Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 34


__ADS_3

BAB 12


Adrian melanjutkan aksi otoritarianisme nya di sekolah yang baru ini. Ia dengan kejam menantang para murid yang tidak tahu apa-apa. Ini seperti dirinya dulu yang selalu diadili dalam keadaan tidak bersalah. Akan tetapi, ketika pikiran tentang masa lalu itu merasuk di benaknya, Adrian selalu berkata pada dirinya bahwa dirinya yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu boleh saja dirinya ditikam dari segala sisi, tetapi sekarang gilirannya lah yang menjadi seorang penikam.


Ketika seorang lelaki cupu berkacamata melewati koridor menuju perpustakaan, Adrian dengan lugas menghadang lelaki itu dan menyeringai. Dengan takut lelaki cupu beringsut mundur.


“Woi, lo sadar kalau sebenarnya sudah salah sekolah? Sekolah ini bukan tempat lelaki cupu macam elo!” cetus Adrian sambil terkekeh.


Lelaki itu tidak merespons. Matanya awas untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang akan dilakukan Adrian padanya.


“Kenapa? Takut?”


Lelaki cupu menggeleng cepat.


“HAH?! Lo nggak takut?!” Adrian mencondongkan tubuhnya sambil memahat wajah seseram mungkin.


“T-takut, Kak, takut,” jawab lelaki cupu itu sambil memeluk buku yang dibawanya.


“Woi, sudah saatnya elo berubah. Orang cupu seperti lo nggak pantas ada di sekolah ini. Lo harus mengikuti lingkungan. Lo boleh gabung di kelompok gue,” Adrian menawarkan.


“T-tapi, Kak. Saya datang ke sekolah ini untuk belajar, bukan untuk berkelahi—"


“GOBLOK!” bentak Adrian. “Sekolah ini sekolah sampah! Bukan tempat elo belajar. Lagi pula, kenapa juga elo memilih sekolah ini? Aah? Kenapa?”

__ADS_1


“S-saya tidak punya cukup biaya untuk sekolah di tempat lain, Kak.”


“Kalau elo mau tetap sekolah di sini, lo gabung ke kelompok gue. Lo bisa jadi babu dan mengabdi sama gue.”


Deru napas lelaki cupu semakin cepat, ketakutan telah menyelimuti dirinya. Untuk menolak saja ia tidak mampu. Bagaimana jika Adrian melakukan hal buruk padanya sementara ia tidak punya cukup kemampuan untuk melawan


“Heh! Lo mau nggak?!”


“M-m-mau, Kak. Iya, s-saya mau.”


Dengan jawaban itu, lelaki cupu akhirnya dibawa oleh Rian menuju perkumpulan anggota. Di sana, ia diperlakukan seperti seorang pembantu. Disuruh macam-macam, dipaksa memijit para anggota yang kelelahan, dan lain-lain. Meski begitu, lelaki cupu itu hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan.


Seorang perempuan menggeleng-gelengkan kepala karena melihat aksi Adrian yang begitu kejam. Sedari tadi ia sudah memperhatikan Adrian dari balik kaca jendela ruang perpustakaan. Baginya, lelaki tersebut semakin hari semakin merajalela melakukan aksi yang menurutnya sangat tidak menyenangkan.


“Kamu ternyata nggak berubah, Adrian. Semakin hari, kamu semakin terlihat seperti bukan diri kamu.”


Victor masuk ke sebuah ruangan kosong di lantai dua bangunan kelas XI. Di ruangan itu, terdapat beberapa orang berambut gondrong, bergaya ala Harajuku dengan celana seragam yang dibuat lebih longgar di bagian atasnya—model Inakaya Denim.


Lelaki dengan kalung emas yang menggantung hingga dada menatap Victor yang sedang melangkah masuk. Berhasil masuk, Victor menunduk di hadapan lelaki berkalung.


“Jangan nunduk, Bodoh!”


Victor mengangkat kepalanya, lalu lelaki berkalung menatap lamat beberapa luka di wajah Victor. Usai itu, ia terkekeh.

__ADS_1


“Siapa pelakunya?” tanya lelaki berkalung.


Victor bergeming, belum mulai membuka mulut. Kembali wajahnya menunduk. Dadanya telah berontak, mungkin merasa takut dengan lelaki di hadapannya itu.


“SIAPA PELAKUNYA?!” ulang lelaki berkalung dengan teriakan yang menggema di seluruh ruangan.


Victor terkesiap dengan suara menggelegar itu. Ia harus menjawab pertanyaan sang lelaki. Atau jika tidak, ia juga yang akan merasakan akibatnya.


“Komplotan anak baru,” jawab Victor lirih.


“GOBLOK!”


“Bos—“


“Gue nggak mau dengar alasan lo! Sekali goblok tetap goblok!”


Suasana kembali hening. Beberapa lelaki lainnya menghela napas dan mulai resah karena lelaki berkalung itu telah murka.


“Lo masih punya otak? Lo masih punya otak ATAU NGGAK?!”


“P-punya, Bos,” jawab Victor dengan gugup.


“Lo udah mencoreng nama kelompok kita. Dengan kekalahan elo yang kedua kalinya ini, elo akan menebus semuanya.”

__ADS_1


Tiga lelaki maju ke hadapan Victor yang kini berwajah semakin gelisah. Ini adalah cara di dalam kelompok itu untuk menghukum anggota yang mempermalukan atau tidak becus dalam perkelahian. Bagi mereka yang kalah dalam perkelahian, akan diajarkan cara bertarung, tetapi bukan dengan cara biasa.


“Bikin mampus!” titah lelaki berkalung, lalu duduk dengan santai menyaksikan Victor dikeroyok oleh teman-temannya sendiri.


__ADS_2