Cowok Manja Untuk Cewek Tomboy

Cowok Manja Untuk Cewek Tomboy
episode 150


__ADS_3

Mereka sedang asik nya makanan di kantin.


"Ohh iya, apa udah ada kabar dari Raihan dan Amel?"


Memang sudah 3 hari ini Raihan tidak masuk semenjak kejadian itu. Marni juga melarang Amel sekolah.


"Belum Sus, saat kita coba hubungi dia handphone nya gak aktif," ucap Arga. Sinta hanya terdiam.


Ia tahu akhir nya akan seperti dulu, Raihan di larang sekolah oleh sang nenek.


Saat malam setelah kejadian Raihan menelpon Sinta untuk menanyakan kabar nya, tetapi hanya di jawab seperlunya, karena teringat janji dengan Marni yang harus menjauhi Raihan.


Ia bertekad akan menjauhi Raihan agar tidak ada orang lagi yang terlibat. Terutama Amel dan papah nya.


"Sin, gak apa-apa, kan?" Sinta tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.


"Gua oke, Dinda."


...****...


Ternyata Raihan dan Amel sudah di perbolehkan bersekolah. Mereka berangkat bersama. Sebelum itu mereka sudah di peringatan Marni untuk tidak mendekati Sinta atau akan terjadi sesuatu.


Saat sedang berjalan menuju kelas Raihan tidak sengaja melihat Sinta yang sedang mengobrol sambil bercanda dengan Devan. sesekali Sinta tersenyum manis.


Belum tenang hatinya, tiba-tiba matanya terbelalak. Devan mengusap-usap rambut Sinta lembut dan masuk bersama ke kelas. Amel yang menyadari pandangan Raihan langsung menepuk pundak nya.


"lu enggak apa-apa, kan?"


Raihan menggeleng dan berjalan cepat menuju kelasnya. Ia duduk di bangku dengan kesal. tangannya juga terkepal kuat menahan segala rasa sakit.


Sementara itu Sinta terduduk di bangku nya dengan lemas, air matanya mengalir di pipi lembut nya.


"Sinta, apakah kamu baik-baik saja?" Sinta mengagguk kecil sambil mengusap air matanya.


"Maafin gua Dev, gua harus melibatkan lu seperti ini."


"Gak apa-apa Sin, gua akan bantuin lu. Udah ya jangan sedih lagi." Dalam hati Devan tersenyum puas.

__ADS_1


Gak apa-apa gua jadi pacar pura-pura nya Sinta. Yang penting gua sudah berhasil jauhin mereka berdua.


Tadi malam Sinta menelpon Devan untuk datang ke taman dekat rumahnya, karena ingin meminta bantuan kepada Devan. Dengan senang hati cowok itu pun datang menemuinya.


"Sinta, lu bilang mau minta bantuan? Bantuan apa?"


"Apa lu beneran mau bantuin gua?" tanya Sinta pelan. Kepalanya juga menunduk.


"Tentu saja. Lu katakan apa bantuan itu, pasti gua bakal bantuin."


Ia malah tak bicara membuat Devan gemas. Rasanya ingin sekali mencubit pipi Sinta.


"Udah bilang aja."


"Dev, gua minta bantuan lu untuk pura-pura jadi pacarnya gua, mau gak?" Devan terkejut mendengar nya.


"Pacar pura-pura lu?"


Sinta menceritakan semuanya tentang perjanjian nya dengan Marni secara terpaksa agar Devan paham. Dalam hati cowom itu tersenyum puas. Ia tidak menyangka kalau Sinta akan jauh dari Raihan.


Devan memegang tangan Sinta dengan wajah berpura-pura sedih.


"Sin, gua akan bantuin lu."


Sinta menatap Devan tak percaya. Ia pikir Devan tidak mau melakukan hal seperti ini.


"Lu serius, Dev?" Cowok itu menggangguk mantap.


"Tentu saja. Gua akan bantuin lu jika emang lu butuh bantuan."


"Makasih banyak ya Dev, maaf gua harus melibatkan lu seperti ini."


"Gak apa-apa Sin, gua siap bantuin lu kapan pun "


Sinta bernapas lega namun hatinya sedih. Berbanding terbalik dengan Devan yang malah begitu bahagia.


Gak sabar gua nunggu besok, mau lihat ekspresi Raihan gimana.

__ADS_1


Devan mengingat kejadian semalam dan melihat ekspresi Raihan tadi rasanya ingin ketawa dengan puas, karena sudah berhasil menjauhkan mereka.


Susi dan Dinda baru datang ke kelas. Mereka menghampiri sahabat nya itu.


"Sinta?"


"Gua baik-baik saja tenang."


Mereka merasa lega dan saling berpelukan.


...****...


Semuanya sedang kumpul di kantin dengan makanan masing-masing bahkan ada Raihan, tapi ada satu orang yang kurang.


"Sinta mana? Kalian gak bareng sama Sinta?" tanya Dika sambil meminum es jeruk nya.


Bukan nya menjawab, Dinda dan Susi malah tatap-tatapan.


"Ada apa? Sinta sakit?"


Pertanyaan Rio seketika membuat wajah Raihan berubah panik.


"Rio! Lu kalo ngomong jangan sembarang, liat samping lu wajah nya langsung panik!"


Perkataan Arga membuat Raihan malu. Rio terkekeh kecil dan meminta maaf.


"Sorry, Han."


"Sinta gak apa-apa. Dia sehat-sehat aja."


"Terus, Din? Di mana dia sekarang?"


Orang yang mereka omongin datang ke kantin tapi.


"Itu Sinta! Tapi kenapa sama Devan?" tunjuk Arga. Mereka semua kompak menatap Sinta.


Sedangkan Sinta tau saat ini teman-teman nya sedang menatap nya. terutama dari mata yang di tutupi oleh kacamata itu, lebih tepatnya adalah Raihan.

__ADS_1


__ADS_2