
Setelah perintah tersebut menyebar, Mon mengirim beberapa regu untuk menyelidiki arah lainnya. Dengan makhluk seperti itu di jalurnya, Mon yakin akan kehancuran mereka jika dia melanjutkan perjalanan tersebut.
“Hei, menurutmu apa ya yang ada didepan sana sehingga pemimpin tertinggi langsung mengubah arah penyerangan?” Ucap Noe, salah satu anggota dari regu penyelidikan.
“Entahlah... dia bahkan mengirim regu kecil seperti ini hanya untuk penyelidikan.”
“Kalian tetaplah waspada, jika ada sebuah bahaya yang menghadang maka kita tidak akan bisa kembali dengan mudah loh.”
Baik...!! Ucap dua orang tersebut dengan serempak.
Lalu dalam jarak beberapa meter kedepan, lingkungan sekitar mereka menjadi semakin gelap, udara disekitarnya juga terasa sangat kotor.
“Disini tampaknya sama sekali tidak dapat kita lewati.”
“Kau benar kapten, dilihat dari lingkungan sekitarnya saja tampak sangat tidak bersahabat dengan manusia. Selain itu, jika sejumlah besar pasukan mendapat serangan mendadak maka akan sulit melawan balik dengan wilayah seperti ini.”
“Kalau begitu kita akan kembali dan segera melaporkannya pada pemimpin tertinggi.”
“Setuju!”
Merekapun mengubah arahnya untuk kembali ke kamp pasukannya berada.
Tapi saat mereka mulai bergerak,
Krak, krak, krak...
Sebuah suara muncul dari semak yang berada tak jauh dari mereka.
“Suara apa itu?” Sang ketua regu kaget.
Salah seorang anggotanya pun pergi kesana untuk mengecek semak tersebut. Namun saat dia mulai membukanya,
Jleb...
Tiba-tiba sebuah benda menjulur kearahnya dan langsung menembus perutnya.
“Ugh...” tanpa mengetahui benda apa itu sebenarnya, orang itu telah kehilangan nyawanya.
“Heh?”—mata sang ketua langsung terbelalak saat melihat kejadian tersebut—“Mundur... secepat mungkin pergi dari sini!”
Karena panik, mereka pun langsung mundur secepat mungkin dari tempat tersebut. Namun seekor monster berbentuk seperti bunglon keluar dari sana. Ukurannya sepanjang 5 meter dengan tinggi 1,5 meter. Lidah yang dikeluarkannya juga sangat banyak dan begitu mematikan.
“Ahh...” teriak seorang anggota regu tertangkap oleh lidah monster tersebut.
“Oi... wind cutter!"—Orang itu terkejut—"Mustahil....” serangannya tidak mempan terhadap lidah monster tersebut.
Meski tampak sangat lentur, lidah-lidah dari monster tersebut tidak dapat dilukai dengan mudah oleh para pasukan disana. Daya serang dari lidahnya juga begitu kuat, hanya dalam satu tusukan dapat dengan mudah menembus baju perang mereka yang terbuat dari baja.
Wooahh...
Salah seorang pasukan berteriak karena tertangkap lidah makhluk tersebut.
“Tolong aku...” Teriaknya ketakutan.
Namun tidak ada satupun dari mereka yang menolongnya, mereka semua terus memacu kudanya dengan cepat untuk pergi dari tempat itu.
****...
Sebuah tusukan dari lidah makhluk itu langsung menghabisi orang tersebut.
Namun monster itu tidak mau berhenti disana, dengan membuka mulutnya yang lebar dan penuh lidah tersebut, dia mulai berlari dan terus mengejar mereka dengan kecepatan penuh.
“Siapapun Tolong hentikan makhluk ini... jika tidak, maka informasi tentang tempat ini tidak akan sampai ke para petinggi pasukan!”
Beberapa orang memberanikan dirinya untuk berbalik kearah monster tersebut untuk menyerangnya.
__ADS_1
“Fire Ball!”
“Wind Bullet!”
Duar, duar..., Blar...!!
Arrgghh...
Namun serangan itu tidak berpengaruh terhadapnya dan malah membuatnya meraung karena semakin marah. Lidah-lidahnya pun langsung memanjang dan menyerang mereka seperti sebuah sambaran petir. Dengan kekuatan dan kecepatan yang tidak masuk akal, orang-orang itu langsung dibunuhnya dalam sekejab.
“Sial dia begitu cepat menghabisi orang-orang kita!”
“Pergi dari sini secepatnya, tidak akan ada yang bisa menahan makhluk seperti it..,”
Zrakk...
Monster itu mulai menangkap dan mencabik-cabik mereka satu persatu.
**
Ditengah ruang pertemuan, sebuah kristal sihir memancarkan kejadian yang sedang dialami oleh para regu penyelidikan. Mereka tampaknya telah menanamkan sebuah penyadap tanpa diketahui oleh para pasukan tersebut.
“Sepertinya seluruh jalan yang akan kita ambil sangat tidak mengenakkan. Dijalur selatan ada Killer Chameleon, lalu diutara ada Miasma dan Deadwolf yang juga sama berbahayanya.”
“Lalu pemimpin tertinggi, jalur manakah yang akan kita ambil?”
“Yang paling memungkinkan hanya jalur selatan, karena lingkungan disana dan jenis monsternya lebih mendingan daripada yang diutara.”
“Tapi, bukankah informasi dari tim penyelidikan diselatan lebih sedikit dari utara?”
“Itu bukan masalah besar jika dibandingkan dengan Deadwolf dan Miasma. Lagipula kita juga dapat menghilangkan aura kegelapan dengan sebuah medan suci, karena itu kurasa tidak akan masalah.”
Meski argumen itu tidaklah salah, masih ada beberapa orang petinggi yang masih tidak puas dengan keputusan tersebut. Namun apa yang mereka coba lakukan hanya akan sia-sia dihadapan orang itu. Lalu dengan terpaksa, keputusan tersebut ditetapkan oleh semua petinggi.
**
...
“Iris, apa lukamu sudah baikan?” Luna bertanya dengan khawatir.
“Ini bukan masalah... tapi yang lebih kukhawatirkan adalah dirimu, apa kau benar-benar tidak masalah ikut dalam perang ini?”
“Apa maksudnya itu?”
“Kau ingat kan saat aku bilang kau pernah mengalami insiden yang membuat dirimu kehilangan seluruh kemampuan dan ingatanmu, apa kau sudah baik-baik saja dengan itu?”
“Tidak masalah kok Iris... tubuhku sudah terasa baikan, lalu untuk kemampuan, belakangan ini komandan juga mengajariku banyak hal.”
“Kau sebaiknya lebih percaya pada dirinya loh Iris!” Kata-kata itu diucapkan oleh Narta yang baru datang untuk menjenguk dirinya.
“Kalian, sedang apa disini?” Iris merasa heran dengan kedatangannya
“Kami datang untuk menjengukmu loh, kau harusnya senang dengan itu.”
“Itu benar nona Iris, kau seharusnya senang dengan kedatangan kami.”
“Grey.. kau juga datang bersama mereka?” Ucap Iris terkejut.
“Bukankah kau harusnya lebih percaya dengan kami kan Iris? Lagipula kita juga telah berjuang bersama dalam waktu yang lama.”
Mereka benar, seharusnya aku lebih mempercayai mereka setelah berjuang keras pada perang sebelumnya. Selain itu, mereka adalah teman yang dipilih Meiga secara khusus, tentunya tidak ada alasan bagiku untuk menjauh dari mereka.
“Kalian benar, mulai sekarang aku akan mencoba untuk lebih mempercayai kalian.”
Lalu ditengah percakapan mereka, Lita sang pemimpin divisi pendukung masuk kedalam ruangan tersebut.
__ADS_1
“Iris, kau sepertinya sudah cukup baikan?”
“Nona Lita, seperti yang anda katakan, keadaan saya sudah lebih baik sekarang.”
“Lalu, mereka adalah temanmu?”
“Benar, mereka adalah Narta, Orin, Anie, dan Grey yang sama-sama berada dalam pasukan pemburu iblis sebelumnya.”
“Lalu gadis ini, Luna ya kalau tidak salah?”
“Salam kenal, saya Luna.”
“Hmm, jadi kau adalah gadis yang dikabarkan waktu itu ya. Tak kusangka kekuatanmu akan menjadi selemah ini.”
“Melemah.., apa maksudnya itu nona?”
Lita memandang ke arah Iris dan bertanya kepadanya dengan kontak mata. Irispun mengatakan padanya bahwa Luna belum mengetahui kebenaran dari insiden tersebut.
Begitu ya, baiklah, aku paham apa maksudmu.
“Ah, bukan apa-apa Luna, kalian silahkan buat diri kalian nyaman disini. Karena sebentar lagi kita akan melanjutkan perjalanan lewat jalur selatan.”
“Kenapa kita harus lewat selatan?” tanya Orin penasaran.
“Entahlah, sepertinya ada sesuatu yang sangat berbahaya telah mencegat kita dijalur ini. Karena itu pemimpin tertinggi mengubah jalur penyerangan.” Jelas Lita.
“Namun bukankah itu aneh jika mereka tidak menyebutkan halangan besar didepan dan hanya memerintahkan untuk mengganti jalur penyerangan?”
“Kau benar untuk poin ini, tapi tidak akan ada dari para petinggi yang akan berani menentang keputusan dari pemimpin tertinggi.”
“Kenapa begitu?”
“Dari yang kudengar, dia adalah sosok orang yang akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Lalu kekuatannya juga sama sekali tidak dapat diremehkan.”
“Apa dia memang sekuat itu?”
“Iya, konon orang itu merupakan salah satu dari tujuh tetua kerajaan yang masih hidup dari sejak berdirinya kerajaan Meeden.”
“Heh... kalau begitu tak heran jika dia begitu egois.”
“Iris, kau sebaiknya tidak mengatakan hal seperti itu diluar sana!” Narta mengingatkan.
Irispun sadar kalau bahayanya akan sangat besar jika menyeret balai perlindungan dalam percakapan yang menjelekkan mereka.
“Kalau begitu aku akan pergi terlebih dahulu, kalian bersantailah selagi bisa!” Lita pamit meninggalkan mereka berenam disana.
**
...Jalur Selatan
...
Setelah melakukan pengorbanan yang begitu besar untuk memancing Tiamat ke jalur utama pasukan manusia, para monster juga melepaskan banyak sekali monster roh beracun seperti Miasma di jalur utara. Dengan demikian, manusia hanya dapat mengambil jalan selatan untuk melanjutkan perjalanannya guna menyerang para monster. Lalu disana para raja para monster telah menyiapkan puluhan ribu pasukan untuk menyambut mereka dengan serangan mendadak.
Bahkan kali ini pasukan monster yang dikirim memiliki ancaman setidaknya tingkat tinggi pada hampir setiap individunya. Itu akan membuat pasukan manusia semakin mustahil untuk menang melawan mereka.
“Jenderal, mereka mulai bergerak kemari!” lapor salah seorang pengintai dari pihak para monster.
“Kerja bagus, sekarang tempatilah posisi kalian masing-masing dan bersiap untuk menghabisi mereka!”
Lalu saat yang sangat dinantikan para monster telah tiba. Dijalur selatan yang merupakan sebuah lembah, mereka telah melihat para pasukan manusia mulai lewat dibawahnya.
Bunuh...!!
Dengan senyum jahatnya, mereka memulai penyergapan yang sangat mengerikan bagi pihak manusia.
__ADS_1