
“Ngapain itu cewek ngikut lo, Bos?!” Rico bertanya sambil menatap Vera dengan dendam. Ya, lelaki itu tentu saja masih menyimpan sebuah dendam karena beberapa kali merasakan dipukul oleh Vera.
“Nggak peduli gue,” jawab Adrian ketus, lalu duduk pada kursi yang biasa ia gunakan.
Vera dengan ragu masuk ke ruangan itu.
“JALANG! Ngapain lo ke markas kami?! Lo cari masalah?!” Putra berteriak penuh amarah.
“Woi! Jangan ada yang ribut di sini! Gue lagi malas!” kata Adrian.
“Nggak. Gue nggak cari masalah di sini. Gue cuma mau main-main ke markas siswa baru yang dingin!” Kedua mata Vera mengitari sekeliling. Ia melihat para anggota kelompok Adrian satu per satu. Ada yang sedang merokok, ada yang sedang makan, dan aktivitas malas-malasan lainnya.
“Lo jangan lupa soal tawaran gue,” ucap Vera sambil tersenyum miring ke arah Adrian.
“Dua minggu. Hari ini gue sedang malas. Gue nggak mau terlibat masalah.”
“Atau lo ... takut?” Vera menukas sembari menyipitkan mata.
__ADS_1
Tentu, pertanyaan Vera membuat Adrian terkekeh geli. Menjadi hiburan paling konyol bagi lelaki itu.
“Percuma ngomong. Kita lihat aja siapa yang paling tangguh di antara mereka.”
“Naga Hitam adalah kelompok terbesar di—"
“Gue sudah bosan dengar cerita omong kosong itu!” Adrian bernada cukup tinggi, memotong penjelasan Vera yang sekian kali sudah ia dengar. “Semua orang bicara soal kelompok Naga Hitam adalah yang terbesar. Gue nggak takut sama mereka! Mau mereka punya kelompok satu kota pun gue nggak akan mundur! Lo ingat kata-kata gue! Dan jangan pernah elo meninggi-ninggikan soal kelompok Naga Hitam!”
“Oke. Sorry. Gue hanya mengingatkan elo dan semua anggota elo.”
“Eh, cewek nggak tahu diri! Elo budek?! Udah, jangan cerita soal kelompok Naga itu lagi. Kami semua udah tahu gimana mereka. Pada akhirnya, kekuatan yang akan membuktikan. Bukan omongan!” Rico menimpali tak mau kalah.
Vera terdiam, tetapi menggurat senyum meremehkan pada Rico dan Putra.
“Bangsat! Besar juga nyali lo—“
Ketika Rico akan melesat untuk menyerang Vera, Adrian bangkit menghentikan lelaki itu.
__ADS_1
“HENTIKAN!” bentak Adrian. “Lo dengar apa yang gue ucapin?! Lo nggak boleh ribut di sini!”
Rico dan Putra akhirnya tertunduk setelah mendapatkan bentakan dari sang ketua.
“Dan untuk lo!” Adrian menunjuk Vera, lalu menghampiri sang perempuan. “Lo harus segera pergi dari markas gue karena gue sedang ingin tenang hari ini.”
Dengan lugas diraihnya tangan kanan Vera oleh Adrian, lalu ia tarik untuk segera berjalan keluar dari ruangan. Meski terkesan begitu kasar, entah mengapa Vera merasa tidak terganggu oleh hal itu. Ya, sangat jelas terlihat dari ekspresi di wajah perempuan itu. Ia seperti seorang perempuan yang senang ketika Adrian memegang tangannya.
Sesekali Vera melihat tangannya yang tertaut oleh tangan Adrian. Namun, dilepaskan oleh Adrian setelah sampai di luar ruangan.
“Lo pergi dari markas gue!” usir Adrian, yang kemudian masuk kembali.
Vera berjalan dengan pelan meninggalkan markas itu. Di tengah perjalanannya, ia memandang tangannya yang baru saja menyentuh kulit tangan Adrian. Entah mengapa, sebuah senyum lalu tergurat di wajah cantik perempuan itu dengan bola mata sipit itu.
Melihat wajah Vera mengingatkan Adrian pada satu perempuan yang acap kali ia saksikan fotonya sewaktu SMP. Ya, Vera begitu mirip dengan perempuan yang ada di dalam pikiran Adrian setelah cukup memperhatikannya. Apakah memang Vera mempunyai hubungan khusus dengan sang perempuan? Entahlah, Adrian merebahkan punggung pada kursi dan menatap langit-langit ruangan.
Sebuah motivasi utama mengapa Adrian bertekad untuk menjadi kuat.
__ADS_1
BERSAMBUNG