Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 13


__ADS_3

BAB 5


“Woi, woi, woi! BERCANDA LO?!”


Akhirnya, benda itu mampu menggores wajah Rian, tepat di pipi kanannya dengan vertikal. Lelaki itu berteriak kesakitan sambil mengumpat dan berusaha melepaskan belenggu tangan Adrian.


“Apa? Lo mau lagi?”


“BAJINGAN! Lo bisa gue jeblosin ke—"


“Apa? Lo mau jeblosin gue ke penjara? Nggak akan bisa.” Adrian melepaskan tangannya dari leher Rian. “Gue punya kartu as. Hidup lo ada di gue. Kalau lo mau jeblosin gue ke penjara, gue juga bakalan menyebutkan apa aja yang pernah lo lakuin. Gue tahu semua aktivitas lo. Gue tahu kejahatan-kejahatan lo.”


Rian terdiam sambil menahan darah yang mengalir di pipinya. Cukup terkejut dirinya bahwa lelaki yang baru hari ini bertemu dengannya sudah mengetahui kejahatan-kejahatan yang ia lakukan bersama dengan komplotannya.


“Masih mau laporin gue ke polisi? Yakin?” Adrian tertawa renyah melihat ekspresi wajah Rian yang membelalak.


“Mau lo apa?” tanya Rian. Ia tampaknya menyerah untuk melanjutkan pertarungan dengan Adrian.


“Mau gue? Cuma satu.”


“Apa?”

__ADS_1


“Lo harus bergabung sama gue, tunduk sama gue. Bukan cuma lo, tapi semua bawahan lo. Dan lo harus jadikan gue bos berandal.”


“Apa?! Gila lo—“


“Oke. Lo boleh menolak, tapi benda ini akan menambah goresan di muka lo.” Adrian melangkah maju dengan perlahan, sedangkan Rian beringsut mundur.


Rian tampaknya sedang berpikir, mempertimbangkan permintaan Adrian yang cukup egois.


“Benda ini akan gue lempar ke wajah lo. Gue yakin ini akan tepat menancap di salah satu mata lo. Apa lo mau kehilangan satu mata?”


Napas Rian kembali menderu, bahkan semakin cepat dari sebelumnya. Ancaman Adrian tampaknya begitu kuat mendoktrin pikiran si Auman Singa.


“Empat!”


“Tiga!”


“Dua!”


“Sa—“


“OKE!” Rian akhirnya angkat tangan sembari bertekuk lutut sebagai tanda menyerah, sanggup untuk mewujudkan keinginan Adrian. “Oke. Gue nyerah. Gue ikuti keinginan elo. Gue beserta anak buah gue akan tunduk sama lo.”

__ADS_1


“Dan?”


“Dan lo sekarang jadi bos berandal di antara kami semua.”


Adrian bergelak tawa sambil mengarahkan pandangan ke arah komplotan si Auman Singa, memandang ke arahnya dengan penuh kebencian.


“DENGAR?” tanyanya dengan teriakan. “Mulai hari ini, gue adalah bos kalian!”


Orang lemah tak selamanya menyerah pada penindasan.


 


“Mulai sekarang, kalian semua jadi kelompok gue. Rico, Putra dan Ikshan, gue harap kalian bisa bekerjasama dengan anggota yang lain.”


Setelah bertarung dengan Rian, Adrian mengajak si Auman Singa bersama dengan semua yang tergabung di dalam kelompok ke sebuah bar untuk merayakan penggabungan mereka. Magma Cafe and Bar adalah tempat yang Adrian pilih karena lokasinya yang tidak terlalu jauh.


Meskipun beberapa anggota sebenarnya masih belum bisa menerima Adrian sebagai bos mereka yang baru, tetapi mau tidak mau mereka harus menurut. Bos mereka saja dapat ditaklukkan oleh Adrian, apalagi mereka yang tidak cukup punya kemampuan atau hanya seorang anggota biasa. Rico, Putra dan Ikshan mulai berkenalan atau mencoba untuk akrab dengan anggota lainnya setelah berada di bar. Apa pun yang Adrian pinta, kini akan mereka turuti. Mereka sudah seperti anjing yang tunduk pada tuannya.


“Pesanlah apa pun yang kalian inginkan. Gue akan membayar semuanya.”


Mendengar titah tersebut, semua anggota cukup senang dan mulai menaruh kepercayaan pada Adrian. Mereka menyuarakan kegembiraan dan langsung memesan minuman serta makanan sesuai keinginan.

__ADS_1


__ADS_2