Creator

Creator
Ace yang Sebenarnya


__ADS_3

Pagi itu Coloseum sungguh sangat ramai penonton. Bagaimana tidak, jadwal dari pertandingan menunjukkan bahwa pertarungan antar ace akan dimulai hari itu. Ace dari balai penyerang adalah Iko, murid dari komandan balai penyerang itu sendiri. Lalu yang menjadi lawannya adalah Iris yang dianggap sebagai ace dari balai ksatria suci.


Keduanya adalah orang-orang generasi emas di militer bagian, dan tidak hanya itu, keduanya juga sama-sama belum terkalahkan sejak turnamen ini dimulai. Dari segi kekuatan maupun teknik bertarung akan sulit untuk menentukan siapa yang akan memenangkan pertandingan ini, namun itulah yang menarik. Terutama bagi para pejudi, mereka sangat suka bertaruh untuk hal yang tidak pasti seperti ini.


**


Iris sekuat apapun dirimu, sebagian besar dari kemampuanmu telah kau perlihatkan dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya. Akan mustahil bagimu untuk bisa mengalahkanku.


“Iko, kau memang cukup kuat untuk anak seusiamu. Namun tidak seharusnya kau menunjukkan wajah seperti itu.” Itu adalah Kohei yang sedang menegur Iko. Merasa percaya diri adalah hal yang baik, tapi jika itu menimbulkan rasa sombong, sebaiknya kau menghindarinya.


“Apa maksud anda wakil komandan? Jangan-jangan anda berpikir bahwa saya akan dikalahkan oleh gadis bernama Iris ini. Ayolah... itu tidak mungkin bukan?” Dengan sombongnya dia mengatakan itu di depan Kohei. Tapi Kohei tidak akan bergeming hanya dengan ungkapan membosankan seperti itu.


Dia memang menyandang gelar sebagai wakil komandan, namun kekuatan terbesar balai penyerang adakah Kohei itu sendiri. “Hmm, terserah apa katamu Iko, tapi kali ini akan ada yang benar-benar akan menghancurkanmu dalam turnamen.”


“Hoi hoi, itu menakutkan lo wakil komandan. Jangan mengatakan hal seperti itu, atau jangan-jangan anda sungguh sangat menginginkan kekalahanku? Kalau begitu nanti peringkat dari balai penyerang bisa turun lo.” Betapa tidak sopannya Iko saat berbicara kepada wakil komandannya sendiri. Tidak hanya menyela perkataannya, dia bahkan mengatakan sesuatu yang sangat mengada-ngada.


Kohei hanya tersenyum mendengar kata-kata tersebut, diapun mulai beranjak tempat duduknya. “Ingat baik-baik peringatanku tadi Iko, jika tidak kau akan benar-benar hancur.” Hancur, tidak mungkinlah ada yang bisa menghancurkan dirinya, itulah yang dipikirkan Iko saat itu.


Tidak lama setelah itu, sang komentator mulai mengumumkan untuk pertandingan hari ini. “Selamat pagi saudaraku semua, mungkin telah lama kalian menantikan hari ini. Tentu saja itu pasti, dua orang ace akan bertanding hari ini!” sorakan demi sorakan terus dilakukan oleh para penonton, sang komentator pun melanjutkan perannya.


“Kalau begitu tidak perlu lagi berlama-lama, mari kita sambut kedua peserta andalan yang bertanding hari ini. Dari sudut timur, 27 kali kemenangan dan belum pernah kalah, ace dari balai penyerang, Iko!” Setelah dipanggil, Iko langsung masuk kedalam arena dan melambaikan tangannya kepada para penonton.


“Lalu jangan lupa pada sudut barat, ace dari balai ksatria suci, 25 kali kemenangan dan belum pernah dikalahkan. Mari kita sambut, nona Iris!” setelah beberapa saat setelah dipanggil, Iris belum kunjung keluar. Itu memunculkan berbagai pertanyaan baik bagi juri maupun penonton.

__ADS_1


Huh, jangan bilang bahwa kau takut kalah sehingga menghindari pertandingan ini. Iko menyombongkan dirinya dalam hati. “Maaf para hadirin, sepertinya ada sebuah pergantian peserta untuk sudut barat—sang komentator terdengar sedang mendebatkan sesuatu—Ehmm, sepertinya karena luka dari pertandingan terakhir dari nona Iris belum sembuh total, balai ksatria suci mengajukan pergantian peserta untuk pertandingan kali ini.


Hoi hoi hoi, apa ini. Apa Iris setakut itu untuk melawanku? Huh, akan sangat membosankan untuk melawan seorang kroco dalam sebuah pertandingan. Suara mik yang nyaring, sang komentator melanjutkan tugasnya.


Untuk peserta turnamen dari sudut barat, mari kita sambut, Luna Luminaries. Peserta ini baru pertama kalinya tampil dalam turnamen ini, kemenangan dan kekalahan 0.”


Hoi apa balai ksatria suci benar-benar separah ini. Ah, apa boleh buat, akan kuselesaikan ini dengan ce-pat. Luna memasuki arena, aura yang terpancar darinya membuat Iko sedikit terpesona.


Sang wasit menyuruh mereka untuk bersiap. “Hei nona, aku akan berbelas kasih kepadamu. Jadi lebih baik kau menyerah saja untuk pertandingan ini. Lagipula sangat tidak menyenangkan melihat gadis secantik dirimu harus terluka.”


“Heeh, kau baik hati sekali ya. Tapi itu tidak masalah, aku akan menemanimu sampai akhir. Atau mungkin kau takut pada gadis sepertiku?” Kata-kata itu sontak membuat Iko mulai mengeluarkan amarahnya. “Hah, takut? Jangan bercanda denganku. Kalau begitu sesuai keinginanmu aku akan menghancurkanmu dengan seluruh kemampuanku!”


Luna tersenyum tajam mendengar reaksinya, itu membuatnya tampak sangat dingin. “Kukuku, justru itulah yang kuinginkan saat ini.” Iko telah kehabisan kesabaran, dia menarik pedangnya dan memasang kuda-kuda. Disisi lain, Luna tampak sangat tenang. Pedangnya masih belum ia cabut, namun posisinya tampak tidak memiliki celah sedikitpun.


“Kau! Huh, tidak kusangka kau bisa menghindarinya begitu saja. Sepertinya kau punya sedikit kemampuan ya.” Emosinya terus disulut oleh Luna. Diapun terus menyerang Luna dengan segenap kemampuannya. Dari skill, teknik berpedang, dan seluruh kemampuan bertarung yang dikeluarkan oleh Iko berhasil ditahan dengan mudah oleh Luna.


Hoi hoi, kenapa aku harus mengerahkan seluruh kemampuanku hanya untuk menghadapi gadis ini. Dia bahkan belum pernah mengikuti turnamen ini satu kalipun kan? Bagaimana dia bisa menahan seluruh seranganku yang berada di 5 besar dengan sangat mudah?


“Kau, barusan berpikir kenapa harus mengerahkan seluruh kemampuanmu hanya untuk melawanku bukan?” Iko tersentak mendengarnya. “Kau? B-bagaimana bisa?” dia benar-benar panik kali ini, yang ada dihadapannya benar-benar sesuatu yang berbeda dari seluruh lawan yang pernah dihadapinya sebelumnya.


“Itu sangat mudah bukan? Nalurimu merasakan ketakutan akan perbedaan kekuatan yang kita miliki. Apa ini sudah menjawab pertanyaanmu?” Dengan santainya Luna mengucapkan hal itu, sementara yang lain sedang tercengang melihat Iko sang jagoannya harus bekerja keras untuk melawan Luna.


“Hoi gadis ini, siapa dia? Kenapa dia terkesan begitu kuat.” Sebuah perdebatan mulai terjadi ditempat para penonton. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya karena tidak mengenal Luna sama sekali, disisi lain orang yang bertaruh untuk Iko juga mulai panik untuk kerugian yang akan mereka dapatkan.

__ADS_1


“Huh, ketakutan? Apa yang kau bicarakan, aku tidak pernah merasakan ketakuta—Sebelum Iko selesai berbicara Luna mulai menyelanya. “Tubuhmu gemetaran, dadamu terasa sesak, telinga mulai berdengung, dan detak jantungmu yang meningkat. Jika itu bukan ketakutan, lantas apa kau menyebutnya?”—Diamlah! Tutup mulutmu itu, aku tidak pernah merasa takut. Apalagi dihadapan gadis sepertimu!”


Dengan seluruh tekadnya, Iko melakukan serangan secara langsung kepada Luna. Namun itu hanya hak yang sia-sia. Menyerang secara gegabah sebelum menguras habis kekuatan lawan hanya akan membuatnya diserang balik. Alhasil Luna menyerang Iko dengan tekniknya sendiri hingga membuatnya terpental begitu jauh.


“Arrgghh. Bagaimana bisa?” Iko benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri, yang dia tahu Luna hanya berusaha menangkis serangannya, itu saja. “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, itulah perbedaan kekuatan diantara kita. Jika kau belum mempercayainya maka, akan kutunjukkan sedikit keseriusanku kepadamu.”


Luna mengambil kuda-kuda dan mulai merapalkan sebuah mantra. Pedangnya mulai menyala saat cahaya suci melapisinya. “Aku mempersembahkan doa kepada Tuhan. Tolong berikan hamba kekuatan roh yang suci. Mohon dengarkanlah permohonanku ini! Lenyapkan semuanya! Holly Slash!”


Sebuah tebasan dengan daya hancur yang sangat kuat dilepaskan Luna kearah Iko. Tubuhnya yang gemetaran membuatnya tanpa sengaja melepaskan senjatanya lalu ambruk ditempat. Kekuatan spiritual yang begitu besar terkandung dalam serangan Luna, sebuah gabungan skill dan sihir suci tingkat tinggi, itu adalah hal yang mustahil untuk ditahan dan dihindari oleh Iko.


“Hahaha, tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ada monster seperti ini yang akan ikut dalam pertandingan lo—sejenak dia mulai mengingat perkataan dari Kohei. Saat itulah dia menyadari apa maksud sebenarnya dari perkataan sang wakil komandannya—Ah, begitu ya.” Air matanya mulai keluar saat dilanda rasa putus asa. Dia juga menyesal, seandainya dia tidak begitu sombong dihadapan Luna, mungkin dia tidak akan berakhir seperti itu.


Saat serangan Luna hampir mencapai tubuh Iko, sebuah barier tiba-tiba muncul dan membuat serangan Luna meledak disana. “Cukup sampai disana saja nona. Untuk pertandingan ini kaulah pemenangnya.” Sosok itu adalah Kohei, wakil komandan balai penyerang depan. Dia melihat bahwa serangan itu bisa saja membunuh Iko dengan mudah, tapi dilihat dari pertarungan tadi, Luna memang telah benar-benar menahan diri saat melawan Iko.


“Ma-maaf, maafkan aku wakil komandan. Ini adalah salahku, aku terlalu meremehkan lawanku.” Kali ini ia sungguh menyesal dan bersujud untuk meminta maaf kepada Kohei. Wajahnya yang berantakan terlihat sangat buruk, tapi mungkin ini akan menjadi awal yang baik untuk perkembangannya. “Berdirilah Iko! Jika lawanmu adalah Iris, mungkin kau bisa mengalahkannya.


Tapi jika lawanmu adalah gadis itu, lebih baik kau merelakan pertandinganmu. Bahkan pemegang benih pahlawan sejati belum tentu akan menang melawannya. Selain itu perlu kau ketahui, ace dari balai ksatria suci yang sebenarnya adalah dia, bukan Iris!” Saat itu, seluruh area Coloseum mendadak menjadi sunyi karena menerima fakta tersebut.


Jagoan yang selama ini mereka dukung dikalahkan dengan begitu mudahnya, bahkan disisi lain, Iris yang dikira adalah ace dari balai ksatria suci selama ini ternyata bukanlah yang terkuat disana.


Luna berjalan kearah pintu keluar dengan santainya, namun ditengah perjalanan dia terhenti sejenak. “Wasit, kau sudah bisa mengumumkan hasilnya bukan?” Dengan kata-kata yang memecah keheningan dia pergi meninggalkan arena.


“Pertandingan kali ini dimenangkan oleh Luna Luminaries. Menambah 100 poin peringkat dari balai ksatria suci!” dengan diumumkannya hasil pertandingan tersebut menandakan bahwa pertandingan telah selesai, dan seperti biasa sorak sorai para penonton begitu meriah, walaupun banyak hal tidak sesuai harapan yang terjadi.

__ADS_1


Dengan perginya Luna dari arena, Kohei juga membawa pergi Iko dari sana saat pertandingan tersebut berakhir.


__ADS_2