
“Heh.., jadi seperti ini makan malam didesa ini. Sangat meriah sekali ya.” Ucapku yang baru keluar rumah.
“Tentu saja meriah, kami para penduduk desa selalu sebisa mungkin membantu pada sesama, karena itu sistem seperti ini diciptakan oleh kepala desa.” Jelas Lisa yang berdiri dihadapanku.
“Kalau begitu aku tidak akan sungkan-sungkan untuk bergabung!”
“Ahaha, santai saja nona, anggap saja seperti rumah sendiri!” sapa seorang bapak-bapak yang duduk didekatku.
Akupun mengangguk sambil tersenyum untuk menanggapi sapaan bapak itu, lalu melihat Lisa yang mulai mengambil hidangan disana akupun mengikutinya.
“Wah, ini sepertinya enak!”
“Tentu saja ini enak kak, karena para wanita disini semuanya lihai dalam memasak!”
“Heh, kalau begitu aku akan segera memakannya.” Akupun mulai melihat sekeliling untuk mencari tempat yang cocok untuk menyantap makanan yang telah kuambil. Lalu dipojok sana terlihat seorang pria yang sedang makan ditempat yang agak remang-remang karena jauh dari penerangan desa ini. Aku yang merasa agak iba akhirnya mencoba untuk menemaninya.
“Anu, bolehkah saya duduk disamping anda?”
“Hmm, silahkan!” jawab pria itu singkat.
“Ngomong-ngomong kenapa anda duduk ditempat seperti ini, bukankah itu akan tampak seperti menghindari orang-orang?”
“Kau berpikir seperti itu? Aku melakukannya hanya karena aku tidak suka keramaian.”
“Tidak suka keramaian ya? Kukira anda memiliki sebuah masalah yang begitu rumit dalam hidup anda.”
“Mungkin itu juga benar!”
“Heh.., apa maksudnya itu?”
“Kalau tidak salah kau adalah tamu kepala desa kan? Berarti sebelumnya Kau pernah bertemu Ren?”
“Iya, saya Mei dan Ren yang membawa saya ke desa ini.”
“Aku adalah ayah dari anak itu, namaku Rou.”
“Jadi anda adalah ayah yang selalu diceritakan oleh Ren, kudengar anda ini sangat kuat, apa itu benar?”
“Nona, menjadi kuat itu sama sekali tidak ada artinya jika kita tidak dapat melindungi orang yang sangat berharga dalam hidup kita. Dengan kemampuanku yang seperti inipun, tetap saja ada banyak hal yang sama sekali tidak mungkin untuk kulakukan.”
Menjadi kuat sama sekali tidak ada artinya jika tidak dapat melindungi hal-hal yang berharga dalam hidup, itu memang sebuah kebenaran. Tapi, jika kita lemah, bukankah itu malah akan membuat kita akan kehilangan segalanya? Tapi, aku bisa mengerti apa yang dirasakan oleh orang ini, karena master juga pernah merasakan hal yang sama seperti dirinya.
“Memang benar kata anda, menjadi kuat jika seperti itu tidak akan ada artinya. Tapi, jika kita adalah orang lemah maka itu akan membuatnya semakin tidak berarti. Selain itu, semua hal hanya akan menjadi tidak berarti jika kita telah menyerah, tapi sebelum itu, bukankah masih layak untuk diperjuangkan?”
Saat aku mengucapkan kata-kata tersebut, Rou yang sedang makan disampingku tampak terhenti. Entah apa yang dipikirkannya aku sama sekali tidak mengetahuinya, namun ada satu hal yang kuyakini, perkembangan akan mengarah kepada hal yang lebih baik.
Setelah menyelesaikan makan malam, orang-orang bekerja sama untuk membereskan semua itu, tentunya aku juga ikut sedikit membantu disana. Lalu setelahnya aku langsung pergi ke kamar yang telah disediakan oleh kepala desa untuk beristirahat malam itu.
**
Khoaaaammm...
“Dimana ini? Eh, bagaimana bisa aku melupakan tugasku? Sadarlah wahai diriku!”
Plak..!!
Aku menepuk pipiku agar segera terhindar dari rasa kantuk ini. Setelah itu akupun bangkit dari tempat tidur dan langsung pergi kekamar mandi untuk membasuh wajahku ini.
“Sepertinya diluar sangat ramai, apa hanya perasaanku ya? Akan coba kulihat saja kalau begitu!” Aku yang penasaranpun pergi keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi disana.
Lalu yang kulihat adalah suatu hal yang sangat tidak biasa. Para pemuda didesa ini semuanya dikumpulkan ditengah lapangan desa, dan semuanya tengah berbaris rapi dengan beberapa orang yang berdiri didepan barisan tersebut. Lalu, gerakan-gerakan yang mereka lakukan secara serempak itu juga bukan sebuah gerakan biasa yang akan begitu mudah dipelajari hanya oleh orang biasa. Yang sedang dilakukan oleh orang-orang ini adalah pelatihan bela diri khusus untuk militer, di kerajaan Meeden dulu kami menyebutnya Martial Arts.
Selain itu, apa yang dilatih mereka bisa dibilang memiliki tingkatan lebih tinggi dari Martial Arts di kerajaan Meeden. Seperti yang itu, gerakan dengan pola loncatan melingkar dan meliuk seperti ular untuk melangkah kesamping dan menangkis serangan lawan. Dengan melihatnya saja aku tahu bahwa ini adalah bela diri tingkat tinggi yang digunakan khusus dalam militer, tapi kenapa orang-orang desa ini dengan mudah melatih para pemudanya untuk menguasai teknik tersebut.
“Nona Mei, kau sudah bangun rupanya. Semalam tampaknya tidurmu bisa begitu nyenyak?” kepala desa yang juga menonton pelatihan itu menyapaku.
“Ah, terima kasih karena telah mengizinkan saya untuk tinggal, semalam tidurku terasa begitu nyaman berkat kepala desa!”
“Jangan terlalu sungkan begitu! Lalu ngomong-ngomong nona sepertinya tertarik dengan pemandangan ini?”
Tak kusangka pengamatan dari kepala desa ini begitu tajam, seperti dugaanku, sepertinya mereka bukanlah orang biasa.
“Bela diri ini, apakah itu yang disebut dengan Martial Arts?”
“Hoh, tak kusangka kau nona mengerti tentang Martial Arts, bagaimana bisa anda mengetahui tentang itu?”
“Aku hanya pernah membacanya dari buku milik ibuku, dan beberapa dari gerakan itu kurasa mirip dengan yang ada disana.”
__ADS_1
“Hanya melihat dari buku, ingatanmu berarti sangat tajam ya?”
“Tidak bisa dibilang tajam juga sih, karena nama dan wajah dari kedua orangtuaku saja aku sudah tidak dapat mengingatnya!”
“Apa maksudnya itu?”
“Hmm.., singkat cerita, keduanya telah meninggal sejak aku berumur tujuh tahun dan hingga saat ini aku hanya hidup sendirian dengan semua peninggalan mereka. Karena itu adalah kenangan buruk, akupun berusaha sekeras mungkin untuk melupakan segalanya.”
“Maafkan aku karena membuatmu menceritakan masa-masa sulit itu, tapi aku tidak menyangka kau bisa bertahan hidup sendirian diusia sekecil itu. Tapi, bagaimana dengan orang-orang lain yang ada didesamu?”
“Kami tinggal disebuah tempat kecil yang terbengkalai ditengah hutan, jadi disana sama sekali tidak ada orang lain selain keluarga kami!”
Setelah mendengarkan cerita itu, sang kepala desapun terdiam cukup lama. Walaupun itu bukan sebuah kisah nyata, tapi tidak sepenuhnya yang kuceritakan padanya adalah sebuah kebohongan. Karena itu adalah sebuah kisah dari seorang gadis yang pernah kukenal dimasa lalu, tapi karena itu adalah sebuah cerita lama, aku sama sekali tidak dapat mengingatnya.
“Ngomong-ngomong dimana para gadis diwaktu ini?” melihat kepala desa yang sedang termenung, akupun mencoba untuk membuka percakapan.
“Ah, kalau mereka ada di sana untuk melatih sihir dan mempelajari tentang pengobatan. Jika kau tertarik aku dapat mengantarmu!”
“Baiklah, kalau begitu tolong antar saya kesana!” Aku menerima tawaran itu dan kepala desa mengantarku ketempat dimana para gadis itu dilatih.
Ternyata disana juga ada beberapa orang laki-laki yang juga mengikuti pelatihan sihir. Lalu ditempat pembelajaran pengobatan seorang laki-laki yang mengikutinya adalah bocah yang baru kukenal kemarin sore, dia adalah Ren. Karena aku merasa penasaran kenapa dia tertarik untuk mempelajari pengobatan, maka aku mencoba untuk mendatanginya.
“Ren.., tak kusangka kau tertarik dengan obat-obatan. Memangnya apa yang membuatmu tertarik dengan semua ini?”
“Oh, kau datang ya kak. Aku mempelajari semua ini karena aku ingin bisa menyembuhkan penyakit ibuku!”
Mendengar perkataannya saat itu aku ingat beberapa perkataan Rou yang tampak putus asa, dan saat ini akupun mulai menyadari bahwa senyum yang selalu ada diwajah bocah ini hanyalah sebuah kepalsuan. Dari reaksi antara ayah dan anak itu, kelihatannya ibu Ren saat ini benar-benar menderita sebuah penyakit yang begitu parah hingga membuat bocah seumurannya harus merelakan masa-masa penting dimana anak seumurnya dilatih beladiri dengan keras.
“Kalau begitu belajarlah yang rajin ya Ren!” aku mengelus kepalanya sambil tersenyum untuk menyemangati dirinya.
“Itu pasti!”
.
.
Creator, apa kau bangun?
Apa mungkin bagi dirimu untuk mengobati sebuah penyakit yang begitu parah?
Kalau begitu apa kau akan dapat menyembuhkan penyakit dari ibu bocah itu?
Jika kita melakukan sebuah hal baik, bukankah itu akan membuat kita akan diterima dengan baik juga disini?
Lalu, bagaimana caranya agar terlihat tidak mencurigakan?
Itu juga benar sih, kalau begitu mari kita lakukan!
Akupun pergi ketempat kepala desa untuk menanyakan tentang kondisi dari ibu Ren.
“Kepala desa, apa anda ada waktu sebentar?”
“Ada apa nona Mei?”
“Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.”
Kami berpindah tempat untuk melanjutkan percakapan tersebut. Disana aku menanyakan beberapa hal yang berkaitan tentang keluarga Ren. Dan kepala desa pun menceritakan semua yang beliau ketahui, mulai dari penyakit yang dideritanya dan bagaimana kesedihan keluarganya saat mengetahui hal tersebut. Beliau juga menceritakan beberapa kisah Rou ‘ayah Ren’ yang begitu menonjol dikalangannya. Dari ceritanya, aku akhirnya dapat mengetahui kalau di masa ini hanya ada satu kerajaan manusia dan Rou adalah salah satu ksatria berharga milik kerajaan tersebut.
“Mengenai penyakit itu, apa saya boleh memeriksanya, jika memungkinkan aku akan dapat mengobatinya.”
“Hoi nona Mei, apa kau serius dengan hal itu?”
“Meskipun terlihat seperti ini, aku juga telah mempelajari banyak hal tentang ilmu pengobatan, karena itu aku ingin menawarkan hal ini. Bagaimana menurut anda?”
“Jika nona memang bisa melakukannya maka aku akan mendukungmu, tapi untuk bahan obat-obatan yang akan kau perlukan nantinya, kurasa itu akan sulit untuk didapatkan.”
“Untuk itu aku akan memikirkannya nanti, untuk sekarang tolong antarkan saya ketempat dimana ibunya Ren berada.”
Akupun menuju ketempat ibu Ren bersama dengan kepala desa. Yang kami datangi adalah rumah yang berada dibelakang rumah-rumah lainnya sehingga kesannya seperti dibuat untuk menghindari keramaian. Disana juga tampak Rou sedang memotongi beberapa kayu bakar didepan rumahnya. Kami yang baru datang menyapanya dan menjelaskan niat kedatangan kami kesana.
__ADS_1
“Nona, apa kau yakin akan dapat melakukannya?” Tanya Rou yang baru saja mendengar alasan kami.
Aku hanya mengangguk dan menjelaskan seadanya dan dia langsung mempersilahkan kami masuk.
“Sebelah sini, masuklah Shie istriku ada dikamar itu.”
“Permisi!” aku masuk ke kamar yang hanya tertutup kelambu itu dan yang ketemuan disana adalah seorang wanita yang terbaring lemah karena penyakitnya.
“Anu, siapa anda?” tanya Shie dengan suara yang begitu lemah.
“Saya adalah seorang dokter keliling, saya lemari untuk memeriksa anda!”
“Dokter ya, apa anda akan dapat menyembuhkan penyakitku?”
“Untuk itu saya akan mengetahuinya setelah memeriksa anda!”
Akupun memulai pemeriksaan dengan skill analisis dan bantuan Creator.
Bagaimana hasilnya?
Lalu, apa saja obat yang dibutuhkan?
Kalau begitu aku akan menanyakan dulu pada kepala desa, mungkin saja mereka mengetahui tentang keberadaan dua benda tersebut.
“Nama anda Shie ya, tenang saja kak, jika saya bisa menemukan obatnya penyakit ini akan mudah untuk disembuhkan.”
“Apa itu benar dokter?”
“Tentu saja, jadi kakak tidak perlu khawatir dan istirahatlah yang cukup!”
Aku pergi ketempat dimana kepala desa san Rou berada, disana aku menjelaskan tentang penyakit Shie dan obat-obatan yang dibutuhkan untuk menyembuhkannya.
“Tak kusangka kau akan benar-benar bisa menemukan penyakitnya!” ujar kepala desa yang takjub.
“Nona, kau sepertinya memiliki skill analisis tingkat tinggi?”
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
“Karena aku sendiri bahkan tidak dapat menganalisis penyakit tersebut. Tapi, meski penyakitnya sudah ditemukan, tapi bahan yang diperlukan untuk obatnya begitu sulit untuk dicari.”
“Jika kau membutuhkan ginseng raja, maka dikaki gunung Cindeilla konon ditumbuhi beberapa tanaman obat tersebut. Tapi untuk madu lebah neraka, kurasa akan sulit untuk mencarinya.” Kepala desa menegaskan.
“Untuk itu, kurasa kita bisa pergi ke kerajaan dan guild petualang untuk mencari tahu lebih lanjut.” Rou juga telah memantapkan tekadnya.
Krieet...
“Sepertinya kami juga akan ikut mencari benda tersebut!”
Seseorang yang baru saja datang langsung bergabung dalam percakapan kami. Mereka adalah Ren dan seorang pria muda.
“Shion dan Ren, tak kusangka kalian sudah kembali!”
“Ayah, apa kami boleh ikut dalam perjalanan kalian?” tanya Ren yang baru saja datang bersama Shion.
“Perjalanan ini berbahaya, aku tidak bisa mengijinkanmu untuk ikut!”
“Kakak ipar, seharusnya tidak ada masalah kan kalau ada kita berdua. Selain itu, akan berbahaya jika kita meninggalkan dia disini, mungkin saja dia akan diam-diam menyusul kita!” Shion mencoba untuk membujuk Rou.
“Tidak masalah jika Ren ingin ikut, biar aku yang melindunginya jika ada bahaya mengancam!” akupun mencoba untuk segera menyelesaikan negosiasi mereka.
“Tapi nona,”
“Nona, jangan berlagak kuat seperti itu dan biarkan aku yang melindungimu!” Shion mencoba untuk memegang tanganku, tapi aku segera menyembunyikannya.
“Sebaiknya kau simpan tenagamu itu untuk melindungi dirimu sendiri, selain itu mohon diingat, Martial Art tidak akan berguna jika yang dihadapi adalah para monster!” jujur aku membenci orang ini dalam pandangan pertama.
Tingkahnya kelihatan sok sekali, selain itu kelihatannya dia adalah orang yang terbiasa berhubungan dengan seorang wanita, jadi sikapnya terkesan menjengkelkan bagiku.
“Kau dingin sekali ya dik Mei!”
“...ugh!” aku benar-benar ingin memukul orang ini jika ada kesempatan.
“Jika kau menginginkan seperti itu maka baiklah!” Rou akhirnya juga menyetujuinya.
__ADS_1
“Kalau begitu kita persiapkan seluruh yang diperlukan untuk perjalanan, dan mulai berangkat besok pagi!”
Setelah menyepakati semua itu, kami keluar dari rumah Ren dan menyiapkan kebutuhan masing-masing untuk perjalanan tersebut.