Creator

Creator
Kembali ke Masa Lalu


__ADS_3

......Abad Ketujuh...


Saat itu, setelah terjadinya perputaran waktu yang begitu cepat dan sangat misterius, aku telah berada disebuah negeri antah-berantah. Sebuah hamparan padang rumput yang membentang dari setiap mata memandang terlihat begitu indah. Begitu juga suara gesekan rumput dan kicauan para burung yang ada disana, mereka membuat nuansa alamnya menjadi bertambah kuat.


“Jadi inilah pemandangan yang ada di abad ketujuh yang berada tepat sebelum perang penghabisan?” Gumamku yang takjub melihat pemandangan tersebut.


Lalu, menurut apa yang telah diceritakan oleh Creator sebelumnya, untuk sekarang mungkin tugasku belum memiliki ruang untuk dimulai.


Karena itu aku pergi menyusuri dataran tersebut untuk mencari tanda-tanda kehidupan dari para manusia dijaman tersebut.


Berjalan dihamparan padang rumput seluas itu, hanya bertemankan suara alam memang terasa menyejukkan, namun ada sesuatu yang begitu mengganjal dihatiku ini. Sebuah perasaan yang sulit dimengerti, rasanya seperti dipenuhi kekhawatiran, rasa takut, atau hal semacam itu. Namun aku sama sekali tidak mengetahui asal dari munculnya perasaan tersebut.


Akupun mengahadapkan wajah ini kearah langit guna untuk mencari jawaban. Namun yang terlihat disana hanyalah sebuah kehampaan tak berujung dan apa yang ada diatas sana juga sama sekali tidak ada yang mengetahuinya, tapi mungkin itu juga sama dengan keberadaan dunia ini.


“Sungguh ironis sekali.”


Aku pun melanjutkan langkahku yang sempat terhenti di padang rumput tersebut. Lalu, semakin jauh aku melangkah, tibalah aku di bagian terindah dari hamparan padang rumput yang membentang luas tersebut. Disana tampak sebuah kerumunan bunga yang begitu banyak saling bertebaran diterpa angin. Juga terdapat sebuah sungai kecil didekatnya yang menjadi salah satu sumber kehidupan bagi bunga-bunga tersebut.


“Sungai.., berarti akan ada sumber air didekat sini.”


Aku pun mulai bergegas untuk kehulu sungai itu karena berpikir akan ada pemukiman dari ras manusia disana. Lalu, kurang lebih akan sama seperti dugaanku, aku melihat seorang bocah laki-laki dengan usia sekitar 10 tahun didalam lembah dimana sungai tersebut mengalir. Dia tampaknya sedang mencari sesuatu ditepi sungai tersebut.


“Anu....” aku pun mencoba untuk menyapa dirinya.


“Huwahh!!”


Byurr....


Dia tercebur, aku sangat tidak menyangka kalau dia akan terkaget seperti itu dengan kehadiranku disana.


“Ampuni aku, aku berjanji tidak akan mengambil ikan disungai ini secara diam-diam lagi, karena itu ampunilah aku penjaga lembah!” anak yang tampak basah kuyup itu memohon ampunan dengan begitu lucu dihadapanku.


“Eh.., sepertinya kau sedikit salah paham. Coba lihatlah, aku bukanlah penjaga lembah!”


Diapun mendongakkan kepalanya untuk melihat diriku yang sedang berada ditepi sungai tersebut.


“Cantiknya!” kata-kata itu keluar tanpa sengaja dari mulut bocah tersebut.


Mungkin itu cukup mengingatkanku pada sebuah kejadian dikehidupan master sebelumnya, tepatnya saat bertemu dengan kakak itu. Dia juga sempat melakukan hal serupa dengan bocah ini, lalu kalau tidak salah kakak itu menjawabnya seperti ini.


“Heh.., ternyata kau pandai menggoda seorang gadis ya?


“Uh, bu-bukan seperti itu maksudku kak, aku tidak bermaksud menggodamu!” Dia begitu salah tingkah saat mendengar kata-kata tersebut dariku.


“Hahaha, reaksi itu benar-benar mirip dengannya.” Untuk pertama kalinya aku tertawa karena merasakan kesenangan yang berasal dari diriku sendiri. Disisi lain bocah itu tampak begitu malu karena merasa sedang dipermainkan olehku.


“Ehm, maaf aku tidak berniat mempermainkan dirimu, apa kau berasal dari desa manusia didekat sini?”


“Ah, jangan-jangan kakak sedang tersesat?”


“Bisa dibilang begitu, karena itu apa kau bersedia membantu kakak ini?”


“Tentu saja, karena sudah jadi tugas seorang pria untuk melindungi para gadis! Kurang lebih begitu ayahku mengajariku.”


“Ayahmu sepertinya orang yang kuat ya didesamu!” aku mengulurkan tanganku untuk membantu bocah itu keluar dari sungai tersebut.


“Ahaha, kurang lebih begitu. Dulu waktu masih muda orang-orang bilang kalau dia suka sekali berkelahi dan membuat para wanita memperebutkan dirinya. Tapi semenjak dia menikah dengan ibuku, dia seakan berubah menjadi orang yang begitu penting dalam keamanan desa kami.”


Kamipun mulai berjalan menuju desa itu sambil berbicara panjang lebar.


“Ngomong-ngomong aku Mei, boleh aku tahu siapa namamu?”


“Aku Ren. Oh ya, bagaimana kakak bisa tersesat sampai tempat ini? Memangnya kakak berasal dari desa mana?”


“Desa mana.., apa disini ada begitu banyak desa?”


“Tentu saja ada banyak, bahkan kata ayahku beberapa desa diantaranya ada yang bukan desa manusia loh.”


“Heh.., begitu ya? Tapi aku tidak berasal dari desa manapun loh.”


“Tidak berasal dari desa manapun, apa maksudnya itu?”


“Oh, mengenai itu ceritanya cukup panjang. Mungkin lain kali saja akan kuceritakan padamu!”


“Heh... pelit!”


“Ahaha, bukan begitu... saat ada waktu yang tepat akan kuberitahu kok. Lalu aku juga punya banyak hal untuk diceritakan loh!”


“Heh.., kakak serius? Kalau begitu kakak harus berjanji untuk menceritakan semua itu padaku loh!”


Aku hanya tersenyum saat mendengar kata-kata Ren tersebut dan tidak terasa setelah perbincangan kami berdua ditengah perjalanan, kami telah sampai di desa tersebut saat hari mulai petang. Disana juga terlihat beberapa orang penduduk desa tersebut sedang mondar-mandir seperti kebingungan mencari sesuatu.


“Kita sudah sampai kak, disini adalah desa tempat aku tinggal!” jelas Ren yang sedang berjalan didepanku.


“Iya.” Jawabku sambil mengikuti langkah kecilnya itu.


Dari pemukiman itu, orang-orang yang tampak kebingungan itupun mulai mendatangi kami berdua yang baru saja keluar dari lembah.


“Itu Ren, dia kembali dengan selamat.”


“Anak itu, kenapa selalu membuat kita begitu khawatir.”


“Ren..!!” Itu adalah teriakan seorang gadis kecil yang tampak melambaikan tangannya untuk menyapa kedatangan Ren kedesa tersebut.

__ADS_1


“Ren.., sudah kubilang jangan masuk kelembah lagi sendirian kan!” tegur salah seorang pria yang ada disana.


“Maaf paman, aku tidak akan mengulanginya lagi.”


“Baguslah kalau seperti itu. Ngomong-ngomong siapa gadis ini?” tanya pria tersebut.


“Saya Mei, tadi kebetulan saya melihat bocah ini, maksudku Ren ini sedang terjatuh ke sungai itu, jadi saya mencoba untuk membantunya.”


..


“Hei lihat, gadis itu cantik sekali!”


“Lalu, warna rambut itu, apa itu asli?”


“Entahlah, tapi kelihatannya dia bukan gadis biasa!”


Pembicaraan mereka dapat kudengar dengan begitu jelas, meski agak terganggu, tapi aku mencoba untuk menghiraukannya.


“Paman, apa kita tidak boleh membiarkan kakak ini untuk tinggal sementara di desa ini?”


“Kalau itu, hanya kepala desa yang bisa menentukannya.”


“Kalau misal ada peraturan didesa yang melarang keras maka anda tidak perlu repot-repot.”


“Tapi sekarang sudah petang loh, akan sangat berbahaya untuk bepergian diluar sana, apalagi untuk seorang gadis.”


Tek, tek, tek...


Sebuah suara langkah kaki datang mendekati kami yang sedang membicarakan rencana untuk tinggal disini.


“Tinggallah sementara disini nak, belakangan ini ada berbagai aura menyeramkan dihutan setelah desa ini. Kami juga masih belum mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi disana.” Itu adalah kepala desa ini.


Usianya tampak cukup tua jika dilihat dari rambut dan kulitnya, tapi dari postur tubuhnya sepertinya dia bukan orang biasa.


“Anda datang kepala desa.” Sapa pria itu pada kepala desa ini.


Aku juga ikut menganggukan kepala untuk menyapa sang kepala desa tersebut.


“Kakek Ji, kakak ini tidak masalah kan walau tinggal disini lebih dari semalam!”


“Kalau itu tergantung apa nona ini mau tidak tinggal disini Ren, dam bukan kau yang memutuskannya.”


“Eh.. Kakak, apa kau besok akan langsung pergi?”


“Untuk sekarang karena masih belum memiliki tujuan, kurasa aku akan tinggal disini untuk sementara.”


“Sudah kubilang kan kek, kalau kakak pasti akan tinggal.”


“Hahaha, kalau begitu,”—Kakek itu melambaikan tangannya pada gadis kecil yang menyapa Ren tadi—“Lisa, antar kakak ini kerumahmu, biarkan dia menggunakan kamar kosong itu untuk tinggal sementara.”


“Ah, baik.” Gadis kecil ini menggandeng tanganku seolah akulah yang jadi anak kecil disini.


“Ren, kenapa kau juga ikut dengan kami?”


“Eh, apa aku tidak boleh ikut?”


“Hmm, kau ini benar-benar tidak paham dengan kesibukan para gadis.” Tegur gadis ini pada Ren.


“Heh..? Memangnya apa yang akan kalian lakukan?”


“Rahasia, hihi.” Gadis itupun kembali menuntunku untuk pergi kerumahnya dan meninggalkan Ren yang tampak sedang kebingungan.


“Kita sudah sampai, ini adalah rumah kakek kepala desa. Lalu untuk kakak, karena akan tinggal ditempat ini, maka kakak bisa menggunakan ruangan ini.”


“Luas juga ya..”


“Taruh saja dulu barang-barangmu disana kak, untuk sekarang ayo ikut aku. Akan kutunjukkan tempat paling nyaman dirumah ini dijam segini.”


Gadis itupun mengajakku keluar lewat pintu belakang, disana tampak sebuah bangunan agak luas dengan asap yang agak mengepul terus bermunculan. Karena itu sedikit membuatku penasaran, akupun mencoba untuk bertanya pada gadis itu.


“Tempat itu, sebenarnya apa?”


“Itu adalah tempat pemandian bagi para wanita didesa ini.”


“Lalu, asap itu?”


“Oh, itu karena yang ada disana adalah mata air panas, jadi akan menimbulkan uap seperti itu. Jangan-jangan, kakak tidak pernah ke pemandian air panas?”


“Ugh.., b-bukan seperti itu, hanya saja ini sedikit berbeda dari yang kuketahui.” Gadis ini, walau tampangnya imut entah kenapa perkataannya begitu tajam.


“Berbeda, memangnya seperti apa pemandian air panas yang kakak ketahui?”


“Sumber air panas yang ada di dekat kawah pegunungan, hanya yang seperti itu yang kutahu. Jadi aku tidak menyangka kalau akan ada ditempat seperti ini.”


“Heh... sepertinya seru, apa kapan-kapan aku bisa melihat ya yang seperti itu?”


“Entahlah, tidak ada yang tahu masa depan bukan?”


“Itu juga benar sih. Kalau begitu, sekarang ayo kita masuk!”


Lagi-lagi dia menggandeng tanganku agar kami bisa kesana lebih cepat. Namun aku baru sadar, kalau diriku seharusnya adalah seorang lelaki. Tapi karena ingatanku dan master bercampur menjadi satu, itu membuatku lupa dengan gender yang harusnya kuperankan.


“Eh, tunggu sebentar!”

__ADS_1


“Ada apa kak?”


“Apa didalam juga ada banyak wanita?”


“Tentu saja banyak, karena waktu petang seperti ini kebanyakan dari kami sangat suka menikmati pemandian ini.”


Eh, lalu bagaimana denganku, aku laki-laki loh.



Eh, kau! Darimana saja kau, kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini?



Cih, baiklah jika kau ingin begitu.


“Kalau begitu aku akan masuk dengan senang hati!”


Krieett....


Whush...


Saat kami membuka pintu pemandian, uap itu langsung keluar dengan cepat. Disana juga banyak para wanita desa ini yang sedang menikmati sensasi di pemandian tersebut.


“Oh Lisa, akhirnya kau datang.” Sapa seorang tante-tante yang berdiri di depan meja penitipan.


“Iya bibi, barusan masih ada beberapa urusan.”


“Eh ngomong-ngomong, siapa nona ini?” bisik tante itu pada Lisa.


“Oh, kakak ini adalah tamu kepala desa, dia akan tinggal bersama kami untuk sementara.”


“Heh begitu ya.., nona, silahkan masuk!” Sambut tante itu.


“Kalau begitu permisi!”


Akupun melepas setelanku dan menggantinya dengan handuk yang telah disediakan disana.


“Hei nona, tubuhmu bagus sekali yah.”


“Eh.., kau terlalu menyanjung tante.” Jujur pendapat itu membuatku merasa aneh, tapi aku tidak memiliki pilihan lain untuk menerima semua ini.


“Ah, jangan merendah nona, selain tubuhmu, kulit dan rambutmu juga sangat indah loh. Tapi sayangnya..”


“.... ada apa tante?”


“Hmm, baiklah.. aku tahu kenapa kau malu-malu untuk masuk pemandian ini. Anda tidak perlu berkecil hati, karena seiring bertambahnya usia maka dada anda nantinya pasti juga akan tumbuh!”


“....”


Kenapa orang ini malah menyemangatiku untuk hal seperti itu.


Setelah bertingkah untuk menenangkan diriku, tante ini dengan sopan menuntunku untuk masuk ke pemandian tersebut.


Lalu seperti yang selama ini kubayangkan, sensasi dari pemandian air panas memang sangatlah nyaman.


“Ini, nyaman sekali.” Bahkan kenyamanan itu membuat rasa lelahku seakan menguap bersama air tersebut.


“Sepertinya kakak cukup menikmatinya untuk seseorang yang mencoba untuk menolak semua ini?”


“Apa yang kau katakan, tidak mungkin bukan seseorang akan menolak kenyamanan seperti ini.”


“Ahahaha, kakak ini ada-ada aja. Padahal kau sendiri pelakunya.”


Akupun menangkap Lisa dan membasuh rambut panjangnya itu. Walau ini berbeda dengan rambutku, tapi menurutku rambutnya juga begitu indah untuk gadis seusianya.


**


Dan setelah kurasa cukup untuk menikmati pemandian tersebut, akupun keluar dari sana untuk menata kamar yang telah disediakan oleh kepala desa. Tapi meski begitu, tidak ada barang sama sekali yang harus ditata dikamar ini. Begitu juga bawaanku, sama sekali tidak ada barang yang bisa ditata dikamar ini.


Ngomong-ngomong, kapan aku mulai membawa semua ini?



Sudah kuduga hanya kau yang bisa melakukan semua ini.


Tok, tok, tok,


“Kakak, waktunya makan malam loh, semua orang sudah menunggu diluar.”


“Iya, aku segera kesana!”


“Kalau begitu aku duluan ya!”


“Eh, tunggu Lisa, kau bilang diluar, bukannya diruang makan?”


“Ruang makan, kenapa kakak melantur begitu?”


Heh, kenapa anak ini malah mengatakan kalau aku melantur, bukannya memang harusnya ditempat makan.


Akupun segera mencari tahu keadaan yang sebenarnya dan segera keluar dari rumah kepala desa. Lalu yang tampak disana adalah sebuah prasmanan yang diikuti oleh seluruh penduduk desa ini, atau memang begitulah mereka menentukan waktu untuk makan.


***

__ADS_1


Pengumuman ya rekan..,untuk cerita sengaja direset... soalnya kakakku yang membuat novel ini sedang Kritis di RS,, jadi untuk ceritanya saya selaku adiknya akan berusaha untuk melanjutkan...


Mohon bantuan do'a untuk kesembuhan kakak saya..!!! 🙏🙏


__ADS_2