
Dilihatnya Victor akan memukul dirinya dengan sebuah bangku, Adrian membelalak hingga secara refleks menggelindingkan tubuhnya ke samping. Hampir saja. Kayu-kayu yang tersusun membentuk bangku pun terlepas dan bobrok karena mengenai lantai sangat keras.
Adrian tidak bisa meremehkan kekuatan lawannya kali ini. Sudah jelas Victor cukup kuat dengan bukti bisa menerkaparkan Adrian.
Rasa sakit di punggung masih dirasakan oleh Adrian, ia paksa tubuhnya berdiri tegak dan memasang kuda-kuda. Tidak menunggu Victor menyerang, Adrian melesat, melancarkan pukulan berkali-kali ke wajah lawannya itu. Cukup merasakan nyeri di tangan, Adrian menggunakan lutut menyerang perut Victor.
Cairan kental berwarna merah pun keluar dari perut lelaki berkumis tipis. Adrian membanting Victor, menggelepar terbatuk-batuk.
Tak lagi suara riuh terdengar di telinga, membuat Adrian memutar pandangan ke sekeliling. Ternyata, para anggotanya telah berhasil merobohkan anggota lawan. Hanya Adrian dan beberapa anggotanya saja yang masih berdiri. Lainnya tergeletak di lantai. Tentu saja, Rian, Rico, Putra, dan Ikhsan masih berdiri dengan kokoh karena keempatnya adalah anggota elit di dalam kelompok.
__ADS_1
“Omong besar. Dugaan gue benar, kan? Itu faktanya, kalian semua memang goblok.” Adrian meludahi wajah Victor, lalu pergi meninggalkan ruangan diikuti oleh anggota lainnya.
Adrian berjalan seorang diri berniat untuk mengelilingi seluruh ruangan di sekolah barunya. Seperti biasa, Adrian selalu menjadi perhatian para perempuan bahkan di sekolah paling buruk ini. Sekalipun dicap sebagai SMA terburuk, masih ada murid perempuan di sekolah ini. Para perempuan yang bersekolah di tempat ini pun tidak buruk seperti cap sekolahnya. Mereka tidak kalah cantik dengan murid perempuan di sekolah elit.
Namun, Adrian tidak begitu tertarik untuk urusan perempuan. Oleh sebab itulah ia tidak sedikit pun menatap balik atau menyapa para perempuan yang pernah melontarkan sapaan padanya.
Adrian mendongak pada papan penanda yang menempel di pintu sebuah ruangan, tertulis ‘gudang’. Dari pintu gudang yang terbuka, seorang perempuan berjalan keluar. Sang perempuan berhenti saat menyadari kehadiran Adrian dan menatap lelaki itu. Keduanya beradu pandang cukup lama, tetapi Adrian lebih dulu mengalah dan memutuskan pergi ke ruangan lainnya.
Pemain basket yang berada di lapangan menatap Adrian, lalu berkata, “Woi, lempar bolanya.”
__ADS_1
Adrian berhenti memainkan bola, menolehkan pandangan melihat pemain berkepala botak hanya sekilas. Ia tidak merespons, lantas berjalan dengan membawa bola itu.
“WOI! KEMBALIKAN BOLANYA, SIALAN!”
Langkah Adrian terhenti. Namun, cukup lama waktu berjalan tak juga ia kembalikan bola itu ke para pemain. Karena tindakan itu, lelaki berkepala botak geram dan menghampiri Adrian.
Dari arah belakang, lelaki botak menepuk pundak Adrian sembari berucap, “Kembalikan bolanya.”
Adrian pun membalikkan badan. “Ambil kalau bisa.”
__ADS_1
Lelaki botak berusaha merebut bola, sedangkan Adrian berusaha mempermainkan si botak, menghindarkan bola dari tangan berkulit hitam itu. Beberapa menit berlalu, si botak bertambah geram karena tidak bisa merebut bola bahkan tidak tersentuh olehnya. Dengan kekesalan yang memuncak itu, si botak dengan refleks dipicu emosinya melayangkan tinju dan menghantam wajah Adrian.