Creator

Creator
Bantuan Datang! 'Misteri God Punishment'


__ADS_3

Setelah pertarungan yang begitu panjang, kelima orang itu akhirnya kehabisan seluruh energinya. Dengan rasa lelah dan semua luka disekujur tubuhnya, mereka hanya bisa pasrah ditengah kepungan dari ribuan monster roh jahat tersebut.


“Gyahahaha.... dengan ini aku akan mengakhiri hidup kalian!” Ogre itu mulai mengangkat senjatanya dihadapan mereka berlima yang telah kehabisan tenaga.


Apa ini adalah akhirnya?


Ah, ternyata hidupku tidak terlalu panjang.


Dengan ini semua akan berakhir?


Setidaknya, aku ingin nona Iris selamat.


Tak kusangka aku harus mati ditempat seperti ini.


Dengan menampakkan senyum jahatnya, Ogre itu mulai mengayunkan senjatanya dengan kuat.


“Matilah..!!!”


“Tidak akan kubiarkan! Shield Prison..!”


Dalam keputusasaan mereka, sebuah perisai suci muncul dihadapannya dan memblokir serangan dari Ogre tersebut.


Trang....


“Ini...” Iris begitu terkejut.


“God Punishment!”


Blarr....


Lalu sebuah pedang yang begitu besar muncul dari langit dan menimpa para monster yang ada disana. Daya hancur serangan tersebut sangat besar, namun hanya berefek pada para monster saja. Iris dan keempatnya yang berada dalam perlindungan Shield Prison sama sekali tidak mendapatkan pengaruh dari serangan tersebut.


“Ah, lagi-lagi serangan ini.” Narta mengeluh karena serangan itu pernah hampir merenggut nyawanya.


Itu adalah serangan yang dilakukan oleh para bala bantuan yang baru saja datang dengan sihir teleportasi.


SERANG....!!!


Seratus ribu pasukan yang baru tiba itu langsung bergerak untuk menghabisi para monster roh jahat tersebut. Mereka menyebar ke seluruh tempat dimana kamp didirikan, membantu para pasukan yang terluka parah dan memerangi para monster itu. Dengan serangan-serangan sihir maupun skill gabungan yang serempak, mereka berhasil menciptakan pukulan besar bagi pasukan para monster roh jahat tersebut. Dengan ini para manusia berhasil mengusir para monster untuk sementara.


“Iris... kau baik-baik saja?” Luna berteriak saat menghampiri Iris yang tengah kelelahan akibat pertempuran tersebut.


“Luna...” Disana Iris langsung memeluk Luna yang menghampiri dirinya. “Aku baik-baik saja, terima kasih karena kau telah datang.”


“Maaf karena kami terlambat, karena itu kalian menderita sampai sejauh ini.” Luna mengatakan itu sambil menangis dipelukan Iris.


“Syukurlah kau baik-baik saja!” Salah seorang pemimpin dari pasukan bala bantuan membuka percakapan dengan Iris. Orang itu tidak lain adalah Kouta, yang sebelumnya telah berjanji untuk melindungi Luna dalam perang ini.


“Tak kusangka kau akan benar-benar datang ketempat ini.” Ucap Iris tidak senang dengan kedatangan Kouta.


“Kau sedang terluka kan? Tidak perlu bersikap sedingin itu padaku, aku hanya dimintai tolong untuk menjaga Luna dipeperangan ini.”


“Oleh siapa?”


“Komandan kalian, jadi kau tidak perlu khawatir tentang keamanannya.”


Keduanya saling menatap dengan tatapan yang begitu dingin. Luna yang merasa tidak enak dengan suasana itu memberanikan dirinya untuk bertanya.


“Anu... Iris, jangan-jangan hubungan kalian tidak begitu bagus?”


Kouta hanya menyengir saat mendengar pertanyaan Luna yang datang diwaktu yang tidak pas. “Lu-luna, lupakan saja apa yang telah kau lihat barusan! Lalu tentang hubungan kami, seperti yang kau pikirkan, kami berdua tidak begitu akrab.”


“Ckk...huh,"–Iris mendecakkan lidahnya lalu menghela nafas—"Luna bawa aku pergi ketempat tim medis berada!” Iris secara tidak langsung mengajak Luna untuk menjauh dari Kouta.

__ADS_1


“Baiklah.” Tanpa pikir panjang Luna langsung mengantarkan Iris ke tempat tim medis.


Disana Kouta tidak berusaha untuk mengikuti mereka, karena sebagai salah seorang pimpinan dia harus mengondisikan para pasukannya.


Tek, tek, tek....


Sebuah langkah kaki terdengar sedang mendekat kearah Kouta berada.


“Kouta, bagaimana menurutmu tentang kemunduran para monster roh jahat itu yang begitu mudah?” Lalu orang itu, ‘Kohei’ bertanya kepadanya.


“Jadi wakil komandan Kohei juga berpikir kalau ada kejanggalan dalam hal tersebut?” Kouta balik bertanya.


“Entahlah... memangnya siapa yang mengetahui hal tersebut.” Kohei sengaja mengeluarkan sebuah jawaban yang tidak memuaskan agar Kouta mencari tahu hal tersebut lebih dalam lagi. Hanya dengan menciptakan rasa penasaran pada benak Kouta, dia langsung pergi meninggalkannya untuk mengawasi kondisi sekitar.


“Tuan muda, apa yang dikatakannya?” salah seorang jenderal balai pertahanan menghampiri Kouta dan menanyakan apa yang dibicarakan Kouta dengan Kohei dalam waktu sesingkat itu.


“Oh, Robin ya... tidak ada hal khusus, dia hanya menanyakan pendapatku tentang kemunduran pasukan para monster roh jahat yang begitu cepat.”


“Sudah kuduga dia akan menanyakan hal itu.” Robin juga telah menebak hal tersebut.


Namun Kouta tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Robin saat itu. “Apa maksudmu?” diapun mencoba menanyakan hal tersebut.


“Wakil komandan balai penyerang adalah orang yang sangat tajam. Bahkan dia dapat memprediksi perubahan situasi dengan sangat akurat, seakan dapat melihat masa depan. Jika dia memberi pertanyaan pada seseorang, itu berarti dia mengharapkan bahwa orang tersebut dapat menemukan jawaban atas pertanyaannya.”


Wakil komandan Kohei, dari yang kudengar dia adalah orang terkuat dalam militer bagian balai penyerang. Tapi tak kusangka dia akan memiliki kemampuan seperti itu. Ah, itu semakin membuatku penasaran dengan kekuatan tempur miliknya!


“Begitu ya.., kalau begitu aku akan mencoba untuk menemukan jawaban atas pertanyaan itu.”


Pertanyaan yang diajukan Kohei membuat Kouta menjadi semakin tertarik terhadapnya. Diapun berusaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.


“Robin, kalau menurutmu bagaimana? Apa kejanggalan paling menonjol dari tindakan para monster tersebut?”


“Jika dilihat dari pergerakan mereka, mundur untuk sementara mungkin masih terlihat wajar. Tapi yang aneh adalah ketakutan mereka terhadap sihir gabungan dari balai perlindungan.”


“Iya, sepertinya ada ketakutan tidak wajar yang kurasakan dari mereka saat God Punishment diaktifkan.”


“God Punishment, apa kau tahu asal dari sihir tersebut?”


“Aku kurang tahu soal itu, tapi dari yang pernah kudengar sihir itu meminjam langsung kekuatan dari Edle Seele.”


“Edle Seele katamu.., apa itu mungkin?”


“Entahlah, aku juga tidak begitu mengetahuinya.”


**


Malam itu, Orin menghampiri Kouta yang tengah termenung di tepi lapangan pelatihan.


“Yo.., Apa yang sedang kau pikirkan tengah malam begini Kouta?”


“Kau, orang yang melawan kami dengan Ola waktu itu. Kalau tidak salah Orin ya?”


“Yes, tepat sekali. Lalu, apa yang kau pikirkan ditengah malam begini?” Orin duduk disamping Kouta sambil membawa secangkir kopi panas.


“Orin, apa kau tidak merasa aneh dengan kemunduran dari pasukan para monster roh jahat itu?”


“Fuuu...”—Orin meniup kopinya yang masih panas—“Aku tidak terlalu memperhatikan mereka waktu itu. Selain itu, kami hanya bisa pasrah setelah pertarungan panjang melawan mereka.”


“Begitu ya?”


“Tapi ada sebuah kata-kata aneh yang pernah diucapkan oleh mereka.”


“Kata-kata aneh, apa itu?” Kali ini Kouta merasa benar-benar akan mendapatkan petunjuk atas pertanyaan dari Kohei.

__ADS_1


“Mereka bilang, kita para manusia telah menghalangi jalan mereka untuk bertemu dengan para pencipta mereka. Aku sempat memirkan hal itu, tapi aku tetap saja tidak menemukan jawabannya.”


“Pencipta?”—Kouta mulai berhasil menghubungkan beberapa teka teki yang ada dalam pikirannya–“God Punishment, jangan-jangan...?”


Tek, tek, tek....


Adanya suara langkah kaki yang terdengar, sontak membuat mereka berdua langsung menoleh kearah sumber suara tersebut.


“Narta...kau mengagetkan kami saja!” Orin mengeluhkan kedatangan Narta yang terasa mencurigakan.


“Apa boleh buat kan? Tubuhku juga penuh luka karena pertarungan sebelumnya! Selain itu...Kouta, apa kau sedang mencurigai Edle Seele yang merupakan Dewa yang dipercaya oleh kerajaan Meeden?” Pertanyaan Narta langsung masuk ke inti pembicaraan.


“Kau, bagaimana bisa mengetahuinya?”


“Aku memiliki skill pasif yang memungkinkan diriku untuk melihat masa depan, jadi aku juga berkesempatan untuk mengubahnya.”


“Masa depan katamu?”


“Dari yang kulihat, pada beberapa saat kedepan kau akan berniat untuk mengatakan jawaban itu kepada wakil komandan balai penyerang, tapi disana malah akan terjadi keributan karena perkataanmu.”


“Keributan, kenapa?” Kouta khawatir dia akan melakukan langkah yang salah setelah ini.


“Karena kau akan mengatakan suatu hal yang tidak boleh kau katakan didepan anggota balai perlindungan.”


"Balai Perlindungan, jadi begitu. Mereka akan marah ketika aku mengatakan sesuatu yang buruk tentang Edle Seele.”


“Seperti yang kuharapkan dari seorang pahlawan terpilih, pemikiranmu lumayan tajam dalam hal seperti ini. Tapi itu mungkin bukan satu-satunya alasan.”


“Apa maksudmu?”


“Orin, kau cukup mengetahui tentang para penyihir bukan?” Sumber jawaban dialihkan Narta kepada Orin.


“Itu benar, tapi kurasa kita tidak dapat membicarakan hal seperti itu ditempat terbuka seperti ini.”


Mereka pun mengubah tempat sekitarnya menjadi ruang kedap suara.


**


..."Ruang Rapat Petinggi"


...


“Hampir 20.000 pasukan pemburu iblis yang terbunuh dalam pergerakan terakhir dari para monster, itu bukanlah jumlah yang sedikit.” Salah seorang petinggi mengungkapkan pendapatnya.


“Selain itu, hal tersebut terjadi dengan adanya para elit ditengah-tengah para pasukan. Bukankah itu menunjukkan kalau kekuatan tempur dari para monster telah berada diluar nalar?”


“Para petinggi yang terhormat, jika kekuatan para monster itu memang berada diluar nalar manusia, kenapa mereka dapat dipukul mundur dengan begitu mudahnya? Bukankah itu hal yang aneh?” Kohei menanyakan hal itu ditengah pertemuan para petinggi tersebut.


“Apa yang kau coba ingin katakan pada kami Kohei?” Seorang perwakilan balai perlindungan bertanya dengan nada kasar.


Eh, langsung menyebut nama ya. Selain itu, tak kusangka seorang perwakilan dari balai perlindungan akan menanggapi pertanyaan yang tidak jelas seperti itu.


“Tidak ada maksud khusus tetua, hanya saja aku merasa gerak-gerik mereka begitu aneh saat kedatangan pasukan kita, terutama saat God Punishment diaktifkan!” Kohei mengatakan itu dengan tegas dihadapan semua petinggi.


“Jangan-jangan, kau berpikir kalau kami memiliki hubungan dengan para monster tersebut? Lancang sekali!” Orang itu marah saat mendengar kata-kata dari Kohei.


Hoi, oi, tidak ada yang pernah mengatakan hal itu loh, jangan-jangan kalian memang benar-benar telah melakukan hal tersebut?


“Aku tidak bermaksud seperti itu tetua, tapi kenapa anda sampai berpikiran kesana?” Tatapan tajam Kohei saat itu mulai mengintimidasi para petinggi dari balai perlindungan.


“Kalian, hentikan itu! Jika ada sebuah perdebatan keras dalam rapat ini, itu akan menjadi faktor pemecah bagi pasukan perang ini.” Yang berbicara saat itu adalah pemimpin langsung dari balai perlindungan yang merupakan individu terkuat pada pihak manusia.


Dengan peringatan dari orang itu, topik pembahasan dari pertemuan tersebut kembali kejalannya yang semula.

__ADS_1


Tapi kecurigaan Kohei terhadap balai perlindungan juga semakin besar.


__ADS_2