
Keluarga Raihan menghampiri keluarga Sinta yang sedang berfoto-foto.
"Susi!"
Beliau menoleh ke belakang, ternyata yang memanggil adalah sahabat nya.
"Rani?"
"Apa kabar?" Keduanya saling salaman ala ibu-ibu.
"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah, baik juga." Rudi dan Herman hanya bersalaman.
"Oh iya, selamat ya buat kamu sayang," ucap Rani sambil memeluk Sinta.
"Makasih Tante."
"Selamat juga ya, Raihan."
"Makasih banyak Tante Susi."
"Oh iya, bagaimana pekerjaan kamu Herman? Semua berjalan lancar?" tanya Rudi.
Kedua orang tua Raihan belum tahu apa yang terjadi dengan pekerjaan Herman. Sebenarnya Susi ingin sekali cerita ke mereka, namun Herman malah melarang.
Herman hanya gak mau jika keluarga Raihan berpecah belah karena masalah pekerjaan nya. Istri nya pun hanya bisa pasrah.
"Alhamdulillah, pekerjaan ku baik Rudi."
"Syukurlah kalo begitu."
"Oh iya, bagaimana kita kapan-kapan makan malam bersama di luar?"
"Tidak usah Ran, aku yakin oma Marni tidak akan setuju," jawab Susi pelan. Semuanya mengagguk.
"Ya sudah, bagaimana sekarang kita berfoto bersama? Biar jadi kenangan?" tanya Rani.
"Baiklah. Mari kita berfoto."
"Anak-anak di tengah Sus, kita orang tua di pinggir."
__ADS_1
"Baik "
"Sini, aku aja yang jadi tukang foto." Rizky menawarkan diri.
"Baiklah, foto yang bagus, ya?" Rizky mengangguk setuju. Ia akan menuruti ucapan ibu nya.
Raihan dan Sinta di tengah-tengah, sedangkan kedua orang tua mereka masing-masing di pinggir.
"Wow fotonya sangat bagus."
"Iya Ran bagus, Rizky bisa banget motonya," puji Susi.
"Makasih Tante."
Dua hari kemudian, tak terasa malam ini akan di laksanakan nya acara prom night. Semua murid bersiap dengan pakaian terbaik mereka.
"Sin, ini pakai gaun nya sekarang." Susi memberikan sebuah gaun kepada Sinta. Iamembulak-balikkan gaun tersebut.
"Serius gua pakai ini?"
"Iya Sinta, temannya aja tentang kerajaan. Pasti pakai gaun."
"Gua gk usah ikut ya?"
Sedangkan di kamar Arga, Raihan lagi di dandanin sama Rio dan juga Arga. Dika hanya melihatnya dari jauh.
"Arga, aku gk percaya diri."
"Sudah lu tenang aja, malam ini gua akan jadiin lu royal prince." Arga memilih baju yang cocok untuk Raihan, ia pun pasrah.
"Ini pakai."
Raihan memakai baju yang di pilih Arga ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia sudah keluar dengan menggunakan baju tersebut.
"Cocok!" Rio mengacungkan jempol nya.
"Sekarang kita rapihkan rambutnya."
"Siap Arga," ucap Rio.
Tak lama Raihan sudah rapih di dandanin mereka. Saat Raihan ingin memakai kacamata nya.
__ADS_1
"Jangan pakai kacamata!" cegat Arga.
"Kenapa? Terus aku pakai apa ? Kalau gk pakai kacamata mataku buram."
"Pakai ini."
"Apa ini?"
"Softlens." Raihan terkejut. Ia mengembalikan kotak kecil itu.
"Tidak Arga! Aku gk mau pakai itu takut."
"Sudah gk usah takut ada gua, lagian softlens ini aman khusus buat mata minus."
Arga memakainya ke mata Raihan secara perlahan.
"Arga! Pelan-pelan takut kena mata aku."
"Sabar apa lu!" Arga geregetan. Rio dan Dika menggelengkan kepalanya pusing.
"Sudah selesai, sekarang buka mata lu." Raihan pelan-pelan membuka matanya.
"Bagaimana?"
Raihan melihat dengan begitu jelas sama seperti ia memakai kacamata. Walaupun masih belum terbiasa.
"Iya aku bisa liat dengan jelas kaya pakai kacamata!"
"Bagus! Sekarang tinggal kalian bertiga yang rapih-rapih."
Mereka pun bersiap-siap dengan cepat. ketampanan mereka bertambah berkali-kali lipat.
"Kalian cepet banget rapihnya?"
"Kita sebentar lah karena kita memang sudah tampan dari dulu."
Raihan hanya mengangguk. Memang benar mereka sangat tampan setiap hari.
"Kita berangkat!" teriak Arga.
"Let's go!"
__ADS_1
Mereka pergi ke acara prom night menggunakan Lamborghini Arga.
,