Creator

Creator
Keputusasaan


__ADS_3

Dengan perintah untuk bertahan, para pasukan kelompok pemburu iblis sangat terdesak dalam situasi kali ini. Puluhan ribu dari monster roh jahat seperti Orc, Goblin, dan Ogre terus menyerang ke wilayah mereka. Dengan pasukan dan perbekalan yang terbatas, mereka harus berjuang mati-matian hanya untuk bertahan hidup sampai bala bantuan datang.


Di kamp paling utara terlihat 4.000 pasukan pemburu iblis melawan para monster roh jahat itu supaya mereka tidak masuk ke wilayah mereka lebih jauh lagi. Pertempuran itu memang tampak berat sebelah, tapi di pihak manusia juga masih ada beberapa petarung kuat seperti August dan Ariel yang merupakan pimpinan di kelompok itu. Mereka dengan mudah mengatasi para goblin dan orc yang menghalangi jalan mereka. Namun jika yang dihadapi adalah ogre, itu tetap memerlukan usaha ekstra bagi mereka.


Namun mereka tetap bertarung dengan semangat juang yang tinggi, itu juga membuat para pasukan dibelakangnya menjadi lebih berani. Dengan segenap kemampuannya mereka terus melakukan perlawanan terhadap para monster tersebut hingga kematian menjemput mereka.


“Wahai air, tunjukkan kuasamu dan tenggelamkanlah seluruh lawanku. Sink!” Sebuah sihir air berskala besar dikeluarkan oleh August.


“Lightning Bolt!” Ariel pun dengan cepat langsung menanggapi serangan itu dengan menggabungkan skill beratribut petir miliknya.


Sebuah terjangan dari elemen petirpun tercipta saat itu juga, bahkan berhasil menghabisi ratusan dari mereka dalam sesaat. Namun energi yang dikeluarkan untuk serangan itu tidaklah sedikit, lalu setiap dihabisi para monster itu juga terus berdatangan. Cepat atau lambat, pada akhirnya mereka juga akan mencapai batasnya.


Dikamp lain juga terjadi hal serupa, semua pasukan disana sedang berjuang keras untuk melawan para monster itu. Dengan perbedaan jumlah dan kekuatan, mereka tetap bertarung dengan mempertaruhkan segalanya. Walaupun dibeberapa titik ada orang-orang yang begitu mencolok dengan kekuatannya, itu tetap tidak mengubah fakta bahwa pembantaian satu sisi tengah terjadi saat itu juga. Para goblin dan orc memang tidak terlalu sulit untuk ditangani, tapi jika ada ogre disana, maka puluhan orang atau bahkan ratusan pasti akan mati seketika.


“Ckk..,monster roh jahat tingkat tinggi, kenapa jumlah mereka bisa begitu banyak?” Ucap Iris kesal.


Para monster roh jahat seperti goblin dan orc terus berdatangan setiap kali mereka dihabisi, lalu para ogre yang memiliki kekuatan begitu besar. Dengan perbedaan kekuatan tempur yang seperti itu, hampir mustahil bagi mereka untuk bertahan dengan waktu yang lama.


“Typhoon! Iris, ayo kita bekerja sama!” Orin dengan mode tempurnya datang ke tempat Iris yang merupakan medan perang terdekat dari kampnya.


“Orin, bagaimana dengan keadaan kamp lainnya?”


“Para senior dari gen pertama telah menyebar ke berbagai tempat, kurasa itu akan cukup membantu.”


Whoooosh.... Blar....!!!


Sebuah sihir api area diluncurkan kearah mereka berdua oleh seekor ogre yang ada didekat Iris dan Orin.


“Ice Protection!” Iris yang mengetahui datangnya serangan itu langsung mengaktifkan skill pertahanan miliknya.


“Sihir ini.., Ogre?” Gumam Orin terkejut.


Mereka berduapun mengarahkan pandangannya ke Ogre tersebut, badannya yang begitu besar dengan taring dan tanduknya yang nampak sangat tajam, itu adalah seekor monster roh jahat tingkat tinggi, Ogre. Mereka identik dengan gada berduri sebagai senjatanya dan memiliki sihir api area tingkat tinggi. Tiap individualnya memiliki kekuatan yang sangat mengancam dalam peperangan meski jumlah mereka tidak terlalu banyak.


“Jika ada Ogre disini, berarti mereka telah menggerakkan pasukan satu divisi atau bahkan lebih!”


“Iris, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Orin memastikan.


“Kita akan menghadapi mereka sebagaimana mestinya. ‘Kōri no Joō!” Menegaskan bahwa dirinya mulai serius, Iris langsung memanggil roh ilahi tingkat legendaris miliknya dan mengaktifkan mode tempurnya. Seketika sebuah medan es tercipta disana.

__ADS_1


“Aku paham, datanglah... Sylphid!” sebuah roh angin tingkat legendaris dipanggil Orin pertama kali didepan banyak orang. Sebuah luapan energi yang begitu besar dikeluarkan oleh roh pelindung miliknya, membuat para pasukan yang ada disekitarnya merasa sangat tertolong dengan adanya bantuan kuat sepertinya. “Ayo kita mulai, Wind of Destruction!” Sebuah sihir area yang begitu luas diciptakan oleh Orin dan menghabisi banyak dari mereka hanya dalam sekejab.


“Ini.., tak kusangka kau memiliki kekuatan sebesar ini!” Ucap Iris dengan kagum. Diapun mulai bergerak untuk menghabisi para monster yang menghalangi jalannya.


“Aku juga akan membantumu!” Orin meningkatkan kekuatan dari mode tempur miliknya dan bertarung disisi Iris. Sebuah zirah dari elemental angin menyelimuti tubuhnya seakan memancarkan warna hijau yang begitu kelam. Beberapa bilah angin yang sangat tajam juga bergerak memutari dirinya sebagai sebuah pertahanan. Itu merupakan kemampuan terkuat yang dimilikinya saat ini, yang dia ciptakan karena merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Ola sahabatnya terdekatnya.


“Aku tidak akan membiarkan orang-orang mengalami hal serupa dengannya, Wind Blow!” Sebuah tinju angin meledak begitu dahsyat dalam pertempuran tersebut. Dengan perasaan bersalahnya itu, dia berhasil meningkatkan kekuatan skillnya sampai berada beberapa tingkat. Bahkan serangan itu melenyapkan segala sesuatu yang berada dalam jalur serangannya.


“Orin, jika kau begitu bersemangat demi orang itu, maka aku juga akan melakukannya!” Iris berlari menuju kearah Ogre yang ada didepannya dan melakukan beberapa serangan ke titik vitalnya. “Tidak cukup dalam ya? Bagaimana dengan ini, Freezing of Space and Time!” Dalam sekejab, seluruh lawan yang berada di dalam medannya langsung membeku.


“Death Incision!” Lalu sebuah serangan lanjutan berupa tusukan keras diberikan Iris pada ogre tersebut, dengan menggunakan pedangnya yang diselimuti es, tubuh monster roh jahat tersebut berhasil dihancurkan dengan satu serangan. “Ini tidak bagus, jika aku terus menggunakan kekuatan penuh hanya untuk melawan satu ogre, aku tidak tahu apa yang akan terjadi untuk kedepannya.” Setiap skill dan sihir yang digunakannya memakan energi yang begitu besar, meski roh ilahi miliknya dapat mengumpulkan energi saat Iris tengah bertarung, itu tetap membutuhkan waktu.


Disisi lain Orin tanpa memikirkan sebuah resiko, terus menghabisi para monster roh jahat itu satu persatu. Beberapa orc yang telah berevolusi menjadi orc general memang merepotkan, tapi mereka dapat dibunuhnya hanya dengan satu serangan. Namun semakin banyak yang dibunuh oleh para pasukan, sesuatu hal aneh mulai terasa disana. “Ini sama seperti sebelumnya, semakin banyak mereka terbunuh semakin kuat mereka yang tersisa. Kenapa bisa begini?” Keluh Orin dalam hati.


Saat dia sedang memikirkan hal itu ditengah pertempuran tersebut, sebuah tekanan gravitasi yang begitu kuat tiba-tiba menimpa dirinya. “Ini.., darimana asalnya?” Karena sangat kuatnya tekanan tersebut, Orin sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuhnya.


“Orin!” Saat Iris ingin menyelamatkan Orin, beberapa Goblin Rider dan dua orang Ogre menghadang dirinya. “Gawat, jika tidak ada yang menolongnya maka kami bisa kehilangan sebuah aset besar dalam pertempuran ini!” Ditengah kekhawatirannya, semua monster disekelilingnya mulai menyerangnya secara bersamaan.


“Gawat..,” saat itu dia berpikir tidak akan sempat untuk menghindari atau menahan serangan tersebut, tapi tiba-tiba ratusan panah berukuran besar menghujani monster-monster yang ada disekelilingnya. “Ini..?”


“Cepat menyingkir dari sana, Iris!” Itu adalah Anie yang telah menggunakan kekuatan dari roh senjata miliknya. Sebuah busur x menembaki para monster yang mendekati mereka dengan sangat cepat. Disisi lain Orin yang terjebak dalam sihir gravitasi juga telah berhasil diselamatkan oleh Narta yang baru saja datang dengan Anie.


“Jumlah mereka tidak ada habisnya, bahkan kita juga tidak dapat mengetahui situasi dikamp lainnya.”


Jarak dari setiap kamp cukup jauh, karena tiap kamp memiliki banyak anggota maka mereka membagi wilayah pengawasan. Namun ternyata formasi seperti itu sangat sulit untuk kondisi seperti ini. Karena lokasi mereka juga tidak sejajar, otomatis yang berada dipaling luar harus menghadapi mereka lebih dahulu.


“Aku sangat tertolong, Anie!”


“Aku tahu kau mengkhawatirkan Orin, tapi kau juga harus memperhatikan sekelilingmu!” Anie mengingatkannya.


Ditengah percakapan tersebut, mereka mencoba menyusun kembali rencananya dan melindungi satu sama lain. Namun sebuah hal yang sangat tak diinginkan terjadi begitu saja, di kamp pertama tempat August dan Ariel berada, sebuah suar merah baru saja terlihat. Itu membuat semangat juang dari para pasukan hilang dalam sekejab. Seketika raut wajah mereka menjadi sangat pucat dan mencoba untuk menghindari kenyataan tersebut. Suar itu adalah sinyal yang menunjukkan bahwa kamp telah berhasil diterobos, dengan kata lain itu adalah sinyal kekalahan dipihak tersebut.


“Kamp pertama telah berhasil diterobos, ahahaha.” Ucap salah seorang pasukan dengan putus asa. Iapun mulai tertawa seperti orang gila ditengah pertempuran tersebut. Tidak hanya dia, banyak dari pasukan yang mulai kehilangan harapan saat itu juga. Kekalahan dan kematian hanya menunggu waktunya saja, itulah yang dipikirkan mereka semua.


“Ini benar-benar buruk, jika terus berlanjut seperti ini, maka akan sangat merugikan pihak kita.” Iris mencoba memikirkan jalan keluar untuk masalah ini.


“Nona Iris, apa yang harus kita lakukan sekarang? Bukankah mundur merupakan pilihan terbaik?” Itu adalah Grey yang mendatangi Iris dengan wajah panik.


Iris tidak menghiraukan pertanyaan itu, tapi dia juga tidak ingin menjawabnya. Jika dia salah dalam mengambil keputusan, maka akan banyak sekali nyawa yang harus dikorbankan saat itu juga. Karena itu Iris tetap diam dan hanya fokus melawan para monster roh jahat tersebut.

__ADS_1


“Nona Iris tolong jawab pertanyaanku! Apakah anda masih berpikir kalau kerajaan akan mengirim bala bantuan? Itu tidak akan pernah terjadi, meski itu terjadi kita tidak akan sempat hidup pada saat itu jika situasinya sudah seperti ini!”


Apa yang dia pikirkan tidaklah salah, menunggu bala bantuan dari kerajaan sangatlah terlambat. Dengan diterobosnya kamp pertama, itu telah menjadi satu langkah menuju pada kekalahan.


“Apapun yang kau lakukan itu terserah dirimu Grey. Disini aku bukanlah seorang pimpinan, selain itu aku memang telah mempercayai kalau bala bantuan dari kerajaan pasti akan datang. Tidak peduli kapan mereka akan tiba, aku akan tetap berjuang disini!” Meski demikian, Iris tetap berjuang dan berdiri teguh pada kepercayaannya.


“Kenapa anda melakukannya demikian?” Tanya Grey dengan wajah ekspresi sedih diwajahnya.


Apa yang anda lakukan tidaklah salah nona, tapi aku hanya tidak ingin hal buruk akan menimpa anda. Ini memang hanyalah perasaan pribadiku, tapi aku benar-benar berharap anda akan selamat dari semua bencana ini.


Yang paling diinginkan Grey dari dulu hanyalah dapat berjuang disamping Iris. Sebagai orang yang begitu mengagumi dirinya, Grey bahkan berlatih sangat keras hingga mencapai titik ini. Dalam investigasi, sebagai seorang pemburu iblis dia dapat berjuang disamping Iris sebagai wakil ketua dari kelompoknya, dia sangatlah bahagia mengetahui hal tersebut, tapi hari ini datang. Sebuah hari yang dirasa akan menghancurkan segala yang dia miliki baik tekad, impian, maupun obsesinya terhadap Iris.


Karena itu dia ingin Iris mundur dalam perang ini agar nyawanya tidak berada dalam bahaya. Sebagai salah satu sumber kekuatan tempur yang amat besar, Iris tentunya akan berada digarda depan dalam pertempuran. Hal tak terduga yang akan terjadi padanyalah yang sangat dikhawatirkan oleh Grey saat itu.


“Grey, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, dan apa yang kau pikirkan tentangku. Namun kau tahu Grey, yang keinginanku hanyalah mencegah saat-saat itu terulang kembali hanya karena ketidakmampuanku. Karena itu aku akan terus berjuang untuk mencegah semua hal tersebut.” Namun jawaban Iris kali ini membuat dirinya sadar.


“Nona Iris, maafkan aku.”


Apa yang aku lakukan, yang kuinginkan hanya bisa berjuang disisinya, jika bukan saat ini maka tidak akan pernah ada waktu lagi.


“Aku juga akan berjuang disisimu, akan kutemani anda sampai akhir nyawaku nona Iris!” Grey pun mengingat kembali niat awal dirinya berlatih sampai sejauh ini. Jika dia tidak berjuang sekarang, maka tidak akan ada waktu lagi untuk berjuang disisinya. Karena jika Iris tidak selamat maka itu adalah terakhir kali Grey melihatnya, lalu jika dia berhasil selamat, maka perkembangan Iris akan meninggalkan dirinya lebih jauh lagi.


Dengan mempertaruhkan segalanya Grey pun mulai menghadapi para monster roh jahat tersebut.


Meski begitu keadaan tetap menjadi semakin buruk, para pasukan yang putus asa mulai dihabisi satu persatu oleh para monster tersebut. Memang dari awal perang ini memang telah menjadi pembantaian satu sisi, tapi dengan diterobosnya kamp pertama, membuat kondisi tersebut semakin terlihat jelas. Semakin lama mereka bertarung, membuat mereka sadar bahwa apa yang akan dilakukan mereka pasti hanya akan berakhir percuma, menunggu bala bantuan datang juga tidak akan sempat. Dengan perjuangan yang dipenuhi keputusasaan tersebut, kerugian yang diderita oleh pihak manusia juga semakin besar.


“Apa akan sampai disini saja?” Ucap Iris yang telah kehabisan tenaga untuk menghadapi para monster roh jahat tersebut.


“Entahlah?” Jawab Orin yang juga sama tidak berdayanya.


Disana hanya tampak mereka berlima saja yang masih bertahan hidup dalam pertempuran ditempat itu. Lalu dibeberapa tempat lain juga tampak suar merah telah berkali-kali dinyalakan, itu membuat mereka semakin pasrah.


“Bagaimana keadaan yang lainnya ya? Aku benar-benar ingin tahu.” Ucap Narta sambil menembakkan suar merah kelangit.


Tanpa energi, mereka hanya dapat bertarung seperti layaknya manusia biasa, tapi dengan rasa lelah dan luka yang telah diderita tersebut, mereka hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi pada mereka ditengah kepungan para monster roh jahat tersebut.


“Ghahahaha, kalian para manusia pada akhirnya hanya sebatas ini. Kalian yang telah mencegah kami untuk menemui pencipta kami pasti akan berakhir seperti ini!” salah seorang Ogre mengejek mereka berlima.


Dengan harapan yang telah hancur, mereka menunggu kematian mendatanginya ditempat itu dan saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2