Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 16


__ADS_3

“Pergi lo! Ngadu ke teman-teman lo! Gue akan tunggu.”


Sang lelaki pun enyah dari hadapan Rian beserta Rico, Putra dan Ikshan. Tiga lelaki di belakang Rian menyunggingkan senyum. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Keyakinan mereka bertambah, menyerahkan semuanya kepada Rian.


 


Sudah Lima belas menit menunggu, membuat Rian, Rico, Putra dan Ikshan sudah sangat lelah untuk menunggu anak SMA Pratama Star Elite School keluar dari sekolah tersebut. Mereka berempat pun memutuskan untuk mencari keberadaan lelaki beberapa waktu lalu beserta anggota kelompoknya yang lain di dalam sekolah SMA Pratama Star Elite School tersebut. Tapi mereka tak menemukan anak SMA Pratama Star Elite School didalam sekolah. Lalu, Mereka— Rian, Rico, Putra dan Ikshan berjalan ke belakang gedung sekolah yang mana terdapat banyak sekali pedagang kaki lima. Tidak sia-sia mereka ke sana, karena akhirnya mereka menemukan banyak siswa SMA yang kemungkinan dari SMA Pratama Star Elite School sedang menikmati waktu dengan merokok dan meminum kopi kemasan.


Jalan di sekitar bukanlah jalan utama sehingga tidak terlalu ramai oleh kendaraan yang melintas. Dengan gagah keempat lelaki SMP tersebut melangkah karena telah menemukan mangsa. Di kejauhan terlihat lelaki yang beberapa waktu lalu. Ia semringah menatap Rian melangkah sambil menginformasikan kepada teman-temannya yang lain.


Lelaki dengan rambut pirang berdiri paling depan di antara anggota lain sembari mengepul-ngepul kan asap rokok ke atas. Anggota lain yang masih santai duduk merapatkan diri sehingga membentuk barisan.


“Lima puluh orang lebih,” pungkas Rico memberitahu kepada Rian.


Ketiganya berhenti beberapa meter dari kelompok berandal SMA Pratama Star Elite School. Beberapa saat terjadi saling pandang. Lelaki yang merupakan ketua dari kelompok berandal SMA memutuskan maju beberapa meter. Ia menyeringai setelah menatap lama sosok Rian.


“Lo nyari gue? Ada masalah?”


“Nggak ada masalah. Tepatnya belum ada masalah. Justru tujuan gue kemari mau bikin masalah.”

__ADS_1


Lelaki berambut pirang—Aris—tertawa renyah sambil menepuk-nepuk paha. Tampaknya keberanian Rian seperti sebuah lelucon baginya. Namun, ia cukup salut dengan hal tersebut karena bisa mengalahkan salah satu anggotanya.


Aris bertepuk tangan sambil berkata, “Gue salut sama lo bisa ngalahin Leo.”


Sedangkan Rian hanya memberikan respons dengan seringai.


“Tapi, jangan senang dulu. Ngalahin Leo, bukan berarti elo bisa ngalahin gue atau anak buah gue yang lain. Asal lo tahu, Leo itu anggota paling lemah di antara kami.”


“Gue tahu. Dilihat dari mana pun, anak buah lo bernama Leo itu emang paling lemah di antara kalian.”


 


“Satu hal yang perlu elo tahu. Gue Rian. Dan elo nggak akan bisa menang lawan gue.”


“Koso!” teriak Aris memanggil salah satu bawahannya.


Lelaki berpenampilan cupu, menggunakan kacamata ber-frame hitam mendekati Aris. “Iya, Bos?”


“Catat apa yang dia bilang barusan.”

__ADS_1


“Emang dia bilang apa, Bos?”


“GOBLOK!” Aris memekik sembari menjitak kepala lelaki cupu bernama Koso. “Lo bilang apa? Ulangi sekali lagi.”


“Lo, atau kalian nggak akan bisa menang lawan gue,” cetus Rian mengulang kalimatnya


Koso mencatat perkataan Rian pada sebuah buku kecil seukuran tangan.


“Udah lo catat?”


“Udah, Bos!”


“Bagus. Balik!”


“Gue punya tawaran bagus sebelum lo memutuskan kalah dari gue.”


...----------------...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2