
Saat pertarungan sengit didalam medannya sedang berlangsung, Raven merasakan suatu luapan energi yang begitu tidak masuk akal dari tempat Luna berada. Saat itu Raven dengan cepat langsung membereskan bagiannya, namun saat dia ingin menuju ketempat Luna sebuah ledakan yang begitu besar terjadi disana.
“Mustahil, kekuatan apa yang bisa menciptakan sebuah ledakan seperti itu?” Ucapnya tidak percaya.
Raven yang melihat ledakan tersebut langsung bergerak cepat untuk pergi ke lokasi. Namun sesampainya disana, hal yang sangat tidak diinginkannya terjadi. Diaa melihat Luna yang terkapar disana, tubuhnya bersimbah darah, denyut nadi yang hampir hilang sepenuhnya, itu mungkin adalah tanda akhir dari kehidupan murid tercintanya.
“Luna.., bagaimana bisa? Ini tidak mungkin kan? Apa ini semua salahku?” Seketika Raven merasa sangat bersalah. Dialah orang yang telah memerintahkan Luna untuk pergi ke tempat itu, tapi hasilnya membuat muridnya harus berakhir ditempat itu juga.
Diapun langsung duduk lemas disamping Luna yang terkapar dan mencoba untuk menyembuhkan dirinya. Namun sekeras apapun dia berusaha, itu sama sekali tidak berhasil. Dengan pasrah, Raven mulai menggendong Luna dan membawanya ke kediaman balai ksatria suci kerajaan. “Maafkan aku Luna, seharusnya aku tidak pernah memerintahkan dirimu untuk melindungi orang-orang di pos tersebut.” Ucapnya meminta maaf pada Luna.
Namun Luna sudah tidak lagi bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Raven. Walaupun dia berhasil selamat dari kematian, tapi jiwanya telah hancur dan membuatnya kehilangan seluruh sisi kemanusiaan bahkan seluruh kekuatannya sebagai wanita suci. Selain itu, Raven sama sekali tidak memiliki cara yang bisa dilakukan untuk membuatnya tetap hidup dalam kondisi seperti ini.
“Setelah sekian lama aku hidup didunia ini sebagai great sage, bagaimana aku masih bisa begitu bodoh. Dulu, tanpa kakak aku tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar, lantas apa aku yang sekarang masih sama seperti yang dulu?” Batin Raven yang sedang dipenuhi rasa penyesalan.
**
Disana, keempat orang itu sedang menghadapi lawan yang begitu kuat dengan mempertaruhkan segalanya. Dengan menggunakan seluruh hasil latihan selama ini, mereka terus mencoba untuk menyudutkan makhluk tersebut. “Wind of Death!” Ratusan bilah pedang yang tercipta dari atribut angin mulai menebas makhluk itu satu persatu. Itu merupakan skill dengan daya hancur yang begitu besar, namun tetap saja makhluk tersebut masih bisa bertahan dengan kokoh disana. “Cihh.., tak kusangka kulitnya akan sekeras itu.” Geram Orin karena serangannya diblokir dengan sangat mudah oleh lawannya.
Beberapa serangan dukungan juga dilakukan oleh Anie dan Dedy, namun keduanya juga berujung sama saja. Makhluk itupun berbalik menyerang mereka dengan tebasan dari cakar-cakarnya yang sangat tajam tersebut. Disana sebagai pelindung yang sangat keras, Dedy mencoba untuk menahan serangan itu untuk melindungi teman-temannya. Namun tak disangkanya, serangan tersebut bisa dengan mudah mengoyak kulitnya yang telah menjadi sekeras batu.
“Ughh..,”—Dedy batuk darah—“tak kusangka dia bisa langsung menembus pertahananku.” Batinnya yang salah perkiraan.
"Dedy..,” Teriak ketiga temannya khawatir saat melihatnya tertebas.
“Waspadalah!” mengetahui serangan susulan dikeluarkan oleh makhluk tersebut, Dedy yang sedang terluka tetap berusaha memperingatkan temannya.
Namun saat itu juga puluhan tombak yang tercipta dari tulang makhluk tersebut bermunculan kepermukaan tanah dan langsung menembus tubuh Dedy dalam sekejab. Dalam sekejab, kekuatannya mulai memudar dan dia langsung ambruk ditempat. “Dedy..,”—Anie langsung lemas saat melihat kondisi yang begitu mengerikan tepat dihadapannya—“Ini bohong kan, kau tidak mungkin mati ditempat seperti ini kan?” Ucapnya panik. Apa yang dilihat adalah tubuh Dedy yang benar-benar hancur akibat tusukan dari puluhan tombak tersebut.
Disisi lain tangan Orin mulai gemetaran saat menyaksikan hal tersebut. “Jika aku tidak memaksa mereka untuk pergi kemari, hal seperti ini tidak akan terjadi kan?” Pikirnya dengan penuh rasa bersalah terhadap temannya tersebut.
Diapun terpikir, jika tidak bisa menyelamatkan mereka sebaiknya dia mengulur waktu untuk membiarkan ketiga temannya itu melarikan diri.
“Kalian, tolong pergilah dari sini! Aku akan mengulur waktu untuk kalian. Jika ada yang bisa selamat dari pertarungan ini, maka akan lebih mudah untuk menghadapinya untuk kedua kalinya.”
__ADS_1
Anie merasakan sebuah penghinaan yang begitu besar saat mendengarkan kata-kata tersebut. “Melarikan diri, jangan bercanda! Jika kita harus melarikan diri, kenapa Dedy perlu menjadi seperti?” Diapun sontak mulai menentang keputusan Orin. Disaat itupun kekompakan yang terbentuk selama ini, berhasil terpecah hanya karena satu kesalahan. Ditengah perdebatan mereka serangan dari makhluk itu mulai dilancarkan lagi dan lagi, namun karena fokus mereka terbagi, keduanya mulai terluka akibat serangan makhluk tersebut.
“Kalian berdua berhentilah bertengkar! Jika kalian tidak ingin mati ditempat ini, maka hadapi makhluk ini dengan serius!” Narta mulai jengkel dengan tindakan bodoh dari Anie dan Orin berakhir memarahinya. Dia memang belum terlalu berpartisipasi dalam pertarungan ini, tapi sekaranglah saatnya dia mulai beraksi. Sebuah akar dari kawat bermunculan dan mulai melilit makhluk tersebut dari berbagai arah. Itu bisa dibilang cukup untuk menahan pergerakan dari makhluk tersebut, tapi untuk mengalahkannya tetaplah menjadi hal yang sulit.
Karena itu kali ini Narta benar-benar membuka pembatas dalam dirinya. Disana terlihat telapak tangannya mulai terkelupas, lalu baju belakangnya juga mengeluarkan tonjolan yang akhirnya membuatnya robek. Saat itu, ratusan tangan mulai memanjang keluar dari punggung Narta. Sebuah tangan yang tercipta dari energi kutukan, tiap sentuhannya memiliki daya hancur yang sangat besar. Bahkan kekuatannya dapat menghancurkan tulang-tulang makhluk itu dengan begitu mudahnya.
Narta mulai bergerak untuk mendekati lawannya. Namun sebaliknya, makhluk itu mulai menghindar karena merasakan tekanan yang mengancam dari Narta. Itu adalah kekuatan yang sangat ditakuti manusia di dunia utara. Sebuah kemampuan yang bisa menghancurkan segalanya hanya dalam sekali sentuh, itu adalah sebuah wujud mimpi buruk yang telah menciptakan sejarah panjang kota pembantaian.
Sebuah aura kegelapan perlahan mulai menyelimuti diri Narta sepenuhnya. Apa yang dilihat oleh kedua rekannya saat ini benar-benar berbeda dengan Narta yang sebelumnya. Sebuah aura penindasan yang begitu kuat membuat aura membunuhnya tampak begitu kental. Tanpa disadari kedua temannya pun mulai merasa takut dengan Narta yang saat ini. “Ini benar-benar Narta kan?” Ucap Anie gemetaran tidak percaya.
Disisi lain Orin yang pernah sekali merasakan aura itu sama sekali tidak dapat berkutik. “Jika ini adalah Narta yang sebenarnya, bagaimana dengan Narta yang selama ini kami kenal. Bagaimanapun aura dari dirinya benar-benar berbeda, bahkan sampai sulit untuk mengatakan kalau mereka adalah orang yang sama.” Ucap Orin dalam hati. Selain itu aura yang ditampilkan oleh Orin juga tidak kalah kuat dengan seorang great sage, atau bisa dibilang dia ada dilevel yang sama.
Ratusan tangan itu mulai mencekik, memukul, dan mengikis baik tubuh fisik maupun spiritual dari makhluk tersebut. “Aku adalah manusia, tapi kenapa aku harus memiliki bagian tubuh yang tercipta dari kegelapan? Sedangkan lihatlah dirimu!”—Narta terus menghajar makhluk itu—“Kenapa makhluk hina seperti dirimu bisa menggunakan sebuah atribut suci, bukankah dunia sungguh tidak adil padaku?” Narta terus mengolok-olok makhluk yang ada disana sembari menikmati raungan kesakitan dari makhluk tersebut.
Namun semakin lama dia memandangnya, itu membuatnya semakin kesal. “Bahkan makhluk sepertimu juga menatapku dengan mata seperti itu ya?”—Makhluk itu kembali meraung didepan Narta—“Berisik tau!” Nartapun mengulurkan tangannya dan berniat membunuh makhluk tersebut. Namun tiba-tiba sebuah lingkaran sihir muncul dari kakinya. “Ini.., tubuhku juga tidak bisa digerakkan!” Batinnya was-was. Lingkaran sihir itu juga mulai berkembang, bahkan itu juga terjadi di beberapa tempat dalam ibukota secara bersamaan.
“Narta.., menyingkirlah dari sana!” walaupun dipenuhi rasa takut terhadapnya, melihat Orin tetap tidak dapat meninggalkannya saat mendapati dia dalam sebuah bahaya. Lalu keluar sebuah suara yang begitu menggema dilangit ibukota. “Makhluk-makhluk bodoh dan kotor, berani berbuat kekacauan ditanahku. Aku akan memberi kalian hukuman!” Beberapa bilah pedang muncul dari langit dengan ukuran dan kekuatan yang sama sekali tidak masuk akal. Itu adalah sesuatu yang berada jauh diluar nalar manusia.
Para anggota balai perlindungan menyebutnya ‘Hukuman Dewa’ sebuah serangan dari dewa mereka sendiri yang dulu juga pernah muncul sekali sebelum terciptanya kerajaan Meeden ini. “Orin..!” Dalam sekejab saat pedang-pedang itu jatuh ketanah, sosok yang tertimpa serangan itu langsung menghilang tanpa jejak sama sekali. Kerusakan yang ditimbulkan juga teramat besar, sebagai orang yang tersisa disana Anie dan Orin langsung jatuh tak berdaya. “Narta..,” Apa yang dia saksikan telah begitu jelas, bahkan tidak ada lagi ruang untuk mengelak dari kenyataan tersebut.
Orin sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menjawab pertanyaan Anie. Kehilangan, perasaan itu juga pernah secara telak mengalahkan diri Orin sendiri. Dia yang kabur dari Hutan Penyihir setelah kehilangan seluruh keluarganya, berpikir bahwa dia sama sekali tidak memiliki hak untuk menjawab pertanyaan semacam itu. “Ayo kembali ketenpat para pasukan berada. Kita juga harus melaporkan apa yang terjadi ditempat ini” Orin merangkul Anie yang telah terlelap dalam kesedihan yang mendalam, dan bersama-sama pergi ke tempat para pasukan berada.
**
Itu adalah sebuah tempat yang begitu gelap, saat itu dia sedang mengulurkan tangannya pada gadis tersebut. “Apapun yang terjadi padamu setelah ini, aku tetap akan berada disisi. Karena itu menanglah!” setelah dia mengatakan hal itu, sang gadis pun tersenyum begitu tulus saat mendengarnya. Meiga pun mendapatkan kembali kesadarannya. Namun saat dia membuka matanya, kejadian yang sangat buruk telah benar-benar terjadi diseluruh wilayah ibukota.
Sebuah gumpalan cahaya mondar-mandir didepannya, itu tidak lain adalah inti dari phoenix, Meiga menamainya Vy. Saat itu Vy mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada teman-temannya dan mencoba mengatakan itu pada Meiga. “Apa.., mereka dalam bahaya? Aku harus segera kesana!” namun dengan luka yang dideritanya setelah melawan Zenin, tidak memungkinkannya untuk pergi kesana. “Arrgh.., Vy, apa sempat jika aku kesana dengan keadaan seperti ini?” Vy hanya menggoyang-goyangkan tubuhnya seolah menjawab tidak.
“Kalau begitu aku minta tolong padamu, selamatkan mereka!” Vy menyetujui hal tersebut.
Tapi tiba-tiba dibeberapa arah sebuah bilah pedang yang begitu besar muncul dari langit, itu tidak lain adalah Hukuman Dewa. “Vy, aku tidak tahu benda apa itu, karena itu kau harus cepat menyelamatkan mereka!” Meigapun menanamkan seluruh percepatan speed pada Vy dan menembakkannya kearah temannya. Vy pun meluncur dengan kecepatan tinggi untuk mencapai tempat mereka.
Saat itu, Hukuman Dewa telah hampir mengenai Narta secara telak, tapi dengan kecepatan tersebut Vy berhasil membawa Narta yang terluka parah bersamanya untuk masuk kedalam Item Box milik Meiga.
__ADS_1
Meiga yang telah mengetahui hal tersebut mulai bangkit dengan sekuat tenaga untuk memeriksa keadaan ibukota saat ini. Namun apa yang dilihatnya benar-benar buruk. Saat itu Meiga mulai mengingat tentang apa yang baru saja dimimpikan olehnya. Senyum Luna yang begitu lembut itu mulai kembali terukir dibenaknya, dengan keadaannya yang begitu buruk Meiga menuruni bukit untuk bertemu dengannya. Namun keadaan yang dilihatnya dikota sangatlah buruk. “Zenin.., apa sungguh hal seperti ini yang kau harapkan?” Ucapnya dalam hati meragukan.
Dalam perjalanan menemui Luna, banyak orang-orang yang terluka parah atau bahkan meninggal dunia disekunjung jalan. Lalu beberapa hal yang mengatakan tentang wanita suci didengar olehnya. Sepertinya Luna dalam kondisi yang begitu buruk dalam insiden tersebut, Meigapun mempercepat langkahnya untuk menuju ke balai ksatria suci kerajaan.
Tapi waktu itu, dia telah benar-benar terlambat. Karena tindakan Zenin yang berada diluar dugaan, sekarang ibukota sedang dilanda kekacauan. Tidak hanya itu, dalam kejadian itu Luna dikabarkan telah kehilangan seluruh kekuatannya sebagai wanita suci, sehingga seluruh jati dirinya juga ikut lenyap. “Kenapa bisa begini, bukankah aku sudah menjadi lebih kuat? Tapi kenapa kejadian yang serupa tetap terjadi?” Dalam perjalanan ke balai ksatria suci, Meiga mendapatkan kabar-kabar yang begitu tidak mengenakkan. Meski begitu dia tetap pergi kesana dengan keadaannya yang begitu buruk itu.
Sesampainya disana, beberapa orang penjaga menghadang dirinya. “Biarkan aku masuk, bagaimanapun aku harus menemui Luna.” Namun para penjaga itu melarang Meiga untuk masuk. Disanalah Raven akhirnya datang untuk mempersilahkan dirinya masuk. “Biarkan dia masuk, dia bukanlah orang luar.” Jelas Raven kepada para penjaga. Para penjaga langsung mematuhi perintah Raven dan memberikan jalan untuk Meiga. Raven mengantar Meiga untuk menemui Luna yang kondisinya begitu kritis saat itu.
Lalu apa yang dilihat disana hanyalah seorang gadis yang sedang terbaring lemah dengan tubuh yang penuh Luka. Meiga begitu terpukul saat itu dan tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. “Jadi begitu, aku masih begitu lemah sehingga harus kehilangan orang-orang terdekatku lagi. Hahaha, bodohnya aku, selama ini dianugerahi kekuatan yang begitu besar tapi tidak memiliki kesempatan untuk menggunakannya.” Saat itu Meiga telah larut dalam sebuah kesedihan tak berujung.
“Komandan jangan-jangan Ola sebenarnya adalah Meiga?” Iris yang melihat pemandangan itu akhirnya menyadari hal ini, dia pun terjatuh lemas disana karena tidak sanggup menghadapi kenyataan. Hubungan mereka yang begitu spesial dari dulu harus menghadapi hal seperti ini untuk kedua kalinya. Dia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Meiga saat ini.
“Kau juga sebenarnya tahu dari awal bukan? Luna juga begitu. Dia bahkan tidak ingin mencari tahu apa alasan dia menutupi identitasnya. Asalkan dia baik-baik saja itu sudah cukup bagi Luna. Aku yakin waktu itu Meiga juga merasakan hal yang sama dengannya.”
“Lalu dengan keadaan Luna yang seperti ini, apakah mungkin untuk menyembuhkan dirinya? Bahkan seluruh jiwanya telah hancur pada pertarungan tersebut.” Matanya terlihat begitu sayu karena kekhawatiran terhadap keadaan sahabatnya. Dalam hal ini Raven sama sekali tidak bisa membantu dirinya. Namun dia percaya akan satu hal, jika orang itu ada, dia pasti bisa menemukan jalan keluarnya.
Meiga begitu hancur saat itu, bahkan dia menghadap kepada Raven dan bersujud memohon kepadanya. “Apapun akan kulakukan. Walaupun harus menyerahkan seluruh hidupku, kuharap kau bisa menyelamatkannya. Aku benar-benar minta tolong padamu tuan Raven. Kau adalah seorang great sage yang telah hidup begitu lama kan? Kau juga seorang komandan yang begitu dihormati disini, karena kumohon tolong selamatkanlah Luna!” Raven begitu heran dengan pemandangan tersebut, pada pertemuan mereka yang sebelumnya, Meiga bahkan sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat sedikitpun kepada dirinya.
Jadi sepenting itukah Luna bagi dirinya?
“Dengarkan aku Meiga. Dalam hal ini aku sama sekali tidak bisa membantumu.”—Meiga putus asa mendengarnya—“Tapi aku tahu seseorang yang mungkin bisa menolongnya.”
“Tuan Raven, tolong beri tahu siapa orang itu. Aku akan melakukan apapun yang dia inginkan, asalkan dia mau menolong Luna.” Ucap Meiga dengan air mata yang sudah lagi tak terbendung. Hal itu membuat Raven merasa iba terhadapnya.
“Dia adalah salah satu manusia yang bisa mencapai ranah tertinggi. Di kerajaan ini orang itu dikenal dengan sebutan penyihir api neraka. Namun dia juga memiliki sebuah sebutan lain dimasa lalu, sang penguasa ledakan api. Orang tersebut bernama-”
“Ranah tertinggi? Sang penguasa ledakan api, Rose Isla?” sebelum Raven menyebutkan habis namanya, Meiga telah menemukan jawabannya.
“Eh, bagaimana mungkin kau bisa mengetahuinya?” Raven benar-benar terkejut saat itu. Setelah insiden di masa lalu, tidak pernah ada yang mengetahui keberadaannya. Bahkan Raven sendiri tidak pernah mengetahui dimana dia berada.
“Jadi itu benar. Kakak mungkin bisa melakukannya.” Meiga yang menyadarinya langsung membuka pelindung yang ada di tangan kirinya. Disitu terlihat sebuah segel tertanam pada dirinya. Itu adalah segel yang menahan kekuatan Meiga selama ini, yang sekaligus bisa membuatnya melakukan kontak dengan Rose. “Kakak, tolong bantulah aku.” Ucap Meiga berharap.
Sebuah api pun mulai menyebar dari segel tersebut dan menciptakan sebuah ruang dimensi khusus yang melindungi mereka dan beberapa orang yang ada disana dari gangguan luar. “Ini... Ruang khusus?” Ucap Raven yang benar-benar terkejut.
__ADS_1
“Itu benar Raven, ini adalah dimensi khusus milikku.” Sebuah suara tiba-tiba bergema di ruangan tersebut. Sebuah sosok yang begitu cantik pun tercipta dari gumpalan api tersebut. Sosok itu tidak lain adalah sang penyihir api neraka, Rose Isla.