
Saat kembali ke rumah, Marni membuka pintu dengan keras bahkan sampai membuat Rudi dan Rani terkejut.
"Astaghfirullah, Mah ada apa? Kenapa Mamah buka pintunya sampai kaya gitu?"
Beliau tak menjawab, terus melangkah kan kakinya ke kamar dan menutup pintu nya dengan kencang. Rudi ingin menghampiri tetapi di tahan oleh istrinya.
"Jangan dulu Mas."
"Tapi, aku khawatir sama mamah. Aku mau tanya keadaan nya."
"Aku tau, Tapi jangan sekarang. mamah mungkin butuh waktu."
Rudi mengacak-acak rambutnya kasar. Rani mengusap lengan suaminya penuh kelembutan.
"Sabar Mas."
"Aku hanya khawatir."
"Aku paham. Beri mamahmu waktu, ya?" Rudi menggangguk pelan.
Sementara di kamar Marni menatap jendela kamarnya. Raut wajahnya tidak bersahabat saat ini.
"Kalian ternyata mau main-main sama Oma rupanya!"
...****...
Marni masih menatap Devan penuh kebingungan.
"Apa maksud kamu mengajak saya kerja sama?"
Devan mengaduk minuman nya sambil terkekeh kecil.
"Nyonya penasaran kenapa saya mengajak nyonya kerja sama?"
"Tentu saja."
"Saya akan memberi tahu nyonya kenapa saya mengajak nyonya kerja sama." Devan menatap mata Marni dengan tajam.
"Saya tidak suka kalau cucu anda dekat-dekat dengan Sinta!"
"Apa maksud kamu? Selama ini Raihan sudah jauh-jauh dari Sinta!"
"Maksud anda?"
"Kamu kenal anak perempuan cantik bernama Amel?"
Devan menggangguk. Ia.memang sempat melihat Amel berjalan bersama Raihan.
__ADS_1
"Saya menyuruh nya untuk menjaga cucu saya untuk tidak dekat dengan Sinta lagi."
"Benarkah?"
"Iya! Dan selama ini saya tidak pernah melihat lagi Raihan dekat dengannya."
Tiba-tiba Devan tertawa membuat Marni terkejut melihat nya.
"Kenapa kamu ketawa?"
"Benarkah yang nyonya katakan kalau cucu anda tidak dekat dengan Sinta lagi?"
Devan meminum kopi pesanannya sampai setengah tersisa.
"Seperti nya anda sedang di bohongi oleh cucu kesayangan anda dan juga Amel," lanjutnya.
"Apa maksud mu?"
"Anda tidak tahu? Selama di dalam sekolah mereka dekat! Bahkan sampai istirahat pun mereka berdua bersama!"
Marni sangat terkejut mendengar ucapan pemuda di depan nya. Ia yakin kalau Devan bohong.
"Mana mungkin! Saya sudah menyuruh Amel untuk menjauhi Raihan dari Sinta! Kamu jangan sembarangan ngomong, ya!"
"Astaga. Sepertinya mereka berdua berkerja sama buat bohongin anda."
"Oma tenang aja, aku selalu mengawasi Raihan. Bahkan kami selalu istirahat bersama. Jika Raihan tidak mau aku menarik nya dengan secara paksa!"
Marni masih membeku di tempatnya, mencerna semua itu. Devan bersedekap dada.
"Maka dari itu saya mengajak anda untuk kerja sama, bagaimana? Apa anda berminat?"
"Saya mau tau alasan kamu kenapa mengajak saya untuk kerja sama?"
"Karena saya mencintai Sinta! Dan saya tidak rela Sinta dekat dengan siapapun termasuk cucu nyonya!"
Marni tertawa. Namun, cara tertawa nya seperti meledek.
"Jadi, kamu mencintai anak kampung itu?"
"Jangan pernah mengatakan seperti itu nyonya! Saya tidak suka anda mengatai Sinta seperti itu!" jawab Devan penuh marah. Ia harus memaksa Marni menyetujui omongan nya.
"Jiika nyonya masih mengatakan seperti itu saya tidak akan segan-segan berbuat sesuatu pada cucu anda!"
Marni meradang mendengar ancaman Devan.
"Baik,saya tidak akan mengatakan seperti itu."
__ADS_1
"Jadi bagaimana? Deal?" Devan mengulurkan tangannya. Marni belum menerima uluran tangan itu.
"Kamu yakin bisa menjauh kan cucu saya dari Sinta?"
"Iya saya yakin, tapi saya juga butuh bantuan nyonya" Marni menerima uluran tangan Devan. Ini berarti saling menguntungkan.
"Deal!"
Devan tersenyum puas. Sebentar lagi ia akan bersama dengan Sinta tanpa ada Raihan.
Kamu tenang ya Sinta. Kamu tidak akan sakit hati lagi. Aku akan membuat mu bahagia dengan bersamaku.
...****...
Raihan turun dari tangga dan menghampiri orang tuanya di ruang tamu. Rambutnya acak-acakan.
"Mamah, Papah ada apa? Aku tadi dengar suara pintu di buka dengan kencang?"
Raihan mendudukkan dirinya di tengah-tengah orang tuanya.
"Kamu ngapain nyempil kaya kotoran di hidung begini?" tanya Rudi. Hanya ingin meledek anaknya.
"Jaahat banget anaknya di ledek begitu." Raihan cemberut, Rudi tertawa terbahak-bahak.
"Iya maaf, Papah cuma bercanda."
"Ada apa, Mah?" Kali ini menatap menatap Mamahnya.
"Tadi oma yang membuka pintunya sayang." Rani merapikan rambut Raihan.
"Oma?" Keduanya mengagguk kompak.
"Mungkin oma kamu ada masalah."
"Yang di katakan Papah bisa jadi, tapi apa ya sampai-sampai oma seperti itu?"
"Entahlah. Nanti Papah tanya."
"Rambut kamu kenapa acak-acakan begini sayang?"
"Tadi sebenarnya aku lagi baca buku di kasur sambil tiduran Mah, gak taunya malah ketiduran."
"Raihan, Papah udah pernah bilang sama kamu jangan baca sambil tiduran! Itu gak baik."
Raihan hanya tertawa kecil mendengar ucapan Rudi. Menyadari kesalahan nya sambil meminta maaf.
"Iya Pah, aku minta maaf."
__ADS_1
Mereka kembali mengobrol sambil bercanda dan tentunya Raihan masih nyempil di tengah kedua orang tua nya.