Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 9


__ADS_3

Dilihatnya wajah Viky yang tidak enak dipandang.


“Ada apa? Muka lo kelihatan kesel,” tanya lelaki bertubuh besar yang mengenakan tas selempang berwarna hitam.


Rian namanya. Ia merupakan salah satu berandal terkenal di SMP Nusantara, selalu menghakimi yang lemah, serta tidak sekali pun memberikan simpatinya kepada siapa pun. Selain itu, Rian terkenal dengan sebuah julukan, yaitu si Auman singa karena baritannya ketika berteriak terdengar seperti auman singa. Rian adalah pemimpin komplotan berandal di SMP Nusantara. Para siswa di sekolah itu bahkan pernah merasakan penghakiman dari Rian dan kelompoknya.


“Gue ketemu sama anak SMP Nusa Bangsa. Bos, kayaknya anak itu emang harus diberi pelajaran karena sudah berani melawan gue,” lapor Viky.


“Jadi, lo kalah sama anak SMP sebelah?”


“Bukan begitu, Bos. Gue sempat kelahi sama itu anak, tapi karena jalan ramai, gue nggak mau jadi tontonan semua orang.”


“Gue jadi penasaran sama anak yang elo maksud,” ucap Rian dipenuhi rasa penasaran. “Kalian semua, cari anak yang Viky maksud. Tantang dia duel sama kita,” titah Rian sambil menyeringai.


“Siap, Bos!” jawab semua anggota dalam kelompok Rian serentak.

__ADS_1


 


Ketika Adrian bersama tiga bawahannya—Rico,Putra dan Ikshan—sedang berkumpul di sebuah kedai depan SMP Nusa Bangsa, sekelompok remaja dari arah barat mencuri perhatian keempatnya. Sementara Adrian menatap lamat pada salah seorang lelaki bertubuh tinggi yang berada di barisan paling depan, Rico, Putra dan Ikshan malah menatap ekspresi wajah Adrian.


Rico, Putra dan Ikshan, merasa bahwa Adrian mengenal salah satu dari komplotan yang sedang menuju ke arah mereka.


“Lo bikin masalah sama siapa?” tanya Rico yang kebingungan. Dahinya perlahan-lahan mengerut, serta aliran napasnya tiba-tiba berat ketika menghela.


“Kita lihat aja nanti,” tandas Adrian, seperti biasa dengan wajah datar.


Rico, Putra dan Ikshan merasa mengenal kelompok itu ketika telah berada cukup dekat dari tempat mereka berdiri. Apa yang mereka pikirkan semakin kuat seiring dekatnya kelompok itu.


Beberapa meter dari kelompok Adrian, Viky mengangkat tangannya sebagai tanda untuk menghentikan langkah kaki teman-temannya. Lelaki bertubuh tinggi itu menatap tajam ke arah Adrian, lalu bola matanya bergerak ke kiri dan kanan ke arah Rico,Putra dan Ikshan.


“Lo!” Viky menunjuk wajah Adrian. “Gue nggak pernah main-main dengan kata-kata. Sekarang, gue buktiin sama lo. Lo masih berani sama gue?”

__ADS_1


Adrian menurunkan pandangannya sambil tersenyum meremehkan, cekikikan dengan pelan. “Nggak salah? Para cecunguk itu mau ngelawan gue? Gue kasih elo saran, bawa aja bos lo ke sini. Nggak perlu gue lawan cecunguk-cecunguk seperti kalian.”


Mendengar kalimat Adrian yang terkesan begitu meremehkan Viky dan kawan-kawannya, Viky terpancing api emosi sehingga menggertakkan gigi sebagai tanda tidak sabar untuk melakukan serangan kepada Yuda.


“Tunggu! Gue nggak mau menghabiskan tenaga untuk cecunguk seperti elo. Kalau mau, lain kali dan bawa bos lo!” tegas Adrian sambil menekan nada suara, balik menatap tajam wajah Viky. Lelaki itu tidak gentar menantang komplotan berandal yang bahkan kabar tentang keberingasan mereka sudah tersiar sampai SMP Nusa Bangsa.


“Adri, lo jangan main-main sama komplotan—"


“Gue nggak main-main. Gue serius dengan apa yang gue katakan,” potong Adrian, tak peduli dengan peringatan Rico.


“Gue setuju sama Rico, Dri. Lo nggak seharusnya main tantang gitu. Gue nggak tahu elo udah ngelakuin apa sehingga membuat komplotan SMP Nusantara jadi murka, tapi gue minta elo harus minta maaf sama mereka,” jelas Rico dengan perasaan khawatir.


“Nggak. Gue tetap mau bos mereka datang. Gue nggak peduli mereka komplotan berandal nomor satu di kota atau sedunia.” Adrian kembali mengarahkan netranya ke arah Viky dan semua komplotannya. “Sekali lagi, gue ulangi. Kalau kalian mau duel sama gue, suruh bos kalian datang. Gue nggak ada waktu untuk cecunguk seperti kalian.”


Adrian tidak peduli dengan wajah-wajah murka di hadapannya, lantas ia membalik tubuh dan melangkah pergi untuk segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2