
Tangan Adrian melayang dengan keras, menghantam wajah lelaki paling tengah yang mencoba memberikan alasan. Akibat hantaman itu, sang lelaki tergeletak di aspal panas sambil memegangi bagian wajahnya yang perlahan membiru.
“Kalian berempat! Mau lo kayak dia?!”
Keempat lelaki yang masih berdiri, bergeming tanpa menatap wajah Adrian yang tengah dikuasai emosi.
“Bangsat lo, Dri. ” Lelaki yang tergeletak itu bangkit dan memberanikan diri membantah di saat-saat Adrian sedang naik pitam. “Selama ini, gue diem dan nurut sama perintah elo. Elo itu bukan siapa-siapa, Dri. Elo itu ... inget? Elo itu lelaki cupu—"
Serentak dengan teriakan yang menggelegar, Adrian kembali mengayunkan tinju hingga membentur mata kanan sang lelaki. Kembali ia menggelepar di atas aspal, kali ini dengan darah yang berhasil keluar dari sel-selnya. Napas Adrian menderu desau, jelas sekali ini tanda bahwa ia sedang sangat murka.
“Gue nggak suka ada seorang pengkhianat yang membela diri! Lo pilih mampus di tangan gue atau mampus dikeroyok seratus orang?”
Keempat lelaki yang masih berdiri sambil ketakutan lantas menjongkok dan meminta ampun kepada Adrian.
“Dri. Gue ... gue minta maaf. Ampuni gue, Dri. Gue ....”
Adrian berbalik badan menghadap semua anggota yang sedang menyaksikan. Ia tidak peduli dengan permohonan maaf lelaki-lelaki pengkhianat di belakangnya walau telah memohon penuh penyesalan.
“Kalian habisi dia!”
__ADS_1
Komando telah terdengar, itu artinya mutlak tanpa bisa ditawar lagi.
“Adriannnnn!! Woi, Adriannnn! Sorry, Adriannn!” teriak keempat lelaki dengan wajah ketakutan.
Tak menghiraukan jerit mohon itu, Adrian melangkah melewati barisan para anggota. Satu per satu maju mendekati para pengkhianat yang lalu dikeroyok massa. Tanpa belas kasihan, tanpa simpati atau empati.
Akan tetapi, di tengah-tengah keributan itu, sebuah suara menggema terdengar di telinga Adrian dan para anggotanya.
“Woi, Banci! Banci! Jangan main keroyokan, Banci!”
Adrian membalikkan badan, lalu di depan sana melihat komplotan berandal yang entah berasal dari mana.
Adrian melangkah maju melewati para anggota, menghampiri komplotan berandal yang sepertinya sedang ingin menikmati pertarungan dengan kelompok Adrian.
“Siapa kalian?” tanya Adrian sambil menghentikan langkah, berdiri beberapa meter dari geng lawan.
“Lo nggak perlu tahu kami siapa, Banci.”
“Oh, mau jadi pahlawan kesiangan?” Adrian menyeringai.
__ADS_1
“Woi, bangun lo! Jangan jadi laki-laki lemah!”
Lelaki yang terkapar pertama kali oleh hantaman Adrian, lantas bangkit. Dengan cepat ia berlari, sepertinya mencari perlindungan pada kelompok yang baru saja datang.
“Tolong, Kak. Gue dihajar karena nggak mau ngikuti keinginan mereka. Terutama si bangsat Adrian!” Ia bersembunyi di balik lelaki yang mengenakan rompi jeans, berposisi paling depan, dan sepertinya merupakan ketua dari kelompok itu.
“Minggir lo. Biar gue yang urus.”
“Oh, gitu.” Adrian langsung tertawa begitu renyah sambil menghadapkan wajahnya ke langit yang cerah. “Pahlawan kesiangan. Tepuk tangan untuk pahlawan kita!”
Semua anggota bertepuk tangan mengikuti sang ketua.
“Banci kalian semua. Lo ada berapa puluh orang dan mengeroyok lima orang lemah?”
“Oh, idealis juga ternyata.”
Adrian mengacungkan tangan kanan, lalu tiga orang maju dan berdiri di sampingnya—Rico, Putra, Ikhsan, dan Rian. Masing-masing berwajah bengis, merasa tidak sabar untuk memulai pertarungan antar geng.
“Bancinya sudah kelihatan. Ketua minta perlindungan? Banci asli!
__ADS_1