
Waktu selang berganti, setelah beberapa bulan dari serangan para malaikat cacat, banyak kondisi yang berubah di kerajaan Meeden. Mulai dari berakhirnya turnamen kerajaan, keberangkatan tim investigasi yang baru, dan invasi para monster roh jahat yang semakin parah. Semua itu juga disimpulkan pemerintah kerajaan sebagai rencana jahat dari para iblis. Sehingga sebuah kelompok pemburu iblis pun diciptakan, dengan menggunakan para pasukan yang ikut dalam investigasi sebagai anggotanya.
Dengan mengubah tujuan mereka dari hanya sekedar investigasi dan mempertahankan wilayah barat, kerajaan memerintahkan mereka untuk mendirikan beberapa kamp sebagai titik penyerangan terhadap para monster tersebut.
Kelompok itu juga dianggotai oleh para elit kerajaan, seperti para anggota militer bagian gen pertama dalam turnamen. Meski kemampuan mereka berbeda dengan para veteran ksatria pada umumnya, ruang perkembangan mereka masih sangat besar. Terutama para jenius di golongan Iris, mereka yang lolos dari turnamen mendapat perkembangan yang begitu pesat, contohnya adalah Orin dan Narta yang juga tergabung dalam kelompok tersebut.
Lalu dengan dihadapkannya mereka dengan peperangan secara langsung, juga membuat pengalaman dan pemikiran mereka menjadi lebih luas. Mereka tidak lagi bisa melakukan tindakan naif yang terlalu melibatkan perasaan. Bahkan beberapa anggota dari kelompok itu juga berniat untuk menghilangkan sifat kemanusiaan mereka. Para monster tidak memiliki hati, dan cara membunuh mereka juga begitu kejam. Jika para pasukan terlalu mengedepankan perasaan, maka mereka hanya akan berakhir menjadi korban dalam perang tersebut.
Dengan menanamkan pemikiran tersebut mereka ingin menciptakan sebuah pasukan tak tertandingi yang akan berdiri kokoh di pertahanan barat kerajaan. Namun tetap banyak dari mereka yang tetap menjadi korban dengan membawa pemikiran tersebut. Beberapa dari mereka juga pernah menentang hal itu dengan alasan karena hati nuranilah yang membedakan antara para monster dan manusia. Jika mereka menghilangkan sifat kemanusiaannya, maka mereka hanya akan menjadi sebuah mesin pembunuh yang tidak beda jauh dengan para monster tersebut.
Meski pemikiran dan impian mereka sangat beragam, tapi hanya ada satu tujuan yang mereka miliki, yaitu melenyapkan para iblis maupun monster roh yang menghalangi jalan hidup mereka. Tapi hanya dengan tekad dan tujuan yang sama tetap tidak dapat menghilangkan fakta tentang kesulitan melakukan semua hal tersebut. Bahkan dengan pertumbuhan mereka yang begitu pesat, tetap tidak menjamin kemenangan melawan para monster roh jahat tersebut. Karena setiap manusia menemukan hal baru tentang mereka, para monster itu juga menemukan hal baru tentang para manusia, seakan membatasi kemampuan pertumbuhan manusia dengan pertumbuhan para monster.
**
Dipagi itu, terlihat semua pasukan pemburu iblis sedang berkumpul di depan kampus mereka untuk menyiapkan langkah selanjutnya. Beberapa elit yang memimpin kelompok juga tampak sangat kuat, mereka adalah para petinggi dari militer bagian yang telah mencapai ranah sage. Meski begitu penyerangan terhadap para monster masih tidak berjalan lancar dan banyak sekali kerugian yang telah diderita oleh pihak manusia selama ini. Hingga saat ini kerajaan telah mengumumkan bahwa mereka akan mengirimkan bala bantuan termasuk Kouta sang pahlawan terpilih sebagai salah satu anggotanya.
“Dengarkan semuanya, pergerakan dari para monster roh jahat semakin besar. Sedangkan kerugian yang telah kita terima juga sudah terlalu banyak, karena itu kita tidak bisa meneruskan penyerangan lebih jauh lagi.”
“Ketua, kalau kita berhenti ditengah-tengah, bagaimana dengan keamanan kerajaan?” tanya salah seorang pasukan yang tengah khawatir.
Sang ketua pun menjawabnya. “Untuk saat ini kita akan mengambil langkah bertahan sambil mengatur langkah selanjutnya.”
“Langkah selanjutnya?”
“Tidak lama lagi, kerajaan akan mengirim Pahlawan terpilih untuk bergabung dalam penaklukan barat. Dari kabar yang beredar, sejumlah besar pasukan juga akan bergabung dalam rencana ini. Jadi saat ini kita harus bertahan sampai mereka datang untuk memulai perang besar dengan para monster roh jahat tersebut!”
Mendengar berita itu, para pasukan pemburu iblis tidak merasa lega, melainkan resah. Jika benar yang akan terjadi selanjutnya adalah sebuah perang besar, maka tekad mereka harus disiapkan sepenuhnya. Selain itu situasi dalam perang sangatlah sulit untuk ditebak, jika sebuah perang besar terjadi tanpa mengetahui seluk beluk tentang para monster roh jahat, itu akan sangat merugikan pihak manusia. Lalu, ketua mereka juga memutuskan untuk mengambil langkah bertahan tanpa tahu pasti tentang kedatangan bala bantuan dari kerajaan.
Disana Iris juga terlihat cukup khawatir setelah mendengar kabar tersebut.
Jika kerajaan memang berniat untuk melakukan sebuah perang besar, maka itu akan sangat tidak menguntungkan. Meskipun ada seorang pahlawan di pihak kami, itu juga tidak menjamin sebuah kemenangan dalam perang. Selain itu, jumlah para monster yang mulai masuk ke wilayah Meeden hampir sekitar seratus ribu. Dengan kekuatan mereka yang tidak sepenuhnya diketahui, itu akan sangat merugikan pihak kerajaan.
“Nona Iris, anda sepertinya sangat khawatir dengan kabar ini?” tanya Grey, salah seorang anggota tim Iris.
“Ah Grey.., kurasa situasi disini akan semakin rumit untuk kedepannya.” Keluh Iris sambil memegangi kepalanya.
“Kurasa juga begitu, jika perang besar benar-benar akan terjadi, maka situasi kedepannya akan semakin sulit.”
“Entah kenapa.., jika tidak berada disamping Luna aku selalu merasa tidak tenang.”
..
“Ternyata kau masih begitu merendahkan dirimu ya, Iris!” Ucap salah seorang pasukan yang berjalan mendekati Iris.
“Kau, Orin.., ada urusan apa sampai repot-repot datang kemari?”
“Sebaiknya kau lebih percaya pada dirimu sendiri, kita juga tidak tahu apa yang akan kita hadapi kedepannya. Jadi kau juga harus berhenti untuk mengandalkan Luna.” Orin mengingatkan.
Iris juga menyadari hal itu, tidak lama ini dia sudah menguatkan tekadnya untuk bergerak sebagai pelindung bagi Luna. Jika dia tidak yakin akan kemampuannya, maka dia pasti akan gagal untuk melindunginya.
“Terima kasih telah mengingatkanku Orin, kurasa aku juga harus mulai berubah.”
“Selain itu, kurasa Luna juga akan bergabung dalam perang ini.”
“Kenapa kau berpikir demikian?”
“Karena mustika Ola berada dalam dirinya, jadi aku yakin dia akan memiliki pemikiran yang sama dengannya.”
“Jadi kau sudah mendengarnya.”
Orin hanya mengangguk dan meninggalkan Iris dan Grey disana.
Luna, apa kau juga akan datang kesini? Jika itu benar aku akan sangat senang, tapi disisi lain aku juga akan khawatir akan keselamatanmu.
__ADS_1
**
Setelah mendapat panggilan dari sang raja, Kouta langsung kembali ke ibukota untuk menghadiri pertemuan yang tengah diadakan. Disana para menteri menetapkan bahwa beberapa petinggi dari tiap militer bagian akan dikirim dalam peperangan kali ini. Dari balai pertahanan Kouta sebagai perwakilan, bersama dengan 5 jenderal dan 20.000 pasukannya. Balai penyerang, Kohei dengan 5 jenderal dan 20.000 pasukannya. Balai pendukung, Lita sang Komandan dikirim langsung bersama 2 jenderal dan 10.000 pasukannya. Balai ksatria suci, Lyn dan 3 jenderal diikuti 20.000 pasukannya. Lalu yang terakhir adalah Balai Perlindungan yang merupakan militer bagian terkuat dikerajaan. Mereka mengirim 10.000 ksatria, 10.000 asasin dan 10.000 penyihirnya, tapi siapa nama jenderal dan petinggi mereka tidak pernah disebutkan.
Total semua ada 100.000 pasukan yang dikirimkan dalam perang ini. Setelah keputusan telah ditetapkan, semua perwakilan meninggalkan ruang pertemuan tersebut.
Dalam perjalanan kembali, Kouta tampak tidak puas dengan hasil pertemuan tersebut.
“Tuan muda, kenapa anda tampak murung?” Salah seorang jenderal balai pertahanan pun menanyakan keadaannya.
“Tidak ada hal khusus, hanya saja aku masih tidak mengerti kenapa identitas orang-orang dari balai perlindungan begitu disembunyikan.” Jelas Kouta singkat.
“Itu memang aneh, mereka dikatakan sebagai militer bagian terkuat dikerajaan. Tapi bahkan wajah dari petinggi mereka saja tidak pernah ditunjukkan.”
Itu memang sangat aneh, sebagai pusat dari sebuah militer, seharusnya mereka memiliki ikon sebagai perantara untuk mempersatukan seluruh kekuatan dari militer bagian. Tapi mereka seperti tidak memperhatikan itu sama sekali.
“Itu sangat aneh kan? Jika mereka memang tidak berniat untuk mempersatukan seluruh militer bagian, lalu apa tujuan sebenarnya mereka dibentuk?” Gumam Kouta penasaran.
Lalu dalam perjalanan itu Kouta tidak sengaja menemukan Luna yang sedang berlatih disebuah tempat diistana, disana dia ditemani dengan beberapa gadis seumurannya yang juga sedang berlatih. “Luna? kukira dia ikut dalam penaklukan barat.”
“Tuan muda, jangan-jangan anda belum mendengar kabarnya?” sang jenderal menanggapi gumaman Kouta.
“Kabar apa yang kau maksud?”
“Luna sang wanita suci telah kehilangan jati dirinya dalam penyerangan terakhir.”
“......” Kouta sangat terkejut mendengar berita itu. “Bagaimana itu bisa terjadi?” diapun menanyakan hal itu kepada sang jenderal.
“Waktu penyerangan beberapa saat lalu, dia memaksakan dirinya untuk menghadapi lawan yang terlalu kuat untuk dirinya. Demi menyelamatkan orang-orang yang sedang dalam bahaya, dia menggunakan energi kehidupannya terlalu banyak sehingga merusak jiwanya. Itulah yang kudengar dari kabar yang beredar.”
“Kudengar dia kehilangan seluruh ingatan dan hampir seluruh kekuatannya.”
Kouta langsung pergi menghampiri Luna setelah mendengar perkataan sang jenderal. Disana dia menatapnya dengan iba, Kouta berpikir kenapa orang yang dikaguminya harus berakhir seperti itu. Diapun mencoba untuk menyapanya.
“Luna..,”
Luna menoleh saat mendengar seseorang tengah memanggilnya.
“Heh Luna, apa dia kenalanmu?”
“Wah, orang itu cakep sekali.”
Para gadis disana mulai berbisik-bisik saat mengetahui kedatangan Kouta. Disana Luna juga terlihat malu-malu saat teman-temannya menanyakan tentang Kouta kepadanya, tentunya mereka sama sekali tidak tahu kalau Kouta adakah seorang pahlawan terpilih dikerajaan Meeden ini.
“Anu, apa anda memiliki urusan denganku?” Tanya Luna dengan lembut.
Seketika pikiran dan hati Kouta menjadi kosong saat mendengar suaranya.
“Luna, apa kau sama sekali tidak mengingatku sama sekali?”
“Maaf, aku tidak mengingat anda.” Jawab Luna sambil menundukkan kepalanya.
Kenapa bisa begini, tanggapannya sudah seperti orang yang benar-benar berbeda? Apa alasan orang itu melakukan perjalanan ke utara juga karena ini? Sebelumnya Luna pernah menyebutkan nama Meiga, lalu Ola juga menyebut dirinya sebagai Meiga, mungkinkah semua itu memang terhubung?
“Tuan, jika anda tidak memiliki kepentingan denganku, bolehkah aku melanjutkan latihan?”
“Ah, tidak masalah. Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja, maaf telah mengganggu latihanmu!”
“Tidak masalah, ngomong-ngomong siapa anda, apa kita sebelumnya telah saling kenal?” tanya Luna memastikan.
__ADS_1
“Aku Kouta, hanya seorang teman lama, jadi jangan terlalu dipikirkan!” Kouta pun meninggalkan Luna dengan teman-temannya, lalu kembali ke balai pertahanan.
“Luna, dari cara bicaranya, kurasa dia pasti memiliki hubungan khusus denganmu loh.” Ucap salah seorang gadis yang ada disana.
“Itu benar Luna, dengan kecantikanmu bukan hal yang mustahil kan mendapatkan pria setampan itu?”
“Itu benar, sungguh membuat kami iri.”
Semua teman latihan Luna sepemikiran, namun karena merasa malu Luna mencoba untuk menolak gagasan mereka. “Kurasa bukan begitu loh, lain kali akan kucoba tanyakan pada Iris.”
“Heh Luna, jangan-jangan hubunganmu dengan nona Iris juga begitu dekat? Ah, kau ini benar-benar membuat iri yah.”
“Aku memang dekat dengan Iris, tapi itu karena selama ini dialah yang merawat diriku. Selain itu, dia pernah bilang kalau kami adalah seorang sahabat dari kecil, jadi aku mudah terbiasa dengannya.”
Para gadis itu sungguh ingin menjadi seperti Luna, karena bagaimanapun dekat dengan pria setampan Kouta dan gadis sepopuler Iris tampak begitu keren dimata mereka. Walaupun Iris sendiri tidak menyadari pandangan orang-orang terhadapnya.
**
Keesokan harinya Kouta kembali datang ke tempat Luna berlatih. Tapi kali ini dia melihat kehadiran Raven ditempat tersebut, diapun mencoba untuk menyapanya.
“Selamat pagi Komandan.”
“Pahlawan terpilih, Kouta Zizalu.., ada urusan apa kau datang ke tempat ini?” Tanya Raven dengan nada serius.
“Aku hanya ingin melihat latihan Luna saja dan tidak ada maksud lain.”
“Jadi kau sudah mendengarnya?”
“Iya, aku ikut prihatin atas insiden itu.”
“Kau bisa melihatnya sendiri, dia kehilangan seluruh kemampuan yang telah dikuasai sebelumnya. Meski begitu, saat ini kurasa potensinya untuk berkembang masih tidak kalah dari sebelumnya.”
“Apa maksud anda?”
Raven menjelaskan tentang hasil kejadian itu, dan tentang kemampuan baru yang dimiliki Luna untuk saat ini.
“Jadi itu yang terjadi, ngomong-ngomong Komandan Raven, apa anda tidak berniat untuk mengirim Luna ke peperangan kali ini?"
"Entahlah.."
"Apa kemampuannya saat ini sama sekali tidak cukup untuk melindungi dirinya sendiri?”
“Aku tidak pernah berpikir demikian."
"Lalu, bagaimana dengan keinginan Luna sendiri?"
"Mengenai itu, Luna sendiri juga bersikeras untuk ikut dalam peperangan kali ini. Karena itu dia berlatih dengan keras untuk belakangan ini.”
“Jadi, apa anda akan mengirimnya?”
“Kurasa tidak ada pilihan lain, aku mungkin juga akan meminta para seniornya untuk melindungi dirinya. Kurasa dengan begitu aku akan tenang.”
“Bagaimana kalau aku mengatakan kalau aku ingin melindunginya?”
“Jika kau mau melakukannya maka aku akan senang, tapi kuharap itu tidak akan menciptakan sebuah perselisihan dalam pasukan kalian.”
“Untuk itu aku sendiri yang akan mengaturnya, jadi anda tidak perlu khawatir.”
Raven hanya tersenyum saat mendengar perkataan Kouta tersebut. Dia berpikir mungkin itu yang terbaik untuk keselamatan Luna dalam perang kali ini. Selain itu, mungkin saja beberapa ingatan atau kemampuan Luna bisa kembali diingatnya ketika menghadapi sebuah bahaya dalam perang tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat setelah itu, para pasukan kerajaan yang ikut serta dalam peperangan kali ini mulai dikumpulkan untuk mempersiapkan keberangkatan.