
Keesokan paginya, Sinta bangun dari tidur nya. Air mata kembali menetes di pipi nya karena menerawang kejadian tadi malam.
Mereka berdua melepaskan pelukannya
"Lo bohong kan, Rai? Lu bercanda, kan?" Raihan terkekeh kecil.
"Kok malah ketawa sih?"
"Aku serius Sinta. Ngapain bohong segala." Keduanya kembali diam.
"Sin ... ku harap kamu selalu bahagia ya, jangan pernah nangis lagi." Sinta menatap mata Raihan.
"Gua juga berharap ... semoga lo mendapatkan apa yang lo mau."
Kemauan ku cuma bersama mu Sinta ....
"Ya semoga saja."
"Kapan lo akan berangkat?"
"Mungkin 2 Minggu lagi. Soalnya aku udah daftar kuliah sebelum kelulusan dan hasilnya di terima."
"Di mana lo akan kuliah?"
"Seoul, Korea Selatan."
"Wah bisa ketemu BTS ya nanti?" Raihan tertawa.
"Mana mungkin semudah itu Sinta. Mereka punya jadwal yang padat dan banyak bodyguard. Pasti susah buat ketemu kecuali saat konser."
"Ya ... lo pasti bakalan dateng dong kalau mereka ngadain konser?"
"Ya pastilah. Aku akan datang."
"Fanboy nomor satu!"
"Bisa aja." Suasana kembali senyap.
"Sinta ...."
"Ya?"
"Aku harap kamu selalu bahagia ya sama Devan." Sinta terdiam.
Bagaimana bisa gua bahagia kalau bukan sama lo Rai ?
"Itu pasti. Devan pacar yang baik kok. Dia selalu perhatian sama gua."
"Syukurlah kalau gitu," ucap Raihan pelan.
"Oh iya Rai, gua harus pergi. Devan nyariin gua kayanya."
"Iya, hati-hati ya Sinta."
"Ok Rai."
Saat Sinta mulai melangkah, Raihan memanggilnya.
__ADS_1
"Sinta!" Ia menoleh.
"Ada apa?" Ragu-ragu Raihan mengatakan nya.
"Bolehkah ... aku peluk kamu sebagai perpisahan terakhir?"
Sinta terdiam cukup lama sebelum mengangguk. Dengan segera Raihan memeluk Sinta erat begitu pun sebaliknya.
Keduanya menahan sesak di hati.
Makasih Rai ... makasih banyak karena sudah hadir di kehidupan ku ... makasih sudah menjadi bagian dari senyuman ku ... walaupun kita tak bersama, tapi ku harap kita selalu bahagia selamanya.
Batin Sinta.
Makasih banyak Sinta sudah hadir di hatiku. meskipun kamu bukan milikku ... tapi aku harap kamu selalu bahagia selamanya. I always love you ...
Batin Raihan.
Sinta kembali menangis terisak mengingat kejadian semalam.
"Kenapa berakhir kaya gini? Apakah kita tidak bisa bersama lagi?"
Sama halnya dengan Sinta, Raihan duduk termenung di depan kolam renang.
"Kenapa kisah kita gk happy ending Sinta ? Apakah kita gk berjodoh ? walaupun demikian aku tetap senang bisa kenal kamu."
"Thank you Sinta for all these stories ...."
Rani mengusap kepala Raihan lembut sambil membawanya ke pelukan hangatnya.
"Yakinlah sayang, jika Sinta jodoh kamu dia akan kembali sama kamu."
"Tapi mah sepertinya sinta sekarang bahagia sama Devan."
Raihan menceritakan semuanya tentang sinta yang sudah punya pacar bernama devan ke bu rani.
"jika dia milikmu, bagaimana pun caranya apapun yang terjadi dia akan kembali sama kamu." Raihan tersenyum kecil.
"Iya Mah, aku hanya bisa pasrah dan menerima segalanya."
"Kamu makin dewasa mamah suka." Mereka berpelukan.
Tuhan, tolonglah kabulkan semua keinginan anakku ...
Seorang ibu atau orang tua pasti ingin harapan anaknya terwujud begitu juga dengan Rani. Beliau ingin anaknya bisa mendapatkan kebahagiaan yang di inginkan.
...****...
Dua minggu kemudaia adalah hari keberangkatan Raihan dan Amel ke Korea. Amel menang sengaja di suruh Marni untuk kuliah bareng bersama cucu nya.
Dan Amel tidak keberatan karena ia juga tidak mungkin menolak perintah Marni. Amel tidak ingin beliau marah lagi padanya.
Semua orang yang sengaja di undang sudah ngumpul di ruang tamu seperti Dika, Rio, Arga, Susi, dan Dinda.
Termasuk kedua orang tua Sinta. Awalnya Marni tidak setuju, namun Rudi dan Rani membujuk nya agar berkenan menerima mereka.
Beliau setuju, tapi dengan satu syarat Sinta tidak boleh ikut. Walhasil memang tidak ikut ke sana. Kedua orang tua Sinta sebenarnya tidak ingin datang karena kasihan meninggalkan anak nya sendirian.
__ADS_1
Namun Sinta meminta keduanya untuk datang karena tidak enak jika tidak memenuhi undangan kedua orang tua Raihan. Sinta lagi berada di kamarnya menatap langit.
"Hari ini Raihan akan pergi ke korea, semoga sampai tujuan dengan selamat."
Handphone Sinta berbunyi tanda video call.
"Mamah? " Ia pun mengangkatnya, namun yang ada di layar wajah Raihan.
"Hallo Sinta."
"Raihan?"
"Maaf ya aku pakai telpon mamah kamu, tapi aku udah izin."
"Oh iya gk apa-apa kok." Sinta menunduk.
"Sinta."
"ya?"
"Selamat tinggal Sinta. Semoga kedepannya kita bisa bertemu lagi ya."
Sinta menahan air matanya yang hampir menetes. Tangan nya menggenggam rok dengan kuatm
"Oh iya, saat kita bertemu suatu hari nanti kamu jangan sombong ya! Awas aja kalau sombong, aku gk mau kasih oleh-oleh khas Korea! "
Sinta tak bisa menahan air matanya lagi yang kini mengalir deras.
"Jangan nangis, aku gk suka kamu nangis ...."
Rasanya Raihan ingin sekali menghapus air mata itu di pipi cantik Sinta, tapi hanya sebuah angan-angan semata.
"Pokonya kamu harus semangat ya Sinta, jika nanti sudah dapet pekerjaan, aku mau kamu traktir aku jadi orang yang pertama saat kamu gajian!"
Sinta tersenyum manis. Senyumannya itu akan selalu terekam di otak Raihan.
"Siap!"
"Awas aja kalau bohong!"
"Enggak."
Keduanya saling menatap satu sama lain. Sama-sama Merasakan perasaan berat di hati mereka.
"Sin, sudah dulu ya aku harus berangkat sekarang."
"Hati-hati Rai, semoga selamat dan semangat kuliahnya."
"Makasih banyak Sinta. aku matiiin ya vc nya."
Raihan melambaikan tangan nya dan mematikan vc secara sepihak.
"I love you Sinta," ucap Raihan di akhir. Hanya ia sendiri yang dengar.
"Bye Rai ... i always miss you." Sinta memeluk handphone nya erat dengan di temani suara tangisnya.
.....TAMAT.......
__ADS_1