
Setelah pertarungan yang begitu dahsyat itu, wasit mengumumkan pemenang dari pertandingan tersebut. Saat itu tim medis segera merawat peserta dari faksi ksatria suci yang sedang terluka. “Tak kusangka pertandingan itu akan menjadi pembantaian satu sisi.” Raven mengatakan pendapatnya dengan menampakkan senyuman sinis terhadap faksi akademi.
“Menurutku mereka telah menahan diri loh. Dengan kemampuan mereka yang begitu mengerikan, kurasa akan mudah untuk mengalahkan gen kedua.”
Itu memang benar, karena kenyataannya memang seperti itu mau bagaimana lagi. Gen kedua terlalu berpaku pada Iris, jika lawan seperti ini muncul maka hasilnya sudah tidak bisa lagi diragukan. Raven memandangi para pengikutnya yang sedang terluka tersebut. Dia memikirkan bagaimana cara memulihkan kepercayaan diri mereka setelah dikalahkan dengan begitu telak.
“Apa yang telah terjadi biarlah terjadi. Yang terpenting adalah apa langkah setelahnya. Kurasa mereka sendiri akan mengerti apa yang harus dilakukan setelahnya kok, karena itu kau jangan terlalu khawatir Raven.” Raven sangatlah menghargai bawahannya, melihat mereka harus terluka seperti itu membuatnya merasa tidak enak hati.
“Guru, kau sebaiknya lebih percaya pada mereka. Sebuah kekalahan merupakan pembelajaran yang baik bagi mereka.” Luna yang baru saja datang bergabung dalam percakapan.
“....Kau benar, aku seharusnya lebih mempercayai mereka.”
“Selain itu, dengan pertarungan Iris tadi kemampuan salah seorang dari mereka juga banyak terekspos kan? Itu mungkin saja akan memudahkan gen satu untuk mengalahkan mereka saat keduanya bertemu.”
“Nona Luna benar komandan,”—anggota dari balai ksatria suci gen satu telah berkumpul—“beberapa dari mereka telah dikonfirmasi akan kekuatannya. Namun kami juga belum menunjukkan seluruh kemampuan kami di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Karena itu mereka juga tidak akan mudah untuk melawan kami.” Mereka telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi lawan-lawan seperti itu.
Namun itu tidak pernah terjadi, 2 hari setelah pertandingan itu pemerintah mengumumkan untuk memajukan jadwalnya karena situasi barat yang begitu buruk saat ini. Hanya dengan pasukan dari balai ksatria suci kerajaan takutnya tidak akan sanggup menahan invasi itu.
**
Sebuah tempat yang dipenuhi oleh kegelapan, tanpa ada satupun tanda-tanda kehidupan yang ada disana. Saat itu gadis itu berada ditempat tersebut, dan menghadap ke sebuah sosok yang ada disana.
“Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Sebenarnya kau ini siapa?” Gadis itu bertanya pada orang didepannya. “Memangnya apa yang telah aku katakan?” Sosok itu kembali bertanya kepada sang gadis.
“Apa maksudmu dengan tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk kedua kalinya? kejadian mana yang kau maksudkan?” Gadis itu berteriak bertanya kepada orang itu.
“Jangan-jangan kau telah melupakan diriku dan kejadian itu? Jika kau memang telah melupakannya, maka berusahalah untuk kembali mengingatnya!”
"Mengingatnya.., bagaimana caranya?"
"Kau akan segera mengetahuinya!"
Kata-kata itu membuat Iris begitu kaget dan terbangun dari tidurnya. “Cuma mimpi? Sebuah mimpi yang aneh.” Iris berbicara sendiri diatas tempat tidurnya.
“Wah, akhirnya kau sadar juga.” Saat itu Luna datang untuk menjenguknya.
“Luna...,memangnya berapa lama aku tidak sadarkan diri?”
“Hmm, sudah seminggu loh kau tidak sadarkan diri. Bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Sekujur tubuhku masih terasa lemas, dan beberapa bagian masih terasa sakit.”
“Istirahatlah dulu, biarkan aku merawatmu!” Luna mengambil seember air dan mulai membasuh tubuh Iris disana, dia juga tidak lupa untuk mengganti perban ditubuhnya. “Tubuhmu benar-benar bagus ya Iris, kulitmu juga terlihat sangat halus loh. Pantas banyak sekali pria diluar sana yang sangat mengidolakan dirimu.” Ucap Luna dengan nada menggoda.
“Apa yang kau bicarakan.., Kau juga memiliki semua itu kan? Oh.., aku lupa kalau kau terlalu kuat sehingga tidak ada pria yang menginginkanmu,”—Luna mengerahkan ikatan perban Iris dengan cukup kasar—“Aw...! Luna bukankah kau terlalu kasar?” Keluh Iris.
“Benarkah?” Tanya Luna sambil melirik Iris dengan mata yang menakutkan.
“Ah... dia marah!” batinnya. “Oh iya Luna, bagaimana dengan keadaan yang lainnya?” Iris baru mengingatnya. “Tenang saja, mereka baik-baik saja kok. Lagipula tidak ada yang terluka serius diantara mereka. Kecuali satu.” Katanya sambil melirik Iris.
“Sudah kuduga dia marah,”—Ucapnya dengan suara kecil—“Luna, apa aku sama sekali tidak boleh keluar?”
“Sebelum lukamu sembuh total kau dilarang pergi kemana-mana, mengerti?” tegurnya pada Iris.
Iris hanya mengangguk dengan wajah cemberut, membuatnya nampak begitu manja. “Baguslah kalau begitu. Karena sebentar lagi juga akan ada perayaan untuk peresmian dari 10 besar faksi yang akan mengikuti investigasi. Ngomong-ngomong kau belum tahu ya kalau agendanya dimajukan?”
“Dimajukan...kenapa? Lalu bagaimana dengan tim yang belum masuk 10 besar, apa turnamen akan berakhir begitu saja?”
“Dari penjelasan perdana menteri, turnamen akan terus dilakukan sampai tahap tertentu. Lalu tim-tim di turnamen tingkat ketiga hanya menunggu waktu untuk bergabung dengan tim investigasi. Daripada itu, kau sebaiknya fokus untuk menyembuhkan diri loh..., karena sebentar lagi akan diadakan perayaan, kau tahu apa artinya kan?”
Wajah Iris yang awalnya cemberut berubah menjadi begitu ceria. Dia sudah menduga kalau Luna tidaklah pernah bisa marah kepadanya.
**
__ADS_1
Itu adalah sebuah gang yang sepi dan begitu gelap di ibukota kerajaan Meeden. Saat itu disana seorang gadis sedang bertatap muka dengan seorang paman-paman ditempat tersebut.
“Tuan putri, semua persiapan telah selesai. Dari 13.000 pasukan khusus, 5.000 orang yang siap tempur telah menyusup kedalam ibukota, sisanya akan bergabung setelah mendapatkan aba-aba.”
Paman-paman itu adalah Ham, salah satu dari tiga petinggi pasukan tuan putri itu.
“Baguslah kalau begitu, sejauh mungkin kita harus bisa menciptakan momen itu di tempat ini. Waktunya adalah saat festival, setelah peresmian 10 besar!”
“Dimengerti tuan putri!”
“Lalu bagaimana dengan alat yang diberikan oleh orang itu?”
“Kami telah menyiapkan sebuah formasi sihir diberapa titik, jadi tinggal menunggu waktu saja.”
“Baguslah kalau begitu. Untuk sekarang terus awasi keadaan ibukota, jika perlu melakukan perubahan rencana... jika itu membuat peluang semakin besar maka lakukanlah.”
“Dimengerti!”
Dalam sekejab setelah mengonfirmasikan sebuah hal, mereka menghilang dalam sekejap dari tempat tersebut.
**
Sebuah pertandingan yang begitu sengit terjadi di arena Coloseum. Disana Meiga sedang melihat pertandingan dari bangku para penonton. Setelah pertarungan melawan Iris, timnya juga sempat bertanding dengan tim-tim hebat lainnya. Namun jadwal pengiriman bala bantuan untuk barat dimajukan, itu membuat perasaanya begitu kecewa karena tidak bisa menghadapi para peserta dari gen pertama setiap faksi.
“Orin.., pada akhirnya kita tidak pernah bisa berhadapan dengan tim-tim dari gen pertama ya? Itu membuatku cukup kecewa mengikuti turnamen ini.” Keluh Meiga.
“Heh... bukankah tujuan kita mengikuti turnamen untuk mendapatkan hak bergabung dengan tim investigasi dan memberantas para monster roh jahat yang mulai menginvasi itu? Apa mungkin kau juga mulai menikmati peran sebagai maniak tempur sepertiku?”
“Huh, jangan samakan aku denganmu! Aku hanya bosan saja setelah seluruh jadwal pertandingan kita selesai.” Jelas Meiga dengan malas.
“Hmm, kalau begitu bagaimana kalau kita ke pusat kota? Sebentar lagi akan ada festival kan..., pastinya ada banyak pedagang dari luar ibukota kerajaan yang datang kemari.”
“Woah, tentunya ada banyak barang menarik yang mereka bawa!” Meiga yang kembali bersemangat langsung mengajak Orin pergi ke pusat kota. “Tumben kau memiliki pemikiran yang bagus seperti ini Orin?”
“Hah...apa kau sedang meledekku?”
“Oi, dengarkanlah saat temanmu ini berbicara! Dasar orang ini, kenapa dia bisa begitu egois?” keluh Orin yang ditinggal Meiga.
“Paman, kristal sihir ini apakah terdapat efek spesial yang terkandung didalamnya?” tanya Meiga kepada seorang pedagang keliling yang ada disana.
“Oh, kristal itu memiliki efek penguat untuk senjata. Aku baru saja mendapatkannya dari seorang gadis kemarin. Harganya Cuma 3 koin emas.” Jawab si paman pedagang.
“3 koin emas... baiklah, akan kuambil.” Ucap Meiga sembari memberikan 3 koin emas pada paman pedagang tersebut.
“Oi.. Ola! Jangan tiba-tiba menghilang seperti ini ah’ kau ini selalu bikin orang kesal saja.” Orin yang baru saja menemukannya setelah ditinggalkan di keramaian mulai mengeluh kepada Meiga.
“Ahaha... maafkan aku soal itu. Aku sedang melihat sebuah barang yang begitu bagus disini, jadi tidak bisa menahan diri untuk pergi kemari.”
“Memangnya benda bagus apa yang kau dapatkan?” Tanya Orin yang geram. Itu adalah kristal sihir berwarna merah delima. “Tuan Orin.., kristal itu memiliki kekuatan spiritual yang sangat besar. Pasti ada sesuatu yang tersegel didalamnya, dan itupun makhluk yang sangat kuat.” Itu adalah suara dari roh ilahi milik Orin, Rí Gaoithe yang sedang berbicara dengannya lewat telepati.
“Apakah itu berarti kristal sihir itu berbahaya?”
“Untuk itu saya sendiri tidak bisa mengetahuinya tuan. Tapi selama tidak ada efek buruk pada penggunanya, mungkin akan baik-baik saja.”
“Mungkin? Bagaimana cara kita bisa memastikan kalau itu akan baik-baik saja?”
“Kita hanya perlu mengamatinya. Kelihatannya apa yang ada didalamnya masih belum terbangun.” Jelas Rí Gaoithe.
“Belum terbangun, apa maksudnya itu?”
“Ada apa denganmu Orin? Dari tadi bengong saja. Ayo kita kembali ketempat yang lainnya!” Meiga yang melihat Orin melamun mengajaknya kembali ke tempat teman-temannya.
“Ayo kalau begitu.” Jawabannya singkat. Diapun melanjutkan percakapannya dengan sang roh.
__ADS_1
“Tampaknya kesadarannya belum kembali, mungkin suatu peristiwa besar pernah menimpa dirinya sehingga membuatnya kehilangan kesadaran.”
“Lalu apa kau tahu kapan kira-kira makhluk ini akan terbangun?” Orin mulai khawatir, jika sesuatu yang buruk menimpa sahabatnya, itu akan membuatnya merasa begitu bersalah.
“Kelihatannya masih dalam kurun waktu yang cukup lama. Dia tidak akan sadar dalam waktu dekat.” Sang roh menegaskan. Itu membuat Orin sedikit lega.
**
Mereka berdua sampai ditempat teman-temannya sedang berkumpul. “Apa kalian sudah lama disini?” Tanya Orin menyapa mereka.
Teman-temannya mengatakan baru sekitar 2 jam mereka berkumpul disana. Namun Meiga merasa ada yang kurang. Sudah dua jam mereka disana, seharusnya semua orang telah berkumpul, namun sosok Zenin tidak terlihat disana.
“Kulihat Zenin tidak ada disini, apa kalian tahu dimana dia sekarang?” Meiga mulai menanyakan kepada mereka, guna mengeluarkan pikiran yang mengganjalnya. Namun tidak satupun dari mereka yang melihatnya di hari itu. Itu adalah hal yang aneh, tidak biasanya Zenin pergi tanpa pamit kepada teman-temannya.
“Tidak biasanya Zenin menghilang seperti ini. Aku akan mencarinya sebentar, takutnya kalau saat ini dia sedang terjebak suatu masalah.” Meiga merasa ada yang tidak beres dengan hal ini dan memutuskan untuk pergi mencarinya.
“Kalau begitu kami juga akan mencarinya, akan lebih mudah kan kalau lebih banyak orang?” Ucap Narta yang bersedia membantunya. Semua orang disana akhirnya berpencar ke seluruh tempat untuk mencari Zenin.
Karena kepribadian Zenin yang agak tertutup, mungkin itu membuatnya sulit untuk mengatasi sebuah masalah, pikir semua temannya. Apalagi kali ini ibukota dipenuhi orang-orang dari luar juga, tentunya cara mereka berinteraksi akan sedikit berbeda dengan penduduk asli ibukota.
**
Setelah berjam-jam mereka mencari, Zenin tidak kunjung ditemukan. Merekapun beristirahat dan memutuskan untuk melanjutkannya besok karena hari telah petang. Namun keesokan hari dan lusanya, hasilnya tetap sama. Sampai malam tiba mereka tidak pernah menemukannya. Pada hari selanjutnya mereka memutuskan untuk meminta bantuan kepada kepala akademi untuk melakukan sebuah pencarian. Namun karena hari itu akan diadakan festival, sebuah permintaan pencarian hanya bisa diterima setelahnya.
Meiga sebenarnya tidak terima akan hal tersebut, namun dia juga tidak bisa menetang peraturan dikerajaan ini. Jadi dengan terpaksa dia menerima hal tersebut. Tapi disisi lain dia juga tetap berusaha mencarinya diseluruh sudut kota. Sampai malam festival dihari itu tiba.
Tak, tak, tak, tak
Saat itu suara langkah kaki seseorang terdengar mendekati Meiga dari belakang. Dia yang menyadarinya sontak langsung menoleh kearah suara tersebut. Tak dia sangka sosok yang ada didepannya adalah temannya yang telah menghilang beberapa hari ini.
“Zenin...Darimana saja dirimu? Semuanya sedang cemas mencarimu loh. Bagaimana kau bisa menghilang begitu saja tanpa memberitahu kami?” Ucap Meiga sambil menghampirinya. Suaranya terdengar kelelahan, namun juga ada rasa lega yang terkandung didalamnya.
“Eh.., aku hanya menyelesaikan beberapa urusanku loh Ola. Hari itu aku ingin berpamitan dengan kalian, tapi tidak ada seorangpun diruangan. Jadi aku terpaksa pergi tanpa memberitahu kalian.” Zenin menjelaskan.
“Ahh, begitu ya rupanya. Tapi kau tidak apa-apa kan?” tanya Meiga dengan nada khawatir.
“Kau terlalu berlebihan Ola, aku baik-baik saja kok. Tapi aku juga senang karena kau mengkhawatirkan diriku.”
Perasaan aneh dirasakan Meiga saat itu, mendengar kata-kata dari Zenin dan senyum lembutnya itu membuat wajahnya merasa hangat dengan sendirinya. Tanpa dia sadari wajah Meiga memerah karena tersipu malu.
“Heh, wajahmu memerah loh Ola. Apa kau baik-baik saja?” Zenin ganti bertanya kepadanya.
“Hah, apa yang kau katakan wajahku memerah? Aku tidak apa-apa, jadi jangan terlalu dipikirkan!” jawabnya sambil salah tingkah. Zenin tertawa kecil melihat tingkah Meiga yang tidak seperti biasanya tersebut. Itu membuatnya terkesan begitu imut dimatanya.
“Hei Ola, apa sebelumnya kau pernah melihat sebuah festival perayaan seperti ini?”
“Hmm, kurasa aku belum pernah menyaksikannya.”
“Heh..., Kau serius? Kalau begitu aku akan mengajakmu untuk melihat sesuatu yang begitu menarik dalam festival.”
“Memangnya apa sesuatu yang begitu menarik disebuah festival?”
“Kembang api! Dan aku tahu yang benar-benar bagus untuk melihatnya.”
“Kembang api? Tunjukkan padaku tempatnya, aku juga ingin melihatnya.” Meiga belum pernah melihatnya sebelumnya, diapun merasa bahwa itu adalah sesuatu yang begitu menarik.
“Kalau begitu ayo! Mumpung festivalnya belum dimulai.” Zenin menggandeng tangan Meiga dan mengajaknya berlari kesebuah bukit di dekat sana. “Disini tempatnya!” Mereka telah sampai. Itu adalah sebuah bukit yang letaknya tidak jauh dari pusat kota. Disana mereka bisa melihat seluruh pemandangan yang ada didalam Ibukota kerajaan.
“Indah sekali.., tak kusangka ada tempat yang seindah ini di ibukota.” Gumamnya penuh rasa takjub. “Wah.., sudah mau dimulai, Ola!”
Saat itu sebuah cahaya terlihat meluncur ke langit dan pecah menjadi berkeping-keping. Itu adalah sebuah momen indah yang pernah dilihatnya. Namun disisi lain, rasanya juga cukup menyedihkan. Saat mereka memudar, sebuah rasa kesepian mulai merayap dalam hati kecilnya.
“Kau pasti merasa bahwa kembang api cukup menyedihkan bukan. Tapi Ola... apa kau tahu? Walaupun kembang api itu telah menghilang, ingatan tentangnya akan selalu ada.”
__ADS_1
“Zenin?”
Malam itu, saat memandangi dirinya, ditempat yang sama, dan dibawah sinar percikan cahaya kembang api, sebuah kebenaran akhirnya terungkap.