Cowok Manja Untuk Cewek Tomboy

Cowok Manja Untuk Cewek Tomboy
episode 149


__ADS_3

Marni menatap mereka bertiga dengan tajam yang saat ini duduk di hadapannya.


"Oma kecewa sama kamu Mel! Kamu sudah bohongin Oma selama ini!"


"Maafin aku Oma ...."


"Oma Jangan salahkan Amel, ini semua karena aku. Jika Oma mau marah-marah sama aku aja."


"Ini semua penyebab nya adalah Sinta! Dasar tidak tau diri anak kampung itu!"


"Bukan Sinta, tapi anda penyebab nya! Kalau aja anda tidak melarang Raihan dekat dengan Sinta, mungkin mereka ini tidak akan membohongi anda!" sindir Rizky. Ia muak dengan kelakuan Marni yang selalu mengekang adik nya.


"Diam kamu, Rizky! Jangan ikut campur kamu! Ini urusan saya dengan mereka berdua!" Rizky memutar bola matanya malas.


Rani mengintip dari balik tembok. Hatinya berdegup kencang.


"Apa mereka udah ketahuan ya sama mamah?" ucap Rani pelan. Beliau memang sudah tau selama ini.


"Assalamu'alaikum." salam Rudi yang baru saja pulang.


"Wa'alaikumsalam. Mas udah pulang? Tumben." Rani menghampiri Rudi dan mencium tangan nya.


"Iya mas mau pulang cepet. Soalnya di kantor pekerjaan nya lagi sedikit." Rudi menatap semuanya dengan heran.


"Ada apa ini? Kenapa kayanya lagi serius banget?"


"Ini Rudi, mereka sudah berani berbohong sama Mamah! Kamu gimana sih sebagai orang tua gak becus banget ngajarin anak!"


Rizky mengepalkan tangannya kuat. Berani-beraninya ngataiin orang tua nya kaya gitu.


"Maksud Mamah apa ? Mereka berbohong sama mamah?" Marni menceritakan semuanya. Tidak ada reaksi apapun dari Rudi.


"Kenapa kamu cuma diam aja? Kasih tau seharusnya!"

__ADS_1


"Iya Mah, nanti Rudi kasih tau."


Jujur saja sebenarnya Rudi sudah tau semuanya karena pernah di ceritakan oleh sang istri.


"Sudahlah, Mamah pusing dengan mereka!" Marni beranjak dan pergi ke kamarnya dengan kesal.


"Bagaimana kalian bisa ketahuan? Ini gawat! Oma kalian kelihatan marah besar."


"Maaf Om, kita juga gk tau bagaimana bisa ketahuan. Padahal selama ini baik-baik saja," jawab Amel.


"Kapan Oma bisa tahu?"


"Tadi Lah, saat di sekolah Oma marah-marah. Bahkan murid-murid juga melihat nya."


"Kamu di sana, Rizky?" Rizky hanya mengangguk.


"Saat itu Sinta ada?"


"Sekarang bagaimana ya keadaannya Sinta? Mamah yakin pasti dia sangat sedih."


"Ya udah nanti kamu telpon Sinta ya, Raihan?"


"Iya Pah."


...****...


Semenjak kejadian hari itu, murid-murid terus menghina Sinta dengan kata-kata yang tidak pantas. Mereka mengatakan kalau Sinta mendekati Raihan karena harta nya. Padahal semua itu tidak benar sama sekali.


Mereka tidak tahu bahwa Sinta melibatkan hatinya juga saat berdekatan dengan Raihan.


"Dasar kurang ajar mereka semua! Gua muak banget denger kata-kata mereka!"


"Sama Sus, dasar gk pernah di bersihin kali ya tuh mulut nya! Lama-lama gua bersihin juga nih mulutnya pakai sikat wc!" timpal Dinda.

__ADS_1


Kedunya kesal dengan hinaan dari orang-orang pada Sinta.


"Sin.jangan dengerin omongan mereka ya, abaikan aja, oke?"


"Iya Din, makasih ya kalian berdua selalu ada buat gua."


"Kita kan sahabat. Sudah seharusnya saling support."


"Iya Susi, ayo makan lagi. Nanti keburu bel masuk."


Dika, Rio, dan Arga duduk di hadapan mereka.


"Sin, lu gak apa-apa, kan?"


"Gua oke, kok.""


"Sumpah, gua gedeg banget sama omongan para *****!"


"Arga ! Dari kemarin omongan lu gk pernah di saring ya?" omel Susi.


"Habis gua kesel banget Sus, kalo aja mereka cowok gua hajar sekalian!"


"Thanks Arga tapi gak usah ya, lagian omongan mereka benar tentang gua," ucap Sinta pelan.


"Enggak Sin! Omongan mereka itu hanya omongan kosong belaka. Lu gak usah dengerin mereka semua."


"Anggap aja mereka setan." timpal Dika.


"Dika! Lu juga jangan ikut-ikutan omongan si Arga!" Susi ngomel lagi.


Dika hanya acuh dia lebih tertarik dengan orang yang duduk paling pojok di kantin.


Biasanya itu orang deketin Sinta terus. Kenapa sekarang enggak, ya? Sepertinya ada yang gak beres.

__ADS_1


__ADS_2