Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 2


__ADS_3

"Tolong, aku..."


Belum selesai Adrian menjelaskan, wajahnya kembali membenam di kloset. Urat-urat yang kedua tangan yang sedang di belenggu oleh kedua teman Rico mulai mengeras.


"Lo udah mempermalukan gue! " kembali Rico mengangkat kepala Adrian.


"Aku... aku engak melakukan hal itu, aku memberikan j-jawaban yang benar! m-mungkin kamunya aja yang salah tulis jawaban yang aku berikan."


"Alah! Bangsat lo! "


Wajah yang tampak kelelahan dengan mata yang sayu itu kembali terbenam di dalam air yang tampak mulai mengurang sebagian karena sudah memasuki perut Adrian.

__ADS_1


Pandangan Adrian tiba-tiba mengabur, dirasakan kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang. Matanya terasa berat dan ingin terpejam, hingga akhirnya wajah pucat itu kembali diangkat oleh Rico.


"Mampuss lo! berani main-main lagi sama gue, bakalan lebih parah lagi yang akan lo dapatin! " lalu melepaskan tangan yang mencengkram kuat rambut Adrian dan membiarkan Adrian jatuh tergeletak dilantai.


"Ayo, kita cabut!" ajak Rico kepada kedua temannya itu yang telah puas menghardik seorang Adrian. Adrian mereka tinggal sendirian dalam keadaan tak berdaya.


Di tengah-tengah ketidak berdayaan Adrian, tiba-tiba hadir seorang perempuan yang menyaksikan Adrian dari daun pintu yang terbuka sebagian itu. Adrian belum menyadari kehadiran seorang perempuan yang sedang menyaksikan dirinya dengan simpati.


Ingin rasanya perempuan itu bertanya kepada Adrian apakah dia baik-baik saja, tetapi tentunya saja Adrian tidak baik-baik saja dengan melihat keadaan Adrian yang begitu memilukan.


Adrian memalingkan pandangannya kearah pintu dengan posisi tengkurap. Adrian melihat sepasang kaki dari celah bawah pintu. Di krenyitkan dahinya sejenak, lalu menaikan pandangan. Yang Adrian seorang perempuan yang berpenampilan anggun.

__ADS_1


Tidak bagi Adrian bukan saatnya untuk mengagumi seseorang. Dia begitu malu dengan keadaannya saat ini. Adrian bertanya-tanya pada dirinya, apakah perempuan itu tau bahwa ia telah dianiaya oleh berandalan sekolah ini? ia seorang lelaki tapi mengapa tidak melawan? bahkan tidak bisa melakukan apa-apa?


"BANGSAT!" teriak Adrian sambil menangis dan menghantam-hantam lantai. "Pergi, siapa pun kamu, PERGI! "


Sebenarnya perempuan itu tidak ingin meninggalkan Adrian sendirian. Paling tidak, ada sesuatu hal yang bisa ia bantu untuk Adrian. Akan tetapi, sepertinya tidak baik untuk mendekati seorang yang sedang frustasi dan marah. Sehingga dengan langkah ragu ia meninggalkan Adrian tanpa memberikan pertolongan kepada Adrian.


Tidak dipungkiri bahwa Adrian telah menyimpan dendam sangat lama didalam hatinya, seiring dengan berjalannya waktu dendam itu bertumbuh dan berkembang biak.


Jika saja ia bisa membalas, pasti ia akan membalas dengan lebih kejam dari pada apa yang ia dapatkan dari semua orang yang telah menganiaya dan meremehkan dirinya selama ini.


Namun, Adrian masih memiliki hati dan pikiran sehingga ia hanya bisa pasrah dan melupakan apa yang ia rasakan dan rasa ingin balas dendam itu.

__ADS_1


Sekarang, Adrian mencoba untuk merubah posisi dari tengkurap kini menghadap langit-langit, tetapi tetap saja penglihatannya buram. Semakin lama ia mulai merasakan kepalanya semakin berat. Dan pakaiannya juga sudah basah dan kotor.


Sebelumnya, ia ingin kembali ke kelas tapi ia tidak kuat dan akhirnya tidak sadarkan diri.


__ADS_2