
BAB 14
“Selamat datang, Tuan Kejam,” Vera berucap sambil bertepuk tangan menyambut kedatangan Adrian.
Adrian yang melihat di dalam ruangan ternyata dipimpin oleh seorang perempuan itu, cukup terkejut. Tidak ia sangka sebelumnya bahwa di dalam kelompok Naga Hitam ternyata juga dipimpin oleh seorang perempuan. Meskipun memang bukan perempuan sembarangan. Dilihat dari penampilannya, Adrian tidak menemukan adanya tanda-tanda feminim dari Vera. Setiap gerak-gerik dan ekspresi di wajahnya yang memunculkan seringai menghilangkan kesan bahwa Vera sebenarnya seorang perempuan.
Adrian masih menatap Vera dengan lamat. Ketika lelaki dingin itu akan melangkah lebih dekat ke dua anggota intinya yang diikat, Vera memekik, “STOP!”
Adrian mengurungkan niatnya untuk mendekat.
“Cukup sampai di situ elo boleh berdiri. Kalau lo berani melangkah lebih dekat, bawahan-bawahan gue siap memecahkan kepala elo dengan sekali pukulan.”
Adrian terkikik geli mendengar ancaman yang dilontarkan Vera. Baginya, kata-kata “memecahkan kepala” sangat berlebihan. Adrian yakin perempuan itu tidak bisa berbuat apa-apa.
“Apa yang lucu?” Vera bertanya.
__ADS_1
“Nggak perlu lo tanya apa yang lucu. Sekarang, lo ke intinya aja. Lo mau apa sama gue? Ada urusan apa lo sama kelompok gue sampai-sampai menggunakan acara culik dua anggota gue?”
“Lo sudah salah memilih musuh.”
“Salah? Salah dari mana? Gue bukan tipe orang yang pilah-pilih soal musuh. Siapa pun yang berani mengganggu kedamaian dan kebebasan gue, mereka musuh bagi gue. Dan termasuk lo!” Adrian mulai mengarahkan tatapan tajam ke arah Vera. Dua anak manusia itu beradu pandang cukup lama. Keinginan-keinginan untuk saling mencengkeram dalam perkelahian mulai timbul di benak keduanya.
“Siswa baru yang cukup pemberani.”
“Sekarang juga, elo lepasin dua anggota gue, atau lo memilih perkelahian sebagai jalan menyelesaikan masalah ini?”
“Lo mau mereka?!” tanya Vera sambil menempeleng dua lelaki Rico dan Putra dengan keras.
Adrian semakin terbakar api emosi. Perempuan itu tidak hanya omong besar. Ia dengan sengaja menimbulkan amarah dari diri Adrian.
“Gue tahu lo bukan ketua dari kelompok Naga Hitam. Seorang perempuan lemah bukan level bagi kelompok sekuat Naga Hitam. Bukan begitu?” Adrian menenangkan dirinya, lantas membalas perempuan itu dengan omongan yang bisa memicu amarah.
__ADS_1
Vera terdiam.
“Lo! Dan kalian yang ada di sini hanya remah dari kelompok Naga Hitam.”
Vera sudah sampai pada puncak emosi hanya karena kalimat Adrian yang mengandung penghinaan terhadap dirinya.
“Kalian hanya menggunakan nama Naga Hitam untuk menakut-nakuti kami? Goblok. Gue bukan tipe orang yang takut dengan sebuah nama.” Adrian memasang kuda-kuda. Ia tahu bahwa Vera pasti akan menyerangnya setelah mengatakan kalimat penghinaan itu. “Maju!”
Tampaknya, Adrian berhasil membuat perempuan itu terpicu amarah. Kontan saja dengan cepat Vera melesat ke arah Adrian.
Ketika Vera akan melayangkan sebuah tinju, Adrian dengan lugas menangkap tangan sang perempuan, menariknya, kemudian membelenggu kedua tangan sang perempuan. Kini, Adrian berhasil membelenggu tubuh Vera sambil mengancam perempuan itu akan mencekik lehernya.
“Kalau lo mencoba lepas dari gue, tangan ini bisa membunuh elo dalam hitungan detik,” ancam Adrian.
Para anggota di dalam ruangan pun tidak bisa melakukan apa-apa. Sudah terlambat sebab senior mereka telah dijadikan sebagai sandera untuk mengancam.
__ADS_1
Dengan napas yang tertahan, Vera mencoba untuk tidak melawan. Belenggu lelaki itu begitu kuat.