
Di dalam mall Marni sudah menenteng banyak belanjaan di tangannya, tetapi beliau tertarik ke sebuah toko penjual tas.
"Beli tas lagi, sekalian pamer ke temen-temen arisan."
Beliau memasuki toko tersebut. Matanya sedang memilih-milih tas di etales. Harga tas di sana tidak main-main harganya mulai dari 1 juta ke atas bahkan ada yang sampai ratusan juta.
"Wah, tas nya bagus-bagus banget, jadi pengen beli."
Mata beliau menangkap sebuah tas yang terpajang di lemari kaca.
"Mbak, tolong kemari," panggil beliau kepada salah satu pelayan toko.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau tas yang ini, Mbak."
"Baik nyonya, silahkan ikut saya ke kasir."
Pelayan mengambil tas tersebut dan membawanya ke kasir.
"Harganya jadi 35 juta nyonya." Marni mengambil sebuah black card di tasnya.
"Ini, Mbak."
Jika kalian tanya dari mana Marni mempunyai uang sebanyak itu, beliau adalah salah satu pemilik rumah sakit yang terkenal bernama rumah sakit harapan.
Bahkan rumah sakit tersebut menjadi salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta karena fasilitas serta penanganan di sana sangat baik.
Rumah sakit tersebut nantinya akan di berikan kepada cucu kesayangannya yaitu Raihan.
Beliau keluar dari toko sambil menenteng paper bag di tangannya. Sudah 2 jam lebih beliau mengelilingi mall.
"Lebih baik saya ke restoran dulu buat istirahat."
__ADS_1
Marni melangkah kan kaki nya ke restoran tersebut. Tetapi, beliau bertabrakan dengan seorang pemuda sampai semua belanjaannya berserakan.
"Aduh, belanjaan saya."
"Maaf Bu, saya tidak sengaja."
"Lain kali jalan pakai mata dong!"
"Iya Bu, sekali lagi saya minta maaf." Pemuda tersebut memunguti belanjaan Marni.
"Ini belanjaan nya." Marni mengambil dengan wajah yang marah. Beberapa langkah kemudian pemuda itu tiba-tiba memanggil.
Beliau menoleh, "Ada apa kamu panggil saya?
"Maaf sebelumnya, saya mau tanya Ibu ini Oma nya Raihan, kan? Siswa di SMA Nusantara?"
Marni menyeritkan alisnya tanda bingung. Bagaimana pemuda ini tau kalau ia nenek Raihan?
"Iya benar saya Oma nya Raihan. Kamu siapa?"
"Oh gitu."
"Bu m, boleh saya berbicara sama Ibu sebentar?" tanya Devan pelan. Beliau menggangguk kecil.
"Baiklah, kita bicara. Tapi, sebelum itu panggil saya Nyonya."
"Baik Nyonya."
"Kita ke restoran sana." Devan dan Marni memasuki restoran, setelah itu duduk di salah satu meja dekat pintu masuk. Beliau meminum jus jeruk pesanannya.
"Kamu mau bicara apa sama saya?" tanya Marni yang saat ini sedang duduk berhadapan bersama Devan.
"Ini tentang cucu Nyonya, Raihan." Marni bingung, ada apa sama cucu kesayangan nya?
__ADS_1
"Cucu saya?"
"Iya Nyonya."
"Memangnya ada apa?"
"Tapi sebelum itu, saya mau tanya apakah Nyonya tidak mengizinkan Raihan dekat dengan Sinta?"
"Kamu kenal dengan anak kampung itu?"
Di dalam hati Devan meruntuki Marni. Anak kampung katanya! Bisa-bisanya Marni mengatai Sinta dengan sebutan itu!
"Saya kenal, karena saya kebetulan sekelas dengannya."
"Iya, saya tidak akan mengizinkan Raihan untuk dekat dengan anak kampung itu! Dan saya tidak akan pernah sudi!"
Senyum kecil terlihat dari bibir Devan. Itu sama saja mereka tidak mendapatkan restu.
"Saya mau tanya sama kamu, dari mana kamu tau saya tidak mengizinkan Raihan dekat anak kampung itu?"
"Kebetulan saya tidak sengaja mendengar percakapan Raihan dan temen-temen nya, sepertinya ia sedang curhat."
Biarkan saja gua bohong. Padahal gua taunya dari Sinta saat curhat sama temennya.
"Jadi Raihan curhat sama temennya soal ini? Bener-bener anak itu!"
"Seperti nya Nyonya tidak suka?" tanya Devan penasaran.
"Ya. Saya memang tidak suka dengan Raihan dekat sama Sinta! Karena mereka berbeda, apalagi dari segi materi. Anak kampung itu gak pantes buat cucu kesayangan saya."
Keputusan gua sudah bulat! Gua akan jauhin Sinta dari Raihan! Sinta gak pantes di perlakukan seperti!
"Nyonya, saya mau mengajak nyonya kerja sama."
__ADS_1
"Kerja sama? Apa maksudmu?" tanya beliau bingung, Devan hanya tersenyum tipis.