
Liontin ya kalau tidak salah namanya? Tapi bentuk dari ukirannya begitu tidak asing bagiku.
Sebuah tanda petik terbalik terukir pada liontin tersebut. Membuat Meiga merasa tidak asing saat melihatnya. Lalu ucapan dari gadis itu juga terasa memiliki makna tersendiri dibaliknya. Tapi semua itu mungkin hanya perasaan Meiga saja. Diapun kembali pada tujuan utamanya datang ke toko tersebut, mencari sebuah kristal sihir. “Kakek, apa kau menjual beberapa kristal sihir disini?”
Kakek penjaga toko mengatakan bahwa semua kristal sihirnya telah dibeli oleh gadis tadi. Jawaban itu sontak membuat perasaan Meiga menjadi aneh. “Apa ini hanya sebuah kebetulan? Sungguh kebetulan yang sial.” Batinnya. Dia pun segera kembali ke tempat para temannya karena gagal untuk menemukan kristal sihir di toko tersebut.
Ditengah perjalanan kembali dia bertemu dengan sahabatnya yang baru kembali setelah belakangan ini, dia tidak lain adalah Zenin. “Zenin, kau sudah kembali, bagaimana dengan urusanmu?” Meiga menyapa sambil menghampirinya. “Ah, tenang saja beberapa sudah kuselesaikan kok.”
Meiga kepikiran, jika masih beberapa yang diselesaikan berarti masih ada yang lainnya dong. “Ah, bodo amat, yang penting dia kembali dengan selamat itu sudah cukup.” Meiga dengan cepat mengubah prasangkanya tersebut. “Bagaimana dengan turnamennya, apakah berjalan lancar?”
Wah nusuk banget loh Zenin. Bagaimana aku bisa bilang kalau hampir segala urusan turnamen diselesaikan oleh orang bodoh itu.
“Ehm, masalah turnamen kau tidak perlu khawatir Zenin. Kurang lebih semua seperti yang direncanakan. Sekarang kita sudah mendapatkan hak untuk ikut serta di turnamen tingkat ketiga. Sekarang menjadi bagian dari ganda depan bukanlah sebuah mimpi lagi lo.” Jelas Meiga dengan agak menutupi fakta. Tapi yang dikatakan bukanlah kebohongan, tujuan mereka mengikuti turnamen tersebut tidak lain adalah untuk bergabung dengan pasukan investigasi.
Yang tujuannya tidak lain adalah melakukan pemusnahan terhadap para makhluk jahat seperti iblis maupun monster roh jahat. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, turnamen dibuat untuk mencari orang-orang kuat yang bisa mendukung kelangsungan hidup di kerajaan Meeden. “Kau benar Ola, jika kita bisa bergabung dalam investigasi maka membalaskan apa yang terjadi pada orang-orang sebelumnya bukanlah sebuah mimpi lagi.”
“Kalau begitu mari kita kembali, akan kuperkenalkan kau dengan para anggota baru kita.”
“Anggota baru? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya?” Tanya Zenin dengan panik. Dengan sifatnya yang agak pemalu, mungkin membuat dirinya agak sulit untuk membiasakan diri dengan orang-orang baru disekitarnya. Namun Meiga dari awal juga menyadarinya, karena itu dia memilih mereka berdasarkan spesifikasi yang cukup khusus.
“Tidak masalah, mereka semua orang baik kok, kau pasti akan bisa segera membiasakan dirimu dengan mereka.” Meiga mencoba menenangkan Zenin yang agak panik. “Baiklah kalau kau bersikeras.” Ucapnya pasrah. Dia sudah mengenal Meiga cukup lama, tentunya dia tahu kalau Meiga sudah menetapkan sesuatu, dua pasti akan melakukannya.
**
Tiket untuk ikut serta dalam turnamen tingkat ketiga telah didapatkannya, kepala akademi pun menciptakan sebuah pesta kecil untuk mereka. “Hei makanan ini enak lo.” Ucap Dedy sambil mengunyah makanan dimulutnya. “Dedy, kebiasaanmu itu benar-benar buruk lo.” Tegur Anie yang jengkel melihatnya. “Ngomong-ngomong Dedy sama Anie benar-benar dekat ya. Hoh jangan-jangan mereka pa–”
“Tentu saja tidak!” Sahut mereka bersamaan memotong perkataan Orin. “Lalu apa hubungan mereka ini.” Batin Orin.
“Kami hanya pasangan yang sangat akrab.” Jelas Anie singkat.
“Hoi, bukankah itu artinya pacaran?” Orin terus mencoba menggoda mereka.
“Enggak mungkin!” Jawab mereka lagi-lagi dengan serempak.
“Seirama banget. Pasti kalian pacaran!”
“Kau salah!” Tolak mereka.
“Eh, padahal menurutku kalian cocok sekali lo. Kau juga sependapat kan Narta?” Narta hanya mengikuti alur yang dibuat Orin dan langsung sependapat dengannya.
__ADS_1
“Eh kalian serius?”—Anie melototi Dedy yang sedang bergumam–“ugh, enggak mungkin ya!”
Blam!...
Anie memukul Dedy dengan jengkelnya. “Aaaaah! Apa yang kau lakukan Anie, itu tadi benar-benar sakit lo.” Keluh Dedy dengan santainya. “Hah! Kau masih mau lagi?” Anie mengancam. Dedy pun sontak langsung merayunya dengan permintaan maaf.
Disisi lain Orin dan Narta benar-benar tertawa dengan terpingkal-pingkal, sungguh teman yang tidak tahu diri. “Membicarakan soal makanan, kepala akademi benar-benar baik ya. Sampai repot-repot menyiapkan pesta seperti ini untuk kita.” Narta merasa heran. Dari penelitian konyol yang biasa dia lakukan saat mengemis, kebanyakan orang tidak akan perlu repot-repot melakukan hal seperti ini, apalagi kepala akademi tidak akan mendapat apapun dari turnamen.
“Dari yang kutahu selama ini, kepala akademi memanglah sangat pengertian. Bahkan beliau sampai mau menciptakan sebuah kelas khusus untuk murid-murid yang bermasalah.” Jelas Orin. Walaupun yang dia maksud tidak lain adalah kelas mereka sendiri, tapi itu benar-benar sesuatu yang baru.
“Oh iya Orin, ngomong-ngomong siapa yang paling kuat didalam tim ini?” Anie sebenarnya telah kepikiran akan hal ini dari pertama kali dia bergabung, namun baru kali ini ada timing yang tepat untuk menanyakannya.
“Mengenai itu...?”Orin sedang berpikir.
Krieet!..
Meiga dan Zenin memasuki ruangan dimana para anggota timnya berada. “Tidak ada yang terkuat di tim kita.” Meiga yang mendengar pertanyaan itu langsung ikut serta dalam percakapan. “Apa maksudnya itu?” Anie tidaklah memahaminya. Meiga pun menjelaskan, jika melihat siapa yang terkuat mungkin bisa dibilang Narta yang terkuat.
Namun Narta tetap bisa dikalahkan oleh Meiga dengan mudah. Namun jika kita mengansumsikan Meiga adalah yang terkuat, dia masih bisa dikalahkan oleh Orin, walaupun menurut Meiga Orin tidak akan bisa mengalahkan Narta. “Intinya setiap orang memiliki lawan alaminya sendiri-sendiri.” Jelas Meiga.
“Mengenai turnamen tingkat ketiga, apa kau sudah mendapatkan tiketnya Orin?”
Kali ini Meiga berusaha untuk tidak terhasut oleh ocehannya, dan langsung masuk kedalam topik utama. “Baguslah kalau begitu. Untuk data-data peserta tingkat ketiga kebetulan aku mendapatkannya lewat kepala akademi tadi. Jadi langsung kita bahas saja strategi untuk menghadapi mereka.”
“Memangnya faksi mana yang akan menjadi lawan pertama kita?”
“Untuk lawan pertama kita adalah faksi ksatria suci gen kedua.” Orin menjawab pertanyaan Anie. Walaupun mereka tidak pernah mengikuti turnamen, tapi mereka adalah penonton setia turnamen yang tentunya dia cukup mengenal orang-orang dari faksi tersebut. “Gen kedua, berarti lawan kita akan ada delapan orang.
Bukankah itu akan sulit?”
Persyaratan turnamen tingkat ketiga adalah jumlah anggota tim minimal enam dan maksimal delapan. Tentunya akan sulit menghadapi musuh dengan jumlah lebih banyak. Namun mereka akan melewatinya apapun yang terjadi. “Tentunya itu akan sulit, namun bukan berarti kita tidak bisa mengalahkannya. Dari segi kekuatan individual kita, bisa dibilang lebih tinggi dari rata-rata peserta. Walaupun akan sulit jika lawannya adalah gen utama.” Zenin meyakinkan mereka.
Karena mulai terbawa suasana, Zenin dengan pedenya mulai mengajak mereka untuk menyusun formasi. “Karena ini adalah pertandingan pertama kita, kurasa akan ada sedikit masalah dalam kerja sama. Tapi melihat lawan kita...kurasa kita tidak akan terlalu sulit untuk menang. Benarkan Ola?”
Ola mengangguk setuju. Dari yang dia ketahui selama ini, selain satu orang tidak ada yang terlalu berbahaya didalam faksi gen kedua yang akan menjadi lawan mereka. Faksi itu adalah ksatria suci gen kedua, dan yang paling menonjol didalamnya adalah Iris jika mengesampingkan Luna. “Dulunya Luna adalah yang paling berbahaya diantara mereka, namun karena dia telah mendapatkan pengecualian dari pemerintah, maka dia tidak boleh ikut dalam faksi tersebut.
Lalu Irislah yang menjadi kekuatan utama dalam faksi tersebut, untuk melawannya aku sendiri sudah cukup.” Semua orang juga sependapat dengan Meiga, jika mereka terlalu bergantung kepada Iris maka mengalahkannya tidaklah sulit.
“Ehm, untuk strategi mari kita serahkan kepada Zenin sang ahli.” Orin memulai ocehannya ditengah diskusi tersebut. Namun tidak ada satupun dari mereka yang menggubris dirinya. Mereka terus mendiskusikan strategi untuk turnamen kedepannya.
__ADS_1
**
Esok telah tiba, Coloseum kali ini benar-benar dipenuhi oleh penonton. “Hei kau dengar tidak? ada tim yang baru naik ke turnamen tingkat ketiga dan langsung akan menghadapi faksi ksatria suci gen kedua loh.” Disana tampak beberapa penonton sedang menggosipkan pertandingan kali ini. “Heh, kalau begitu kasian sekali ya mereka, harus langsung dikalahkan dipertandingan pertamanya.”
“Tapi dari rumor yang beredar mereka begitu kuat loh, bahkan hanya perlu beberapa hari untuk naik ke tingkat ketiga.”
“Hoi, apa itu serius? Kalau begitu pertandingan kali ini pasti akan sangat seru.” Ucap salah seorang penonton yang begitu bersemangat menyaksikan pertandingan kali ini. “Itu memang benar, kalau tidak salah sang Jawara Kendali Angin yang sedang panas kali ini ada di tim ini loh!”
“Eh serius? Wah jelas bakalan seru pertandingan ini.” Para penonton merasa semakin tidak sabar untuk menyaksikannya.
**
“Iris, jangan terlalu memaksakan diri. Lawan kalian sama sekali tidak diketahui kemampuannya. Melihat bahwa Jawara Kendali Angin ada di dalamnya, kurasa mereka benar-benar lawan yang hebat.” Lyn mengingatkan. Raven juga setuju akan hal tersebut, jadi disana dia hanya membiarkan Lyn yang mengarahkan mereka.
Iris juga paham akan hal tersebut, sebagai orang yang tahu akan rasa dari pahitnya kekalahan dia tidak pernah sekalipun meremehkan lawannya. “Kami akan melakukan yang terbaik, bagiku kekalahan adalah hal biasa. Tapi yang sulit adalah bagaimana kita menyikapinya, bukankah seperti itu wakil komandan?” Lyn tersenyum dan menepuk pundak Iris.
Disana komentator mulai terdengar sedang mengumumkan pertandingan kali ini. Dia memanggil tim Iris sebagai yang pertama untuk memasuki arena. “Berjuanglah Iris!” Luna yang juga ada disana mencoba menyemangati sahabatnya tersebut. Iris hanya tersenyum mendengarnya dan mulai mengajak timnya untuk masuk ke arena.
“Di sudut barat, tim yang baru saja naik ke turnamen tingkat ini. Mari kita sambut faksi akademi Meeden!” sambut sang komentator. Semua anggota berjalan memasuki arena, namun hanya lima orang yang telah terlihat. “Hanya lima orang? Bagaimana mungkin.” Iris pun heran dibuatnya. “Waduh, apa yang kita saksikan ini. Apakah mereka hanya berlima!” Ucap komentator panik.
Seseorang dengan topeng diwajahnya akhirnya keluar dari pintu sudut barat dan memasuki arena. Wasitpun bertanya kepadanya, apa dia adalah anggota mereka. Orang itu mengangguk menjawabnya. Wasit akhirnya memutuskan untuk memulai pertandingan tersebut.
“Kalau begitu ayo kita mulai.” Ucap orang bertopeng dengan nada menantang. Beberapa anggota dari faksi ksatria suci gen kedua menunggu instruksi dari Iris saat akan menyerang. Namun disana Iris sedang terdiam memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya. Itu adalah suara orang bertopeng yang terdengar tidak asing ditelinganya.
“Jika kalian tidak menyerang maka kamilah yang akan menyerang. Narta!” Aba-aba telah diberikan, segera setelah itu Narta mengaktifkan skillnya Iron Forest Vines untuk menyerang mereka.
“Menghindar!” Iris yang merasakan bahaya dari skill itu memberikan komando pada timnya. Namun itulah tujuan sebenarnya dari skill tersebut. Untuk menciptakan zona pemisah bagi delapan orang tersebut.
“Ini? Gawat, kami terjebak!” Iris segera menyadari tujuan dari skill tersebut, namun hal itu sudah terlambat. Timnya telah terpisah menjadi 5 kelompok. Orin dan Narta menghadang dua orang, duo Dedy dan Anie melawan dua orang yang cukup merepotkan, Zenin juga berhadapan dengan satu orang, lalu yang terakhir orang bertopeng itu, Meiga menghadapi Iris satu lawan satu.
“Tak kusangka kau akan seceroboh ini Iris, atau akulah yang menilaimu terlalu tinggi?” Meiga mencoba memprovokasi. Namun lawannya adalah Iris, trik murahan seperti itu tidak akan memengaruhi dirinya. “Sepertinya kau sangat sok akrab denganku. Memangnya dimana kita pernah bertemu?” Balas Iris. Meiga pun perlahan mulai melepas topengnya, hal itu sontak membuat Iris begitu kaget karena tidak menyangkanya.
Rambut pirang panjang dengan mata sebiru lautan yang menyerupai dirinya adalah sosok asli lawannya, yang tidak lain dikenalinya dengan nama Ola. “Apa harus kukatakan lama tidak berjumpa?” Ucap Meiga lagi-lagi mencoba memprovokasi.
Ditengah sengitnya pertarungan kedua anggota tim yang lain, mereka tetap terdiam disana. Para penonton juga ikut terdiam saat melihat pemandangan tersebut. Dimata mereka itu adalah dua gadis cantik yang saling berhadapan dengan tatapan dingin satu sama lain. Mereka juga bertanya-tanya kenapa belum ada yang melakukan pergerakan diantara mereka berdua.
“Ola? Tak kusangka kau akan tiba-tiba muncul di tempat seperti ini. Pantas aku merasa begitu tidak asing dengan hawa keberadaan kalian.”
Senyum keduanya terlihat semakin tajam, menunjukkan seolah ingin tahu siapa yang lebih kuat diantara mereka. “Hampir dua tahun kita tidak bertemu, dari dulu aku sudah menantikan pertarungan diantara kita berdua.” Ucap Iris dengan nada mengenang.
__ADS_1
“Kalau begitu bagaimana kalau segera kita mulai? Aku juga ingin tahu seberapa besar perkembanganmu selama dua tahun ini.” Iris juga sepemikiran, saat itu mereka mulai mempersiapkan diri untuk saling berhadapan.