
Ibukota kerajaan untuk saat ini sedang ramai akan berita besar yang tidak lama ini diumumkan. Kebangkitan pahlawan dan lahirnya wanita suci, dampak dari itu juga memengaruhi semangat para peserta turnamen. Mereka yang belum masuk ke faksi juga semakin bersemangat dalam pertarungan individualnya masing-masing.
Soalnya saat mereka sampai pada tahap tertentu, mereka akan bisa mendaftarkan diri ke sebuah faksi. Tentunya ada juga faksi yang melakukan sebuah perekrutan secara langsung. Dari beberapa faksi yang terkenal adalah lima militer bagian, enam guild elit, dan empat sekte besar.
Memang sebelumnya ada faksi seperti akademi Meeden, tapi karena kebanyakan murid kuat mereka dari kelas khusus atau yang sejak awal memang telah menjadi anggota militer bagian, mereka pun terjatuh. Bahkan kelihatannya tidak ada anggota dalam faksi akademi.
Jikalau ada orang yang mau bertarung untuk faksi itu, mereka juga harus menaklukkan seluruh peserta tahap awal atau petarung individual tersebut. Tentunya itu akan memakan waktu yang cukup lama. Namun hari itu, ada seorang pemuda tak dikenal yang tiba-tiba ingin bertarung untuk akademi.
Beberapa saat sebelumnya.
Tiga orang pemuda terlihat sedang berkumpul ditengah hutan, mereka kelihatan sangat akrab satu sama lain. Ya, tiga pemuda itu adalah trio abnormal yang telah lama menghilang di hutan roh agung. “Akhirnya kalian datang. Sudah berhari-hari aku menunggu kalian.”
Zenin tertawa kecil mendengar keluhan Orin.
“Hei, jangan-jangan kau sedang mengkhawatirkan kami?” ejek Meiga dengan santainya. “Hah, kenapa aku harus me-mengkhawatirkan kalian.” Ekspresinya yang malu-malu kucing terlihat jelas saat mencoba mengelak. “Hee, tak kusangka Orin akan begitu perhatian setelah satu tahun tak bertemu.”
“Hah, Zenin kau juga jangan mengejekku seperti itu.” Keluh Orin yang masih malu-malu kucing.
“Hahaha, sudah-sudah. Mumpung semua sudah berkumpul, ayo kita kembali ke ibukota."
“Mengenai hal itu Ola.” Zenin tampak ingin mengajukan pertanyaan. “Ada apa Zenin?” Ola dengan sigap menanggapi pertanyaannya.
“Setelah kita kembali ke Ibukota, ada sesuatu yang ingin aku lakukan. Apa aku bisa meninggalkan kalian sebentar?” Tanyanya dengan agak berat hati. “Tentu saja boleh, tapi kau harus kembali pada kami lo.”
“Itu benar Zenin, dengan penampilanmu yang sekarang, kau harus berhati-hati lo!” Orin mencoba menggoda Zenin. Itu membuat zenin penasaran, diapun mulai bertanya.
“Penampilanku?—dia memainkan jarinya dengan wajah yang memerah—memangnya ada apa Orin dengan penampilanku?”
__ADS_1
“Hmm, penampilanmu yang sekarang bisa membuat para pria salah menilai lo nan—kepalanya dipukul Meiga dengan keras—aduh! Apa yang kau lakukan Ola?” dia mengeluh pada Meiga karena berusaha memotong pembicaraannya.
“Huh, kau tidak perlu menanggapi si bodoh ini Zenin. Kau tahu kan dia hanya maniak percintaan?” Ucapan Meiga membuat mereka berdua tertawa lepas. “Kalau begitu ayo kita kembali. Ngomong-ngomong lingkaran sihir pak Dvergr ditempatkan dimana, apa kau sudah mengetahuinya Orin?”
“Hehehe, untuk itu serahkan saja pada tuan Orin yang hebat ini. Hahaha.” Ucapnya menyombongkan diri. Meiga cukup geram saat melihat lagaknya. Tapi tiba-tiba Zenin mengingatkannya titik keberadaan lingkaran sihir itu. “Kalau tidak salah berada di dataran sekitar sana kan?”
“Oh iya aku ingat Zenin. Ah, kau memang sungguh perhatian Zenin, tidak seperti tuan Orin yang maha hebat ini.” Ucap Meiga sambil berjalan meninggalkan Orin. Saat sibuk menyombongkan dirinya, Orin yang sadar bahwa dia sedang ditinggalkan oleh kedua temannya mulai berlari mengejarnya. “Hoi, tunggu akulah. Kalian ini benar-benar menjengkelkan lo!”
“Kau tidak pantas untuk mengatakannya!” Ucap Meiga dan Zenin secara serempak. Orin hanya tertawa malu dan berusaha mengubah topik pembicaraannya.
Sesampainya di lingkaran sihir Orin mengaktifkannya dengan kekuatan sihir roh miliknya. Saat pelatihan khusus dia berhasil mendapatkan kekuatan roh angin tingkat tinggi yang membuat mana dan kekuatan spiritualnya meningkat pesat. “Ayo berangkat!” Setelah mengucapkan itu, mereka dalam sekejap berpindah ke titik awal mereka saat berangkat yang tidak lain adalah kuil lama.
“Tempat ini, rasanya seperti sangat lama tidak melihatnya.” Ucap Zenin dengan nada mengenang. “Untuk sekarang, bagaimana kalau kiita akan pergi ke kota terlebih dahulu?” Orin menyarankan. Meiga menyetujui usulan itu, dan merekapun pergi ke pusat ibukota. “Zenin, kau bilang ada urusan bukan, bagaimana kalau kita berpisah disini?”
“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Kalian jaga diri baik-baik ya!” Zenin pergi karena urusannya dan meninggalkan mereka berdua dipusat kota. “Kalau begitu, ayo kita mendaftarkan diri di turnamen!” Orin mengikuti ajakan Meiga dan pergi menuju Coloseum.
Tempat itu begitu megah dan difasilitasi dengan beberapa gedung pertempuran. Mereka menuju ke tempat resepsionis untuk mendaftarkan diri. Namun disana ternyata ada sedikit masalah. “Hah, kenapa kami tidak boleh mengikuti turnamen untuk mewakili akademi?” petugas tersebut akhirnya menjelaskan peraturan dan sistem yang ada dalam turnamen.
Saat itu resepsionis tersebut menolak apa yang dikatakan Orin, tapi ada seseorang yang akhirnya pergi mendatangi mereka karena tertarik akan pembicaraan tersebut. Dia ternyata adalah salah satu menteri yang menyelenggarakan turnamen tersebut.
“Tidak masalah jika kau memang memiliki kemampuan tersebut. Karena jika kau tertahan ditingkat seperti ini, maka juga akan merusak keseimbangan turnamen ditingkat ini.” Mereka tidak menyangka kalau beliau ini begitu perhatian. “Terima kasih tuan.” Orin berterimakasih kepada orang itu karena telah memudahkan urusan mereka.
“Kalau begitu tunjukkan arena dan lawan mereka!” Sang menteri memerintahkan resepsionis tersebut. Merekapun dipandu menuju Coloseum saat ini. “Silahkan, ini tempat kalian. Lalu untuk lawan, kalian akan mengetahuinya saat diarena. “He, aku juga bertanding ya ternyata.” Meiga tidak sengaja mengeluarkan isi pikirannya.
Sang resepsionis tertawa kecil. “Nona memang suka bercanda ya?” Meiga tersentak mendengarnya. Dia lupa bahwa dunia luar selalu salah paham akan gendernya dari dulu, dan kali ini dia benar-benar lengah. “Ah, maaf nona. Meski tampangku begini, aku laki-laki lo.” Wajah sang resepsionis tersebut pun memerah karena terpesona dibuatnya.
Merasa bahwa tidak baik untuk melanjutkan pembicaraan tersebut, Meiga pun mengganti topiknya. “Lalu kapan kami bisa segera memulainya?” resepsionis itupun pamit untuk mengatur persiapan mereka. “Hei ola, baru pertama kali bertemu kelihatannya kalian cukup dekat ya?” Orin menggoda.
__ADS_1
Meigapun mendecak kesal karena kebiasaan buruk Orin mulai muncul lagi. “Ckk, pantas kau tidak pernah mendapat pacar.” Kata-kata itu sontak membuat Orin merasa kesal karena Meiga berhasil membalikkan situasi. “Kau, bukankah itu terlalu berlebihan? Ayolah...dasar tidak asik.” Keluhnya.
Ditengah perdebatan mereka, sebuah pengumumanpun dibuat. “Untuk pertandingan kali ini, mari kita saksikan seorang penantang yang akan melawan peringkat pertama turnamen tingkat pertama. Mari kita sambut Orin!”
“Oi, dimulai lo!” Meiga mengingatkan. Mereka berdua akhirnya menghentikan perdebatannya. Orin pergi menuju ke arena. “Lalu mari kita sambut sang peringkat pertama, Rendi!—sorakan penonton begitu meriah melihat jagoannya akan bertanding lagi hari ini—Mari kita saksikan, pertarungan seperti apa yang akan mereka berdua tampilkan hari ini.”
Mereka berdua telah berhadapan didalam arena, wasitpun memulai pertandingan tersebut. “Hoi, baru mendaftar langsung menantangku, bukankah itu terlalu sombong?” Orin tertawa mendengar ocehan Rendi. Dilihat darimanapun
Rendi memang bukanlah tandingannya, bahkan Orin sebelum pelatihan khusus juga pernah bersaing dengan para kelas khusus yang sekarang berada di turnamen tingkat kedua.
Karena tidak ingin basa-basi lagi, dia akhirnya menyuruh Rendi untuk maju. “Jika kau memang kuat, ayo buktikan itu.” Merasa diremehkan, Rendi pun langsung menyerang dengan seluruh kemampuannya untuk menghajar Orin. “Hoi oi, baru mulai sudah menggunakan kekuatan penuh. Sungguh membosankan.”
“Berisik. Terima ini, Angry Blow!” Sebuah skill yang mengumpulkan energi pada satu titik untuk memperkuat efeknya itulah Angry Blow. Namun serangan seperti itu sama sekali tidak ada harganya didepan Orin. “Wind Blade Slash!—ratusan pisau angin dikeluarkan Orin dan menumbangkan Rendi dalam satu serangan—tuh kan, membosankan.”
Sebuah perbedaan besar kekuatan ditunjukkan oleh Orin. Itu membuat para penonton benar-benar terdiam karena tidak mempercayainya. Jagoan yang selama ini mereka dukung telah bersimbah darah dan kehilangan kesadaran ditengah arena, selain itu dia dikalahkan hanya dengan satu serangan.
“Oi oi oi, sungguh pemandangan yang mengerikan. Tak disangka ada perbedaan kekuatan yang sangat besar diantara kedua pihak.” Para anggota medispun bergegas untuk menolong Rendi. Disisi lain sang juri juga mengumumkan pemenang dari pertandingan tersebut. Tentunya para penonton masih tetap merasa aneh dengan pertandingan tersebut.
Suasana itu benar-benar mirip dengan kemunculan Luna di turnamen tingkat kedua waktu itu. Namun kali ini, serangan Orin tidak dihentikan seperti Luna dan membuat lawannya terluka parah. Pertandingan kedua pun diumumkan oleh sang juri. Pesertanya adalah Meiga melawan sang peringkat kedua, Edo.
“Kau bukanlah orang tadi, jadi aku tidak akan kalah dengan menyedihkan seperti orang itu.” Edo menegaskan kepada Meiga. “Tapi kau tetap akan kalah bukan?” Meiga mencoba memprovokasi Edo, namun tak disangka dia lumayan bisa mengendalikan emosinya. “Kalau begitu akan kumulai.” Dan seperti biasa, Meiga membuka pertarungan dengan menyepam lemparan belati yang diciptakan dari skillnya.
Dengan kecepatan yang dimiliki Meiga, serangan tersebut terbilang sangat merepotkan bagi musuhnya. Begitupun pikir Edo saat ini, dia begitu kesulitan untuk menangkis ataupun menghindarinya, tapi dia tetap mencoba untuk bertahan dan tidak gegabah. Sampai saat itu tiba, salah satu dari belati Meiga meledak saat ditangkis oleh Edo.
Saat itu juga dia sadar bahwa sebagian besar dari serangan tersebut hanyalah sebuah tipuan semata. Edo pun mengambil posisi bertahan dengan kekuatan pertahanan yang dimilikinya, namun serangan dari Meiga kali ini sama sekali tak terbendung lagi. Setiap lemparan belati yang tepat sasaran itu semuanya bisa meledak, itupun membuat tubuh Edo menjadi mati rasa karena efek elemen petir.
Tidak lama setelah itu, Edopun akhirnya dibuat tumbang oleh serangan Meiga. Seperti sebelumnya, reaksi penonton juga sangat terheran dibuatnya. Mereka ini pasti bukan orang biasa, itulah yang mereka pikirkan. Namun sebenarnya apa yang ditunjukkan mereka tidak lain hanyalah kemampuan terendahnya.
__ADS_1
Meski menahan diri seperti apapun, mereka tetap akan berakhir seperti itu. Disana Meiga dinyatakan sebagai pemenangnya dan mereka berdua diberi hak khusus untuk langsung masuk ke turnamen tingkat kedua dan menjadi faksi akademi Meeden. Tentunya untuk anggota, mereka akan mencari orang yang dapat direkrut tanpa melewati turnamen tahap pertama.
Saat ini berita tentang mereka mulai menyebar di ibukota. Kejayaan faksi akademi Meeden itu akan muncul karena kembalinya trio abnormal.