Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 4


__ADS_3

BAB 2


Suasana waktu istirahat di SMP Bina Bangsa seperti biasa sangat tenang. Setelah guru meninggalkan kelas, siswa/siswi bergerombol keluar menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.Di kelas IX A, tampak satu lelaki sedang berkutat dengan novel ditangan. Membaca dengan seksama. Ia memang bukanlah salah satu dari para siswa/siswi yang memilih belanja di kantin. Ia memilih untuk menyendiri dikelas sambil membaca novel kesukaannya. Memang benar, Adrian merupakan lelaki kutu buku yang terkenal jenius. Setiap pelajaran yang diberikan oleh guru mampu ia selesaikan dengan mudah dan benar. Meskipun ia tidak mendengarkan penjelasan dari sang guru, kemampuannya dalam mengajarkan soal tidak menurun sedikitpun.


Di sela-sela fokus yang merajai pikiran, Adrian dikejutkan dengan suara gebrekan meja. Ia terkesiap seketika menutup novel dan meletakkan di atas meja. Lalu, ia melihat sebuah tangan yang sangat familiar untuknya. Setelah memastikan tangan yang besar yang dibalutkan kulit putih itu, ditatapnya Rico dengan wajah datar seolah ketakutan-ketakutan di hari kemarin telah melebur, hilang tanpa jejak dan tanpa ada satupun yang bersemayam dibenak.


"Eh, Cupu! mana duit setoran lo?" pungkas Rico sambil menengadahkan telapak tangan didepan dada Adrian. Sementara Putra salah satu teman Rico menyeringai terhadap lelaki yang sedang bergeming itu.

__ADS_1


Tak berselang lama, Adrian tersenyum dan menundukkan wajah. Hal ini tentu saja membuat Rico, Putra, dan Ikshan mengernyit heran. Pasalnya, mereka mengenal Adrian ialah seorang lelaki yang penakut, bahkan ketika melihat Rico saja, ia langsung gemetaran. Namun, kali ini tidak sama sekali. Adrian tidak gemetar bahkan senyum yang terpahat diwajahnya belum sirna.


"Eh, Goblok! lo kenapa senyum-senyum? Gue minta duit! Bukan minta senyum elo yang menjinakkan itu!" bentak Rico karena merasa dirinya diremehkan oleh Adrian.


Lelaki bertubuh semampai itu belum merespons. Bahkan kini ia dengan berani mengeluarkan tawa meski pelan.


Emosi telah memuncak didalam diri Rico sehingga tangannya kembali menggebrak meja dengan amat keras, suaranya terdengar hingga ke luar kelas. Para siswa yang duduk di kursi depan kelas pun memastikan apa yang sedang terjadi. Sudah tak asing, sebab bukan kali pertama mereka melihat Rico menghakimi Adrian. Meskipun begitu, bukannya merasa simpati dengan lelaki bermata cekung itu, mereka semua baik laki-laki dan perempuan malah menantikan aksi Rico yang lebih parah dari sekedar menggebrak meja. Mereka juga tidak suka dengan Adrian. Menurut pandangan mereka, Adrian merupakan lelaki yang anti sosial, pelit jika diminta jawaban ketika ulangan, sok pintar, menyebalkan karena tampangnya yang polos, dan lainnya. Padahal, sesungguhnya Adrian hanya tidak bisa akrab dengan mereka. Namun, cap 'cupu' itu telah melekat dari dalam diri lelaki itu semenjak kehadirannya di sekolah dimulai dari kelas VII.

__ADS_1


“Gue mah nunggu adegan baku hantam.” Ucap seorang siswa sambil diiringi oleh tawa yang bergelak, disambut oleh siswa lain di sekitarnya.


“Lagian itu si cupu pake diam segala. Gimana orang nggak kesel lihatnya?”


“Dasar cupu! Gue berharap Rico menghajar lo sampai mati!”


Celoteh-celoteh seperti itu memenuhi koridor bangunan kelas IX A. Bahkan setiap komentar mampu ditanggkap oleh telinga Adrian. Namun, ia belum mau mengambil tindakan atau merespons permintaan Rico yang terkesan begitu memaksa. Yah, namanya juga berandal sekolah sedang malak.

__ADS_1


__ADS_2