah berhasil masuk ke ruangan. Rian langsung bersimpuh di hadapan Adrian yang sedang duduk pada kursi. Ia mencoba mengambil napas perlahan untuk bisa memulai laporan.
Sedangkan, Adrian menatap Rian dengan wajah heran. Mungkin, Adrian juga sudah membaca apa arti dari kedatangan Rian dengan napas ngos-ngosan serta wajah takut.
“Ada apa?” tanya Adrian tak sabar karena Rian cukup lama hening.
Setelah napas cukup teratur, Rian menghadap depan, lalu berkata, “Rico dan Putra ditangkap oleh kelompok Naga Hitam.”
__ADS_1
Adrian cukup terkejut mendengar laporan yang diberikan oleh Rian. Jika cara bermain kelompok Naga Hitam seperti yang terjadi saat ini, maka mereka benar-benar licik dan patut untuk diwaspadai. Pasalnya, kebanyakan berandal bermain dengan cara yang kasar. Akan tetapi, berbeda dengan kelompok Naga Hitam. Cara main mereka terkesan halus dan menggunakan strategi yang matang. Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh Adrian saat ini.