
Tak terasa hari semakin cepat dan hari ini mereka sudah mulai ujuan nasional. Saat Raihan ingin masuk ke ruangan nya tak sengaja bersenggolan dengan Sinta.
"Raihan?"
"Sinta?"
Keduanya canggung. Tak menyangka kalau bakalan ketemu.
"Ruangan lu di sini?"
"Iya."
"Berarti kita seruangan?"
"Kamu ruangannya di sini juga?" Sinta menggangguk pelan.
Hati Raihan senang mendengar nya namun tak lama ada seseorang yang memanggil Sinta.
"Sinta!"
"Devan kamu kenapa di sini?" tanya Sinta bingung.
Yap. Sinta mengganti kata 'gua' dengan 'aku' jika bersama Devan agar terlihat seperti pasangan.
"kita seruangan."
"Benarkah?" Devan mengagguk senang. Ia bahagia karena bisa seruangan dengan Sinta.
"Eh, Raihan? Kita seruangan juga ternyata." Raihan hanya diam saja. Perasaannya tak karuan sekarang.
"Ya udah, kita masuk Dev."
Sinta memegang tangan Devan untuk masuk ke dalam ruangan. Sementara Raihan masih terdiam di tempatnya. Tanpa di ketahui batin Sinta meminta maaf ke Raihan.
Satu jam kemudian ujian pun selesai. hari ini ujian bahasa Indonesia.
"Sin, kita ke kantin bareng?"
"Ayo. Raihan gua duluan ya, " pamit Sinta. Raihan mengagguk tanpa menjawab.
Mereka berjalan keluar sambil berpegangan tangan.
"Raihan!" panggil Dika. ternyata teman-teman nya datang ke ruangan nya.
__ADS_1
"Lu seruangan sama mereka berdua?" tanya Arga tak percaya. Bisa-bisa mereka bertiga seruangan.
"Iya."
"Sabar." Rio menepuk pundak Raihan mencoba menenangkan.
"Makasih."
Mereka bertiga pergi ke kantin. Jujur saja selama ini Raihan masih belum bisa melupakan Sinta. Ia masih berharap semuanya hanya mimpi.
Namun semuanya benar-benar kenyataan. Sinta pergi selamanya dari hidup dan hatinya.
...****...
Sinta sedang di kamarnya menatap langit malam yang di penuhi oleh bintang-bintang.
"Maafin gua Rai, maaf."
Tiba-tiba handphone nya berbunyi telpon masuk dari Devan. Ia menghembuskan napasnya pelan.
"Halo?"
"Halo Sinta."
"Kita jalan-jalan mau, tidak? Kita makan nasi goreng aku yang traktir."
"Maaf Deev gua gk bisa, gua harus belajar buat ujian matematika besok."
"Oh gitu, ya sudah semangat ya belajarnya."
"Makasih Dev. Gua tutup telpon nya ya." Sinta mematikan panggilan secara sepihak.
Devan menatap layar ponselnya sambil mengepalkan tangannya kuat.
"Sampai kapan kamu kaya gini? Lupakan si cupu! Buka hatimu buat ku, Sinta!" Devan melempar barang-barang di kamar nya.
"Maaf Dev, gua udah nyakitin perasaan lu. tapi gua gak punya perasaan sama lu, maaf.""
Devan pernah menyatakan cintanya pada Sinta, namun Sinta selalu menolak karena di dalam hatinya masih tersimpan nama seseorang yang belum bisa ia lupakan.
Yaitu si kacamata bulat alias Raihan.
...****...
__ADS_1
Hari demi hari ujian pun selesai dan para murid bergembira karena sebentar lagi mereka akan lulus dari SMA dan melangkah ke jenjang perkuliahan.
Dan tak lupa mereka menanti-nantikan acara yang mereka sudah rencana yaitu prom night.
Sinta dan Dinda sedang berada di kamar Susi sekarang.
"Okay girls, sebentar lagi kan kita kelulusan. Gua mau tanya sama kalian abis ini kalian akan kuliah di mana?"
"Kalau gua sih kayaknya daerah Jakarta aja. Soalnya gua gk bisa kemana-mana. Lu tau sendiri orang tua gua posesif apalagi nyokap," ucap Dinda.
"Kalau lu?"
"Gua gak akan kulian."
"Kenapa?"
"Gua gak ada biaya, jadi mungkin gua akan cari pekerjaan."
Susi dan Dinda menggangguk pelan. Ekonomi Sinta memang lebih rendah di banding keduanya.
"Kalau lu sendiri gimana? Jadi mau ngambil kuliah di Amerika?" tanya Sinta sambil memeluk boneka beruang.
"Sepertinya gua gk jadi."
"Kenapa?"
"Gua mau di Indonesia aja kuliah nya. Lagian banyak juga kampus bagus di Indonesia gak kalah sama luar negeri."
"Bukannya itu cita-cita lo dari dulu kuliah di Amerika?" tanya Dinda heran.
"Iya, tapi setelah di pikir-pikir gk jadi. Soalnya gua gk mau jauh dari kalian." Susi memeluk kedua sahabatnya.
"So sweet banget sih lu. jadi pengen buang ke laut," goda Sinta.
"Nyebelin banget lu! Gua sumpahin jodoh sama si Raihan!"
Sinta terkejut, sedangkan Dinda tertawa terbahak-bahak.
"Susi! Gua beneran ya buang lu ke laut! sini gak!" Susi dan Sinta akhir nya kejar-kejaran di dalam kamar.
"Lari Sus! Ada ibu singa ngamuk-ngamuk! Hati-hati lu!"
"Dinda! Lu juga mau kena? Jangan lari kalian berdua!"
__ADS_1
Sinta pun akhirnya mengejar mereka berdua sambil sesekali melempar guling dan bantal. Kamar Susi yang awalnya rapih jadi berantakan seperti kapal pecah.