Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 26


__ADS_3

Mungkin Adrian lah satu-satunya siswa paling berprestasi dan jenius di sekolah menengah tersebut. Namun, sayangnya Adrian dikirim ke sekolah ini bukan sebagai seorang malaikat, tetapi sebagai iblis yang siap menambah citra sekolah ini menjadi lebih menjijikkan dari sebelumnya.


“Alah, bodo amat. Gue parkir di sini ajalah,” gumam Putra yang langsung menambatkan kendaraan miliknya di sembarang tempat. Padahal, motornya bisa saja menghalangi kendaraan milik siswa lain jika akan keluar.


Putra segera menghampiri Adrian yang masih berdiri bersama Rico dan Ikhsan sambil menyaksikan sebuah keramaian yang riuhnya mencapai telinga mereka.


“Itu ada apa, ya, ramai-ramai?” tanya Putra.


“Nggak tahu.” Adrian menjawab singkat, lalu mengangkat langkah untuk memeriksa apa yang tengah terjadi di keramaian itu.


Adrian menyibak keramaian dan berdiri paling depan, sehingga bisa melihat dengan jelas dua orang yang bergeming sambil mengepalkan tangan erat-erat.


“Woi, ada apa ini?” tanya Adrian pada salah seorang siswa bermata sipit di sebelah kirinya.

__ADS_1


“Kayaknya mau kelahi, Bro,” jawab siswa itu sambil bertepuk tangan untuk membangkitkan gejolak dan dua orang yang beradu pandang itu semakin memanas.


“Pukul aja, Goblok!” teriak para siswa yang menyaksikan.


“Iya, pukul woi! Diem-diem bae!” sambut siswa lainnya.


Adrian lantas tiba-tiba berada di tengah kerumunan, tepat di tengah-tengah kedua orang yang dibalut amarah. Seketika suara-suara bising yang dihasilkan oleh para siswa menjadi hening. Mereka tampaknya heran dengan apa yang dilakukan Adrian secara tiba-tiba, seorang murid baru yang beberapa bulan lalu masih duduk di bangku SMP.


“Siapa lo?” tanya salah satu dari dua orang yang akan berkelahi.


Padahal, lelaki yang bertanya itu sedang mengarahkan tatapan tajam, terlebih wajah menyeramkan ditambah anting-anting terpasang di telinga kanan, lalu rambut dicat pirang dengan gaya mohawk. Kulitnya sawo matang. Kedua kakinya terpasang pantofel besar dan tampak keras. Gaya khas seorang berandal.


“Goblok. Gue senior di sini,” balas lelaki yang merupakan senior sekolah itu dengan nada yang ditekan.

__ADS_1


“Oh.” Adrian menjawab singkat, seperti biasa tanpa ekspresi. Terkesan seperti meremehkan, acuh tak acuh, sehingga membuat senior itu semakin geram, terbukti dengan suara gigi yang saling berbenturan.


“Minggir lo!”


“Buat apa? Gue di sini biar kalian nggak kelahi, lho.” Adrian kini menghadap ke lelaki lainnya yang sedari tadi hanya bergeming sambil mengeraskan kepalan tangan. Tidak ada respons dari lelaki itu. Adrian semakin lamat menatap.


Adrian mengembuskan napas panjang, lalu memutar arah pandang ke siswa yang mengaku senior. Dengan lugas dia melayangkan tinju hingga mendarat di wajah lawannya. Lelaki berambut mohawk cukup terkejut, pukulan dari tangan Adrian mampu membuatnya mundur beberapa langkah, ditambah darah mengalir di salah satu lubang hidung.


Siswa yang berkerumun semakin hening, kemudian mundur beberapa meter untuk meluaskan arena perkelahian. Mereka sangat senang dan menantikan momen perkelahian seperti ini. Adalah tradisi rutin bagi siswa lama SMA Bakti Siswa.


Rico, Putra dan Ikhsan tidak kalah terkejut. Mereka masih sama-sama siswa baru, tetapi Adrian sudah terlibat dalam perkelahian, terlebih urusan orang lain.


“Nggak jadi gue lerai. Kalau lo mau kelahi, begitu caranya. Gampang, kan?” ucap Adrian pada siswa yang lebih pendek dari sang senior. Siswa itu terkesiap, juga tampak heran dengan Adrian. “Gue tunjukkin sekali lagi, ya.”

__ADS_1


“Woi, berani-beraninya elo ganggu perkelahian gue. Gue juga senior di sini!”


“Oh, gitu.”


__ADS_2