
Sementara itu di dalam mobil sangat senyap. Wajah Marni memerah. Tak berapa lama kemudian mobil pun sampai di depan gerbang.
"Kalian bertiga turun! Saya mau pergi. Nanti kita bicarakan ini di dalam." Mereka pun keluar dari dalam mobil.
"Oma ...."
Amel berusaha memegang tangan Marni, tapi langsung di tepis.
"Saya bilang turun!"
Amel pun keluar sambil menangis. Mobil berlalu pergi.
...****...
Sinta masih membeku di tempatnya. Ia tidak menyangka Marni melakukan seperti itu.
"Sinta kamu abis nangis, ya? Mata kamu bengkak. Sayang kamu kenapa?" tanya Susi khawatir.
Sinta menghapus air matanya sambil tersenyum kecil.
"Sinta gak apa-apa Mah ...."
"Kamu gak boleh bohong sayang, ayo cerita sama Mamah."
Sinta mengeleng. Ia tidak mau menambah beban pikiran kedua orang tua nya. Saat mereka sibuk dalam pikiran nya masing-masing tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan keras.
"Siapa itu? Kenapa ketuk pintu nya kaya gitu?"
"Gak tau Pah, biar Sinta yang bukain." Sinta membuka pintu nya dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Siapa yang datang?" Susi dan Herman menghampiri. Mereka pun ikut terkejut.
__ADS_1
"Seperti nya pak Galih sudah melakukan tugasnya untuk memecat anda, Pak Herman."
"Kenapa nyonya melakukan itu? Apa kesalahan suami saya nyonya!" kesal Susi.
"Suami anda tidak melakukan kesalahan apapun." Mata nya melirik dan jari telunjuk nya mengarah pada Sinta. "Tapi anak anda yang sudah melakukan kesalahan!"
"Apa salah anak saya?" tanya Herman bingung. Rasanya anaknya ini tidak pernah membuat kesalahan.
"Saya sudah memperingatkan kepadanya untuk tidak mendekati cucu saya. Raihan! Tapi apa? Dia masih berani. Maka dari itu, ini adalah resikonya karena sudah berani menentang saya!"
"Oma emang saya akui kalau ini semua memang kesalahan saya, tapi kenapa malah papah saya yang kena? Kalau Oma mau lakukan apapun kepada saya lakukan! Lakukan semau Oma!"
Sinta tiba-tiba berlutut di depan kaki Marni. Kelakuan nya itu membuat kedua orang tuanya kaget.
"Tapi saya mohon, jangan melakukan nya sama kedua orang tua saya ...."
"Sayang bangun! Kamu gak usah berlutut kaya gini! Bangun Sinta! Kamu dengerin kata Papah gak ! " Herman berusaha untuk menyuruh anak nya itu bangun, namun Sinta menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau melakukan apapun agar papahmu gak di pecat?" Sinta mendongak dan mengangguk.
"Iya Oma. Saya akan melakukan apapun, tapi saya mohon bilang sama pak Galih untuk menerima papah saya kembali kerja ...."
"Saya bisa saja melakukan nya, tapi tentu saja itu tidak gratis."
"Apakah saya harus membayar?"
Marni tertawa kencang mendengar pertanyaan dari Sinta.
"Untuk apa kamu bayar? Saya tidak butuh duit receh mu itu!"
Susi menahan amarahnya. Hampir saja ingin menampar jika Herman tak memegang lengannya.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus saya lakukan?"
"Cukup mudah. kamu hanya perlu jauhin Raihan selamanya. Dan saya akan bilang ke pak Galih untuk menerima kembali papahmu."
"Dan saya juga bisa memberikan apapun untuk mu asalkan jauhi Raihan!"
Hati Sinta merasa sesak. Apakah ia siap harus menjauhi Raihan? Jujur ia tidak ingin, tapi dia juga tidak mau egois. Cuma ini satu-satunya cara agar papah nya bisa di terima kembali bekerja.
"Sinta, kamu gk usah melakukan itu Nak. Papah akan cari pekerjaan yang lain."
"Baik, saya akan melakukan nya. Asalkan papah saya bisa kembali kerja."
"Itu hal yang mudah, saya akan bilang pak Galih. Tapi ingat! Kamu harus menepati janji mu!" Marni pun keluar dari rumah Sinta dengan perasaan bahagia.
Susi langsung memeluk Sinta erat. Rambutnya di elus begitu lembut.
"Kenapa kamu melakukan itu sayang? Kenapa?"
"Aku harus melakukan nya Mah, agar papah bisa kerja lagi ...."
"Tapi tidak harus mengorbankan perasaan mu. Papah tau kamu tidak ingin menjauhi Raihan, kan?" Pertanyaan Herman tak di jawab oleh Sinta. Beliau pun paham.
"Papah akan bilang sama oma Marni untuk membatalkan perjanjian kamu dengannya."
Simta menarik tangan Herman sambil menggelengkan kepalanya lemah. "Pah, Sinta mohon ga usah. Ini sudah keputusan aku ...."
"Tapi sayang--"
"Sinta mohon ....."
Herman mengehmbuskan napasnya kasar dan menarik Sinta masuk kedalam lingkaran hangatnya. Tak lupa mengelus kepala rambutnya lembut.
__ADS_1
Sudah cukup! Gua gak mau ada yang menjadi korban karena keegoisan perasaan gua sendiri. Terutama bagi kedua orang tua gua. Lu harus melepaskan Raihan, mungkin memang ini jalannya ....