
BAB 11
Perkelahian kembali terjadi. Ruangan dipenuhi oleh suara teriakan, suara pukulan demi pukulan bahkan suara dentuman yang disebabkan kedua belah pihak saling banting-membanting.
Rian menghadapi Victor kali ini. Dengan tubuh besarnya, Rian tentu saja merasa lebih unggul daripada lelaki berkumis tipis itu. Karena kalah dalam hal fisik, Victor selalu menggunakan benda-benda di sekitarnya sebagai senjata. Ia mengambil patahan kayu dari kursi yang telah bobrok dan melayangkannya ke arah Rian, tetapi dengan cekatan Rian menunduk. Si Auman Singa menghantam perut Victor dengan keras, membuat lelaki berkumis memuntahkan cairan-cairan di dalam perutnya.
Merasa nyeri di perut, Victor menunduk demi mencoba mengambil napas. Ia merasa dalam kelompok Adrian, banyak sekali anggota inti yang kuat seperti Rian dan beberapa lainnya.
Sementara itu, Rico, Putra dan Ikshan masih berkutat dengan perkelahian. Keduanya melawan senior yang sebelumnya juga sudah mereka kalahkan.
__ADS_1
“Lo nggak jera juga? Rupanya lo ketagihan gimana rasanya tinju gue mengenai muka lo,” kelakar Rico pada lelaki mohawk bernama Iwan.
“Lo jangan senang dulu karena udah ngalahin gue cuma sekali. Kalau lo benar-benar kuat, maju dan hadapi gue!”
Tanpa pikir-pikir lagi, Rico berjalan pelan ke hadapan Iwan, kemudian mulai melepaskan pukulan. Iwan menangkis pukulan demi pukulan Rico, tetapi ia lengah dan tidak memperhatikan langkahnya. Sehingga itu Rico men-sliding Iwan. Lelaki mohawk menggelepar, terjatuh dengan kepala membentur lantai. Ia menjerit kesakitan. Ketika memegang kepala dan kembali melihat tangannya, ia menyaksikan cairan kental.
“Jangan harap lo bisa menang dari gue, Bangsat!” teriak Iwan yang lalu bangkit dengan penuh amarah.
Adrian belum melakukan perlawanan sejak tadi. Ia dengan sengaja hanya menghindar dan menangkis serangan Wira. Hal ini dilakukan oleh Adrian untuk menganalisa kemampuan serangan lawannya itu. Karenanya, meskipun sesekali pukulan mengenai wajahnya, ia terus coba menghindar.
__ADS_1
Wira merupakan seorang lelaki yang bertubuh tinggi. Kepalan tangannya pun sangat besar sehingga tenaga yang dihasilkan ketika memukul lawan begitu besar. Kakinya yang panjang dapat menjangkau lawan hingga lebih dari satu meter. Dari segi fisik, jelas Adrian kalah jauh dengan tubuh semampai yang tidak terlalu tinggi. Dari yang Adrian amati, Wira juga tampaknya ahli dalam bela diri sehingga pukulannya tertata secara teknis.
“Nggak ada perlawanan, ya? Lo mau sampai kapan menghindar?” Wira buka suara sambil terus menjejali Adrian dengan tinju dan tendangan.
Ketika Wira mencoba meraih leher lawannya itu, Adrian langsung mengapit tangan panjang Wira, lalu mencoba untuk memelintirnya, tetapi cukup susah dikarenakan posisinya kuda-kudanya tidak sempurna sehingga sang lawan mampu menarik tangannya kembali.
Keduanya saling berjauhan, sementara ini mengambil napas karena tampaknya keringat telah bersimbah di leher dan kening mereka.
Adrian sambil terengah-engah menatap lamat ke arah Wira, tak berselang lama menunjukkan seringai yang entah apa artinya.
__ADS_1
“Kali ini, akan gue patahkan leher lo,” Wira kembali melancarkan serangan, tetapi Adrian berhasil menghindar ke samping kanan. Dengan cekatan lelaki dingin itu melayangkan lututnya hingga membentur perut Wira hingga menjerit menahan sakit.
Napas Wira tertahan. Meskipun kembali dapat bergerak, tetapi ia sudah kehilangan konsentrasi sehingga inilah yang ditunggu-tunggu oleh Adrian. Wira telah lengah dan membiarkan beberapa bagian tubuhnya terbuka. Ditambah kecepatan serangannya sudah mulai menurun menurut analisa Adrian.