Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 11


__ADS_3

BAB 4


Bel tanda jam pelajaran telah usai bergema tepat pada pukul 02.00 siang. Para siswa memasukkan buku serta alat tulis ke dalam tas. Setelah guru keluar dari kelas, satu per satu siswa berhamburan. Tidak terkecuali Adrian bersama tiga anak buahnya—Rico, Putra dan Ikshan.


Seperti biasa, mereka selalu nongkrong di kedai depan gerbang sekolah untuk menikmati jus atau sesuatu yang dingin. Akan tetapi, ternyata di depan kedai, mereka sudah dinanti oleh komplotan berandal dari SMP Nusantara. Ada Rian di sana yang menatap Adrian dengan lamat. Di samping Rian ada Viky —lelaki bertubuh tinggi.


Rico, Putra dan Ikshan saling pandang, lalu kembali mengarahkan tatapan ke depan. Mereka sepertinya sudah menduga apa yang akan terjadi beberapa waktu ke depan. Namun, mereka hanya dapat mengikuti langkah Adrian.


“Itu, Bos! Dia orangnya yang nantang elo, Bos,” lapor Viky pada Rian sambil menunjuk Adrian yang telah hadir di hadapan.


“Oh, dia orangnya.” Rian meneliti Adrian, dari kaki hingga berhenti di wajah sang lelaki.


“Apa perlu kita dulu yang—"


“Nggak perlu,” potong Rian saat bawahan-bawahannya sudah tidak sabar ingin menghajar Adrian.

__ADS_1


Rian maju beberapa langkah dan mencondongkan wajah hingga sejengkal dari wajah Adrian. Diangkatnya tangan, lalu mulai menarik kerah baju lawannya itu dengan kasar.


“Lo yang berani nantangin gue?!” nada suara Rian meninggi, dinaikkan sebelah alisnya sambil melotot.


Sedangkan Adrian hanya tersenyum miring dan membuang muka ke samping kanan.


“Apa yang lucu?!”


“Elo yang lucu. Lo yakin bisa menang bertarung sama gue?” Adrian masih dengan nada datarnya.


“Lo ngeremehin gue?!” teriak Rian. “Sialan lo!” Tangan kanan Rian terangkat, sementara tangan kiri masih mencengkeram kerah seragam Adrian.


“Apa? Silakan. Tonjok muka gue. Pilih yang mana. Tapi, Benda ini bakalan mencoreng muka lo,” ancam Adrian yang kemudian membuat Rian berpikir dua kali untuk melayangkan kepalan tangannya.


“Bangsat lo! Beraninya main benda yang dilarang.” Rian menurunkan tangannya karena termakan oleh ancaman Adrian.

__ADS_1


“Suruh anak buah lo mundur!”


“Oke, oke.” Sambil berwaspada, Adrian menoleh ke belakang dan memberikan sinyal kepada anak-anak buahnya untuk tidak melakukan sesuatu. Akhirnya mereka menurut dan mundur beberapa langkah.


Adrian meraih kerah seragam Rian, lalu menariknya dengan paksa untuk menjauh dari kedai.


“Woi! Lo mau bawa gue ke mana?!”


Adrian tidak menjawab, lantas terus menarik-narik seragam Rian hingga satu kancingnya terlepas.


Setelah merasa cukup jauh dari kedai, Adrian menghentikan langkah. Posisi benda itu masih mengancam leher Rian. Mencoba berontak sedikit saja, benda itu pasti tidak segan untuk Adrian goreskan.


“Kita duel di sini. Cuma kita berdua.” Dilepaskannya kerah seragam Rian, kemudian ia masukkan benda itu kembali ke saku celana.


Adrian pun memasang kuda-kuda yang kokoh dengan tangan berposisi seperti petinju di depan dada. Rian cukup heran dengan apa yang dilakukan Adrian padanya. Namun, tak berpikir lagi, ia pun memasang kuda-kuda seperti apa yang dilakukan oleh Adrian.

__ADS_1


“Gue udah denger tentang lo. Dari yang gue denger, elo itu dijuluki si Auman Singa. Kalau gue bisa ngalahin lo, artinya gue akan berkuasa dan jadi bos berandal dari semua komplotan lo,” jelas Adrian sambil menajamkan tatapan dan menyeringai.


“Banyak bacot lo!” Rian melayangkan tinju kanan dengan keras, mengincar rahang Adrian, tetapi dengan cekatan Adrian menangkisnya.


__ADS_2