
Saat ini Sinta sedang berada di taman belakang sekolah bersama-sama teman-teman nya. Sedangkan Raihan, Rizky dan Ameel di tarik paksa Marni.
Dinda serta Susi memeluk Sinta untuk memberikan kenyamanan.
"Sudah Sinta, jangan nangis. Gua sama Dinda sedih liatnya."
"Bener Sin, udah dong jangan nangis. lu harus kuat."
"Ini semua karena gua, andai aja gua gak deket-deket lagi sama Raihan. Pasti gak akan kaya gini, di tambah Amel dan kak Rizky juga kena imbasnya sekarang."
Air mata Sinta tanpa henti mengalir di pipinya.
"Lu gak boleh kaya gitu. Gua yakin ini semua karena takdir."
Tiba-tiba terdengar suara ejekan dari beberapa murid yang mengikuti Sinta.
"Dasar gak tau diri! Sudah tau di larang sama oma nya Raihan masih aja deketin!"
"Gua yakin Sinta deketin Raihan karena hartanya. Secara Raihan anak orang kaya."
"Bener, dasar matre!"
Dika membanting kursi kayu di dekatnya dan menatap para murid tajam.
"Kalian bisa diam, gak? Pergi dari sini! Gua bilang pergi!" Arga mengusir mereka semua.
"Pergi sebelum gua berbuat sesuatu sama kalian!" ancam Rio.
Muurid-murid pun berlarian karena takut mendengar ancaman Rio.
"Lu gak usah dengerin kata-kata mereka Sin, kurang kerjaan aja ngurusin hidup orang. Dasar *****!" sarkas Arga.
Karena dari para murid rata-rata berdandan ala ****** dengan baju sekolah yang di crop. Bagian dadanya saja sangat ketat, walaupun sering di tegur guru mereka akan mengulangi nya lagi.
"Sadis mulut lu, Arga."
"Emang bener apa yang gua katakan Rio. Gua no tipu-tipu."
Sinta sedikit tersenyum mendengar ucapan mereka. Handphone nya bunyi.
"Gua angkat telpon dulu dari mamah." Sinta sedikit menjauh dan mengangkat telpon tersebut.
"Assalamu'alaikum, Mah ada apa telpon?" tanya Sinta. Namun, tidak mendengar jawaban mamahnya.
"Mah?" tanyanya ulang.
"Sinta ...."
__ADS_1
Ia sangat terkejut mendengar jawaban mamahnya seperti sedang menangis.
"Mah? Mamah kenapa? Mamah nangis? Jawab Sinta?"
Susi dan Dinda bergegas menghampiri sahabat nya.
"Ada apa?"
"Enggak tau Din, gak ada jawaban!"
Sambungan telepon terputus membuat Sinta semakin panik.
"Gua akan pulang sekarang!"
"Tunggu Sin, sebaiknya lu naik ojek online. Gak baik bawa motor dalam keadaan kaya gini."
"Saran Dika benar Sin, naik ojek online aja bentar gua pesenin."
"Cepetan Arga!"
"Sabar Sus." Arga pun memesan ojek online untuk Sinta.
"Dapet nih, kebetulan deket dari sini tukang ojeknya!"
"Makasih Arga."
"Ayo!"
Mereka semua menunggu di depan gerbang. Hati Sinta tidak enak dari tadi, ia takut terjadi sesuatu sama orang tua nya. Tak lama tukang ojek online pun datang.
"Atas nama Arga?"
"Iya pak saya, tolong anterin dia dengan cepat ya pak."
"Baik."
"Motor gua gimana?"
"Tenang Sin, nanti gua suruh orang buat nganterin ke rumah lu."
"Makasih banyak Rio, makasih banyak semuanya. Gua pamit."
"Hati-hati!"
Tukang ojek online pun pergi. Raut wajah mereka begitu cemas.
"Mudah-mudahan gak terjadi apapun sama keluarga nya Sinta," harapan Dinda dan di Aamiin kan oleh mereka.
__ADS_1
...****...
sementara itu Sinta tak henti-hentinya berdo'a supaya keluarga nya baik-baik saja. Dua puluh lima menit kemudian akhirnya sampai di depan rumah.
"Berapa, pak?"
"30 ribu."
"Makasih Pak."
"Sama-sama, neng."
Sinta langsung masuk ke dalam rumah nya. Terlihat kedua orang tuanya sedang menangis di ruang tamu.
"Mah? Pah?"
"Sinta!"
Mereka berpelukan dengan air mata yang masih mengalir.
"Mah, Pah, apa yang sebenarnya terjadi? Apa semua nya baik-baik saja?"
"Sinta ...."
"Iya Mah?"
"Pa--papah kamu di pecat sayang dari kerjaan nya ...."
Sinta terkejut mendengar nya. Kenapa bisa di pecat? Apakah papah melakukan kesalahan? Selama ini papah nya selalu mengerjakan tugasnya dengan sangat baik.
"Apa di pecat? Ini beneran, pah?"
Herman mengagguk kecil sebagai jawaban. Sinta kembali menangis terisak karena ia tahu penghasilan keluarga nya dari kerjaan sang papah menjadi satpam. Jualan gorengan di pasar oleh Susi hanya sebagai penghasilan tambahan.
"Kenapa papah bisa di pecat? Apa papah melakukan sesuatu?"
"Papah gak melakukan sesuatu Sinta. Tapi, orang lain menyuruh pak Galih untuk memecat papah."
Penjelasan Susi membuat Sinta kebingungan.
"Pak Galih di suruh orang buat pecat papah? Siapa Mah? Cepat beri tahu Sinta! Agar Sinta ketemu sama orang itu!"
"Sayang, kamu gak akan sangka."
"Siapa Pah jawab Sinta? Sinta hanya ingin tahu alasannya, Pah."
Keduanya saling bertatapan sebentar. Sinta memegang tangan mereka meminta jawaban.
__ADS_1
"Oma Marni yang menyuruh pak Galih memecat papah," jawab Susi. Seketik Sinta membeku di tempatnya.