
BAB 10
Adrian telah berhasil memamerkan kekuatannya di hadapan para siswa. Itu merupakan strategi Adrian untuk dapat merekrut anggota ke dalam kelompoknya. Oleh karena itu, sekarang cukup banyak yang mengenal lelaki dingin itu.
Hari pertama bersekolah memang kerap kali tidak ada pelajaran. Namun, para siswa diharuskan masuk ke kelas. Terlebih bagi siswa baru untuk mulai perkenalan dengan para guru. Tentu saja, acara perkenalan semacam itu tidak penting bagi seorang Adrian. Ia mengajak semua anggotanya berkumpul di bangunan sekolah tak terpakai di samping perpustakaan yang tidak tampak seperti sebuah perpustakaan. Bagaimana tidak? Tak ada penjaga di perpustakaan itu, hanya ruang kosong yang terkesan angker. Buku-buku di raknya pun tidak diatur dengan baik.
“Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu,” kata Adrian sambil duduk di sebuah bangku kayu berwarna hitam. Para anggotanya duduk di lantai menghadap pada dirinya.
“Tamu?” Rico yang berdiri di samping Adrian angkat bertanya. Ia belum memahami apa yang dimaksud oleh ketuanya itu.
“Perkelahian tadi akan memicu lebih banyak anggota berandal untuk datang menantang kita. Jadi, gue harap kalian siap bertempur dengan mereka.”
“Oh. Gue juga mau ngerasain senang-senang sama berandal SMA yang terkenal paling buruk.” Rian berucap. Ia duduk pada sebuah meja sambil bersedekap tangan.
__ADS_1
“Satu orang tunggu di luar dan sambut kedatangan tamu kita.” Adrian memerintahkan.
Salah satu anggota pun beranjak dan berdiri di kusen tak berpintu. Tak lama kemudian, apa yang dikatakan oleh Adrian benar-benar terjadi. Lebih dari lima puluh siswa beramai-ramai melangkah di koridor menuju tempat kelompok Adrian berada.
“Bos. Tamu kita sudah datang.”
Lelaki yang berjaga di luar akhirnya masuk. Anggota yang lain bangkit dari duduk, menanti tamu-tamu mereka memasuki ruangan.
“Selamat datang,” ucap Adrian sambil bertepuk tangan. Ia bangkit dari duduk dan mendekati lelaki berkumis itu. “Kami menunggu cukup lama. Apa cukup lama mengumpulkan semua anggota?”
Dahi sang lelaki semakin mengerut. “Lihat apa yang lo lakuin sama anak buah gue,” katanya sambil menunjukkan anak buah yang merupakan senior beberapa waktu lalu dikalahkan oleh Adrian.
“Sakit, Bangsat! Elo pakai senjata tajam!”
__ADS_1
Adrian bergelak tawa memenuhi ruangan yang cat di dinding-dindingnya terkelupas dan kusam.
“Itu karena dianya aja yang goblok.”
Sambil meraih kerah jaket jeans yang dikenakan oleh Adrian, lelaki berkumis memekik, “Apa lo bilang?!”
Adrian sejenak mengarahkan bola matanya pada tangan lelaki yang sedang mencengkeram jaketnya. “Atau kalian semua juga goblok?”
“WOI! HABISI MEREKA!”
Perkelahian pecah di dalam maupun di luar ruangan. Para anggota kedua belah pihak berteriak memicu semangat bergejolak.
Ketua berandal—lelaki berkumis tipis—bernama Victor berhasil menghantam wajah Adrian dan melepaskan tubuh lelaki itu hingga terkapar di lantai. Tentu, tidak semudah itu untuk mengalahkan Adrian. Ia bangkit sambil meludah, lalu mulai melancarkan tendangan pada perut Victor. Tendangan Adrian berhasil ditangkap oleh Victor, lalu ia dorong tubuh Adrian hingga bertemu dengan dinding, terempas cukup keras. Adrian menyelorot hingga terbaring di lantai.
__ADS_1