Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 37


__ADS_3

Adrian cukup terkejut mendengar laporan yang diberikan oleh Rian. Jika cara bermain kelompok Naga Hitam seperti yang terjadi saat ini, maka mereka benar-benar licik dan patut untuk diwaspadai. Pasalnya, kebanyakan berandal bermain dengan cara yang kasar. Akan tetapi, berbeda dengan kelompok Naga Hitam. Cara main mereka terkesan halus dan menggunakan strategi yang matang. Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh Adrian saat ini.


“Mereka menjebak kami, Dri. Saat gue sama Rico dan Putra mau menyelamatkan para perempuan yang mereka perlakukan kasar, ratusan anggota lainnya datang menyerbu kami. Tapi, gue berhasil lolos. Mereka memukul Rico dan Putra puluhan kali, terus menculik mereka,” jelas Rian yang menunjukkan perasaan bersalah. “Maafin gue, Dri. Gue nggak bisa menyelamatkan mereka karena terlalu takut. Gue ... gue ngerasa nggak akan bisa menang lawan mereka.”


“Kenapa lo berpikir nggak bisa menang lawan mereka?” tanya Adrian sambil masih menatap Rian, tetapi yang ditatap lantas menunduk menatap kedua tangannya yang tidak becus menyelamatkan kawan satu tim.


“Gue ngerasa sangat lemah saat berada di antara mereka, Dri.”


“Rian bukan tipe orang yang suka mengeluh. Gue tahu elo. Dengan melihat wajah ketakutan elo, gue jadi tahu kalau kelompok Naga Hitam emang sangat menakutkan.”


Memang benar apa yang dikatakan oleh Adrian. Tidak biasanya Rian menunjukkan wajah ketakutan. Kerap kali, Rian selalu menyeringai seakan bisa mengalahkan siapa pun. Namun, kali ini tidak. Hal itu secara jelas menunjukkan betapa menakutkannya kelompok Naga Hitam.


“Orang-orang dari kelompok Naga Hitam berbadan besar, Dri. Gue tahu seharusnya gue nggak mengatakan ini, tapi kayaknya kita nggak akan bisa..."

__ADS_1


“KITA AKAN MENANG!” teriak Adrian memotong. Ia sangat tidak suka dengan kalimat pesimis yang terkesan meremehkan kekuatan sendiri. Bahkan meski itu keluar dari mulut para anggotanya.


“Bos, maaf. Ada orang mau bertemu.” Salah satu anggota membawa seorang tamu lelaki. Ia adalah lelaki utusan dari kelompok Naga Hitam.


“Siapa lo?” tanya Adrian saat lelaki itu telah dibawa masuk oleh anggotanya.


“Gue anggota kelompok Naga Hitam.”


“Mau apa? Lo diutus untuk apa?” Adrian kembali mencecar lelaki itu dengan pertanyaan.


“Katakan.”


“Lo diminta datang ke bangunan kelas XI lantai dua. Di sana dua anak buah lo sedang kami siksa,” ucap lelaki utusan Vera sambil menyeringai.

__ADS_1


“BANGSAT!” bentak Adrian sambil bangkit. Ia coba meraih leher anggota Naga Hitam, tetapi sayangnya lelaki itu dengan lugas menghindar, lalu enyah dari markas Adrian.


Benar dugaan Rian, juga benar dugaan Wira bahwa kelompok Naga Hitam memang patut diwaspadai sebagai kelompok terkuat. Tidak hanya kuat, tetapi juga licik dan pintar bermain strategi.


Adrian berpikir bagaimana untuk menyelamatkan dua anggota inti dalam kelompoknya itu. Apakah dengan cara perkelahian langsung? Atau juga harus menyusun strategi untuk melawan kelompok itu secara halus?


“Persetan dengan kelompok Naga Hitam!” pekik Adrian sambil mengangkat wajahnya. “Kalian semua diam di sini! Dan biarkan gue yang turun tangan sendiri!”


Adrian mengambil jaket jeans yang digantung pada punggung kursi. Ia melangkah sambil mengenakan jaket itu. Kali ini, Adrian benar-benar harus mengerahkan seluruh kemampuannya. Bagaimana jika tidak hanya ketuanya saja yang akan ia lawan? Tidak mungkin para anggotanya yang berjumlah ratusan itu berdiam diri, bukan?


Atau jika ketua kelompok Naga Hitam bukan banci, dia pasti akan melawan Adrian seorang diri. Satu lawan satu, bukan satu lawan ratusan.


Setelah naik ke bangunan kelas XI di lantai dua menggunakan tangga, Adrian memang melihat banyak anggota kelompok Naga Hitam yang terlihat kuat. Pantas saja Rian mengeluh, pikir Adrian.

__ADS_1


...----------------...


BERSAMBUNG


__ADS_2