
Seringai di wajah Adrian kembali melebar.
“Dan sekarang elo adalah bagian dari kelompok kami.”
“Satu hal yang perlu kalian ketahui. Kelompok kami bergantung pada kelompok terbesar sekolah ini,” jelas William.
“Siapa mereka?” tanya Adrian.
“Bosnya bernama Tora. Seseorang yang licik dan kejam. Kalian nggak akan bisa mengalahkan mereka.”
“Lo remehin kemampuan gue?” Adrian mengernyitkan dahi, ia merasa kesal dengan perkataan Wira.
“Siapa bilang? Gue bukannya remehin elo. Tapi, satu lagi kelompok penopang kami. Mereka adalah kelompok Naga Hitam yang dibentuk oleh lelaki bernama Romy. Kedua kelompok itu memiliki kekuatan yang setara di sekolah ini dan merupakan orang-orang yang sangat ditakuti.”
“Oh, begitu. Gue nggak takut sedikit pun. Justru, ini akan menguntungkan kami.”
“Memang sekuat apa mereka?” Rian melayangkan pertanyaan. Ia tampak penasaran dengan dua kelompok yang dijelaskan Wira.
“Sangat kuat. Gue nggak tahu gimana menjelaskannya. Yang pasti, kedua kelompok itu bahkan ditakuti oleh para guru ketika sudah berbuat onar. Jadi, gue pikir elo harus hati-hati sama mereka.”
__ADS_1
“Lalu?”
Wira bangkit dan mendekati Adrian. “Gue ingin bicara berdua sama lo,” ucapnya kemudian.
Adrian memenuhi permintaan Wira, lalu menyuruh semua orang yang berada di dalam ruangan untuk keluar. Para anggota segera keluar, begitu juga dengan kelompok lawan yang berhasil ditaklukkan. Akan tetapi, tiga anggota inti kelompok Adrian menetap karena merasa perlu juga mendengarkan pembicaraan antara Wira dengan Adrian.
“Sekarang, ngomong!” perintah Adrian pada Wira.
“Di dalam kelompok kami, masing-masing terkoneksi dengan para senior dan semua kelompok Naga Hitam. Gue nggak menyarankan mereka untuk bergabung ke dalam kelompok lo sehingga semuanya akan menjadi pengkhianat.”
“Lalu, kenapa lo ngomong sama gue? Memang apa untungnya buat lo?”
“Bukannya dia bawahan lo?”
“Memang. Gue dipercayai membawa semua anggota ini karena dalam bagian kelompok Naga Hitam, guelah yang paling diandalkan. Untuk itu, untuk sekarang dan entah sampai kapan, gue akan pura-pura tetap menjadi musuh lo,” jelas Wira sambil menatap lamat mata Adrian.
Lelaki dingin itu mencoba berpikir. Matanya beradu pandang dengan Wira. Mereka sama-sama mencari rasa percaya yang bisa meyakinkan hati mereka masing-masing.
“Oke. Gue setuju. Tapi, lo harus ingat! Kalau sampai gue tahu elo khianatin gue, gue mampusin lo!”
__ADS_1
Wira hanya mengangguk, pertanda dia setuju.
“Pukul gue,” kata Wira.
Adrian menolehkan pandangan ke arah Rian, Estu, dan Putra. Meminta keempat anggota inti itu untuk memukul Wira agar semua anggota termasuk Victor percaya bahwa Wira menolak keinginan Adrian.
Meskipun hanya pura-pura, tetapi ternyata Rian menggunakan kesempatan itu untuk meluapkan amarah yang tertahan karena tidak bisa sepenuhnya mengalahkan Victor. Dikepalnya tangan oleh Rian, lalu menghantam Wira puluhan kali. Setelah itu, Putra dan Ikhsan menyeret Wira keluar, membanting tubuh lelaki tinggi itu dengan kasar.
Semua anggota yang menunggu di koridor lantas membelalak kaget melihat Wira yang tiba-tiba kembali diadili.
“Bangsat! Gue akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar untuk mampusin elu!” pekik Wira dengan napas tertahan. Darah kembali mengucur melalui hidung dan mulutnya.
Kedua anggota inti kembali masuk ke ruangan. Kemudian, Wira dibantu untuk kembali ke markasnya oleh para anggota termasuk Victor.
Di ujung koridor, seorang lelaki sejak tadi memperhatikan keramaian anggota kelompok Wira secara sembunyi-sembunyi. Karena melihat Wira telah babak belur, ia pun pergi sebelum dilihat oleh orang lain.
...----------------...
BERSAMBUNG
__ADS_1