
Ketika Adrian melangkah bersama Rico, Putra dan Ikhsan, seorang perempuan dengan hidung mungil nan lancip memberanikan diri mengejar langkah mereka. Ia menyejajarkan posisi dengan Adrian, tepat di samping lelaki itu.
“Eh, Adrian. Udah siap, kan, ujiannya hari ini?” tanya sang perempuan dengan senyum yang dipanahkan ke arah Adrian, tetapi sayangnya tak dapat membuat Adrian bersikap manis padanya.
Ya, ini kali pertama perempuan itu memberanikan diri untuk bicara dengan sang lelaki. Padahal, sebelumnya ia hanya melihat Adrian dari kejauhan. Acap kali kalimat sapaan tidak pernah dapat keluar dari mulutnya.
“Udah.”
“Oh. Udah belajar, kan?” tanya lagi sang perempuan, senyumnya masih mengembang.
“Udah.”
__ADS_1
Karena jawaban-jawaban singkat tanpa ekspresi dari Adrian, Rico yang berada di sebelah kanannya menyikut lengan Adrian. Lelaki dingin itu belum mengerti dengan tindakan yang dilakukan oleh Rico, lantas mengabaikannya.
Rico menaikkan satu sudut bibirnya.
“Eh, gue duluan, ya. Ruangan gue ada di lantai atas.” Sang perempuan berbelok ke kiri dan menaiki tangga.
...----------------...
Beberapa bulan ujian berlalu, hari ini begitu ramai dengan siswa-siswi yang berbondong-bondong melangkah ke papan pengumuman. Tepat sekali, mereka sedang sibuk mencari nama masing-masing pada lembar pengumuman kelulusan SMP Bina Bangsa.
Putra lebih dulu menemukan namanya terpampang dengan keterangan “lulus” sehingga keluar dari kerumunan, lalu berteriak dengan girang. Sementara itu, Rico dan Ikhsan masih sibuk mencari, setelah beberapa saat, ia temukan juga namanya, lalu pada kolom keterangan tertulis “lulus” begitu juga dengan Ikhsan yang menemukan namanya lalu pada kolom keterangan tertulis "lulus".
__ADS_1
Sungguh hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi semua siswa kelas IX tanpa kecuali. Setelah itu, mereka dikumpulkan oleh para guru di lapangan untuk mendengarkan pengumuman. Saat masuk ke barisan, Rico, Putra dan Ikhsan celingukan mencari wajah atau setidaknya batang hidung Adrian. Namun, tak mereka temukan.
Karena terlalu fokus mencari di belakang, tak mereka lihat bahwa Adrian ternyata telah berdiri di depan bersama dengan para guru. Tentu saja, Rico, Putra dan Ikhsan yang melihat hal itu mengira-ngira apa yang akan diumumkan oleh para guru sehingga Adrian berada di depan bersama mereka.
“Baiklah, Anak-anak. Tolong diam dan dengarkan. Saya ucapkan selamat atas kelulusan kalian semua para siswa kelas IX. Hari ini, kalian adalah kebanggan kami karena tidak satu pun dari kalian yang tidak lulus. Kalian semua lulus dengan hasil yang cukup bagus.”
Semua orang yang berada di lapangan bertepuk tangan, begitu juga para guru yang mendampingi Kepala Sekolah.
“Ada satu lagi pengumuman yang paling menggembirakan, sekaligus mengharukan dan mengharumkan nama sekolah. Bahwa di hari ini, salah satu siswa kelas IX A mendapat peringkat pertama dari hasil Ujian Akhir Sekolah di kota ini. Dengan bangga, saya ucapkan selamat untuk Adrian Mahesa Putra karena telah lulus dengan nilai yang sangat sempurna melebihi harapan kami.”
Kembali tepuk tangan menggema, kali ini lebih ramai daripada sebelumnya. Adrian membungkuk dengan wajah datar—biasa-biasa saja—bahkan setelah mendapat peringkat pertama yang nilainya sempurna pada Ujian Akhir Sekolah. Meski begitu, para perempuan semakin dibuat berkeinginan untuk memiliki lelaki tampan yang juga jenius itu.
__ADS_1
Penyesalan hadir satu per satu dalam benak para siswa yang pernah tanpa belas kasihan mem-bully lelaki peraih peringkat pertama itu. Mereka sungguh malu kepada diri mereka sendiri telah merendahkan seseorang yang menjadi kebanggaan sekolah
BERSAMBUNG